Belajar Biologi dari Buku Cerita

Judul buku: The Boy Who Lost His Belly Button
Penulis/Ilustrator: Jeanne Willis and Tony Ross

Buku ini berkisah tentang seorang anak laki-laki yang kehilangan pusarnya. Maka dia pun mencari pusarnya yang hilang itu.
Dalam perjalanannya dia bertemu beberapa binatang, jerapah, singa, gajah dan banyak lagi. Saat si anak laki-laki ini bertanya dengan sopan apakah binatang-binatang tersebut melihat atau meminjam pusarnya, dia diberikan kesempatan mencari sendiri di tubuh binatang-binatang tersebut.
Berhasilkah dia menemukannya?

Temukan jawabannya di sini: http://www.wowio.com/users/product.asp?BookId=5380

Buku ini gratis dibaca online, tampil dalam format seperti versi cetaknya, sehingga lebih menarik untuk dibaca anak-anak. Jika ingin mendownload harganya juga relatif terjangkau: $1.5. (kira2 Rp 16rb)
Ilustrasinya dikerjakan oleh Tony Ross yang memang jempolan mengolah warna. Dengan buku ini, anak2 bisa belajar tentang siapa yang punya pusar dan siapa yang tidak. :) Dan siapakah yang tidak punya pusar ini?

Joel setelah selesai membaca buku ini memberitahu saya.. ,”Iya soalnya si (binatang yang tidak punya pusar itu) kan tidak melahirkan. Dia kan binatang yang bertelur.”

Saya merasa sangat bahagia mendengarnya.. cerita saya tentang pusar, tentang mamalia, reptilia dan lain-lain ternyata masih dia ingat. Indah ya bisa mengajarkan sesuatu yang ternyata tidak sia-sia begini?

Mengelola Cafe, Matematika Dalam Keseharian

Applied Math membuat matematika menjadi hidup.

joel-restoJoel akan mengelola sendiri cafe-nya yang diberi nama Sunshine Noodle Cafe. Dia akan mengambil peran sebagai pelayan dan kasir. Sementara Mama akan menjadi koki, dan Papa mendapat kehormatan menjadi tamu. Jelas dong, pahlawan keluarga kami harus mendapat servis terbaik :)

Sore sebelum Papa pulang kerja, Joel dibantu Mama membuat daftar menu. Menunya hanya dua: mie goreng atau mie rebus, dengan pilihan rasa pedas atau pedas sedang. Waktu membuat menu, jangan lupakan daftar minuman ya.

Inilah yang kami lakukan. Begitu ’sang tamu’ datang, jam 9 malam baru nyampe rumah :(, waiter kecil menyodorkan daftar menu. Tidak lupa dia menanyakan tingkat kepedasan yang diinginkan, coret yang tidak perlu. Setelah itu waiter menyampaikan pesanan ke dapur. Maka koki pun memasakkan makanan yang dipesan - Papa memesan mie kuah malam itu. Kemudian waiter mengantar masakan - hati-hati ya.. mienya panas.

Setelah itu, Joel membuat nota yang sudah disiapkan sebelumnya. Dia harus menulisnya sendiri, dan harus menjumlahkannya sendiri.

Wah, ternyata totalnya empat ribu rupiah! Sedangkan tamunya tidak punya uang pas, punyanya lima ribu rupiah. Berapa yang harus kamu kembalikan, Joel?

Waiter kecil berpikir sejenak. Seribu, katanya agak ragu. Betul, kata Papa. Maka Joel pun memberikan kembaliannya pada Papa. He can keep the money he earnt that day. Good job, Joel!

Terasa menyenangkan sekali malam itu melihat antusiasme Joel. Bahkan dia melarang keras waktu Papanya mau menaruh piring kotor ke tempat cuci piring. “Joel aja!” sergahnya.

Wah.. tidak hanya belajar matematika, malam itu Joel juga belajar melayani orang lain, dalam hal ini adalah Papanya sendiri.

Physical Education alias Olahraga

PE-JoelAnak yang dididik di rumah, atau homeschooler, atau home-ed child, atau apa pun sebutannya, juga punya kesempatan untuk berolahraga tanpa harus dipaksa.

Saya ingat dulu waktu sekolah, saya selalu ingin membolos waktu pelajaran yang namanya senam pagi. Saya juga suka cari-cari alasan supaya tidak usah ikut pelajaran olahraga, tapi tidak selalu berhasil.. hehehe.

Nah, Joel yang kinestethic learner ini dengan bahagianya tanpa harus disuruh dua kali langsung beraksi bak spiderman memanjat atau bergelantungan di bilah-bilah kuning ini.

Fasilitas ini tersedia gratis di taman dekat rumah kami di daerah Gading Serpong.

Beberapa taman yang saya tahu tersedia gratis untuk masyarakat adalah taman-taman di daerah Menteng (taman Surapati dan sejenisnya, taman di BSD Serpong, dan taman di dekat rumah kami ini; sayangnya taman dekat rumah ini diperuntukkan khusus warga - harus menunjukkan kartu identitas warga.

Hap hap hap… panjat panjat panjat. Swing swing swing, ayun tubuhmu.

Tubuh jadi segar, jantung juga kuat.

Keliling Dunia Lewat Geografi

Mempelajari negara-negara lain dan budaya mereka bisa menjadi pengalaman yang menarik untuk anak-anak.

Adanya internet dan buku-buku pendukung, membuat perjalanan keliling dunia tidak harus benar-benar dilakukan di dunia nyata.

Persiapan sebelum berangkat
Jelaskan dulu bahwa jika ingin ke luar negeri, bisa naik pesawat atau kapal laut. Untuk masuk ke negara lain, harus ada ijin dari negara tersebut. Ijin itu disebut visa. Visa ini harus dimasukkan ke dalam paspor. Dengan adanya paspor, petugas dari negara tersebut tahu kita adalah warga negara mana.

Saya memberikan semacam simulasi pada Joel tentang proses yang terjadi di bagian imigrasi Indonesia jika kita ingin pergi ke luar negeri. O ya, Joel memilih naik roket, habis itu ganti lagi naik sapu terbang. :)

Kurikulum
Atur negara-negara yang akan dikunjungi. Rasanya lebih baik jika diatur berdasarkan benua. Kami mengunjungi Asia karena paling dekat dari Indonesia.

Belajar geografi baik sekali jika disertai kegiatan menjurnal seperti notebooking, scrapbooking, lapbooking, dan semacamnya. Kegiatan prakarya yang berhubungan dengan negara tersebut (mis: melipat origami ketika di Jepang) juga lebih memberikan kesan untuk anak. Ketika berada di China, Joel sempat membuat kartu pos yang dia kirimkan untuk adik bayinya.

Kami, karena menggunakan kurikulum tersendiri, ada kegiatan-kegiatan yang cukup menyenangkan buat anak seperti menghubungkan titik, mencari kata tersembunyi, dan lain-lain.

Buku-buku pendukung
Saya membeli satu set buku Perjalanan Wisata dari penerbit Tiga Serangkai. Salesnya sendiri yang mengantar ke rumah dan setelah sedikit nego, saya berhasil memperoleh diskon 25%.. lumayan kan.

Buku ensiklopedi satu ini sangat-sangat direkomendasikan: Children Just Like Me, dari Dorling Kindersley. Buku ini disponsori oleh Unicef. Bagus sekali dan sangat hidup. Walau buku ini berbahasa Inggris, nampaknya Joel bisa memahaminya karena dia bisa menceritakan kembali tentang temannya di pedalaman Amerika Selatan yang tidak bisa bersekolah karena tidak ada sekolah di sana.

Alat bantu
Jangan lupa sediakan atlas, globe, yang bisa dengan mudah diakses oleh anak kapan saja dia ingin tahu di mana letak negara tersebut.

Game geografi juga tersedia di internet. Ada Geo Challenge di Facebook, geography games di KidZui, dan banyak lagi.

Paspor
Jika ada yang membutuhkan paspor Republik Indonesia versi homeschooling kami, silakan download di sini.

Keliling dunia, yuk.

Geografi: Tantangan Geografi

geogamesJoel sering membantu Mama menyelesaikan game Geo Challenge di Facebook, khususnya untuk bendera-bendera dunia… serahkan pada Joel, dia mengingatnya lebih baik daripada mamanya.

Nah.. lihatlah keasikan Joel belajar geografi. Kadang-kadang Chloe juga ikut membantu, bantu liatin atlas di dinding. Hehehe. Lucu sekali.

Benua Afrika adalah benua tersulit buat Mama, karena di situ banyak sekali negara dan negaranya juga namanya aneh-aneh.

Tapi untunglah Joel tidak beranggapan kalau sulit harus dihindari.. justru malah semakin menantang kan, Joel?

Kalau tidak tahu jawabannya, lihat peta atau bawa atlas, jadi bisa jawab dengan mudah.

Game ini Joel temukan sendiri di section educational games pada browser khusus anak KidZui.

Asyik lho belajar geografi itu….

MFW First Grade

Dua kali ke kantor pos untuk menjemput kiriman kurikulum dari Amrik ini.. akhirnya MFW First Grade sampe di rumah.

Agak kesal juga karena harus membayar hampir 400ribu untuk menebusnya.. sigh.. tapi mau bilang apa, walaupun ini dikategorikan sebagai educational material, saya tetap dianggap sebagai importir. O ya, untuk MFW yang Kindergarten, saya hanya bayar 7rb lho. Selisih harganya padahal hanya 40 $.

OK, ini foto set kurikulumnya:

mfw1stgrade

Isinya:
- Teacher’s Manual
- Student Workbook
- Bible Reader by Marie Hazell
- Bible Notebook
- Student Sheets
- tiga buku science dari Usborne (free)

Kesan pertama… melihat banyaknya item, rasanya lebih value for money ketimbang yang Kindergarten dengan selisih harga hanya 40$.

Kesan kedua.. setelah dibaca2 sekilas, wah… dijamin saya sendiri pasti akan belajar banyak dari kurikulum kelas satu ini. Sekali lagi, MFW memang layak dipujiken atas konsistensinya dalam mengintegrasikan The Bible ke dalam materi. Bayangkan, anak akan menggunakan cerita yang diambil dari Alkitab untuk belajar membaca. Marie Hazell menulis ulang cerita Alkitab - dengan porsi 75% untuk Perjanjian Lama- sesuai dengan metode phonic.

Aktivitasnya pun berkisar pada apa yang anak baca. Saya sempat baca sekilas: membuat kalender ala Yahudi, mempraktekkan pelaksanaan Sabat di rumah :), dll. Waks :D

Tidak memulai pelajarannya dari jaman prasejarah, di MFW sejarah diajarkan mengikuti timeline Alkitab, dimulai dari hari pertama penciptaan.

Science didasarkan pada buku2 Usborne, sementara Art menggunakan buku dari Mona Brooke: Drawing with Children. Thank God karena MFW menulis lesson plan untuk penggunaan buku bagus yang sudah saya beli dari tahun lalu ini - kalo enggak agak pusing juga karena masih awam.

Suggested reading listnya sangat menarik, khususnya untuk Math. Asyik sekali belajar Math dengan buku2 cerita; MFW mengadaptasi pendekatan Charlotte Mason. Sayangnya harus mimpi dulu baru bisa mendapatkan buku2 ini, terlalu mahal tentunya kalo harus dibeli satu-satu.

O ya, kecuali buku2 Usborne, semua bahan terbitan MFW adalah hitam putih. Jelas tidak semenarik kurikulum dari provider lain seperti: A Beka, Accelerated Christian Education, etc.

Field Trip with Sekolah Rumah: Istana Negara

Harusnya field trip pertama bersama teman-teman dari milis Sekolah Rumah ini jadi acara yang seru banget… Sayang, acara ini terpaksa kita tinggalkan di tengah penantian tak jelas karena sistem antrian semau gue yang diterapkan oleh pihak Istana.

Sayang sebenernya, tapi tak bijaklah ya jika kita harus memaksa bayi-bayi (baby Kayla & baby Chloe) menunggu di tempat yang tidak nyaman dan panas ini - pekarangan parkir SetNeg.

Baby Kayla - Baby Chloe

Sayang juga karena sudah begitu antusias, berbatik-batik ria, bersepatu tutup dan berbingung-bingung siapin makanan yang bisa tahan lama buat Chloe.

Supaya tidak terlalu kecewa, rencananya kita akan mampir ke Museum Nasional - tapi lagi-lagi harus kecewa karena ga dapat tempat parkir. Masuk aja ga bisa.

Begitulah, mau ngunjungin tempat-tempat bangsa sendiri kok susah gini, sistem antri ga jelas - prosedurnya sangat tergantung dengan mood petugas, serba subyektif. Petugasnya malah ada yang berusaha memasarkan produknya: suvenir istana dengan harga lebih miring.

Karena beberapa istana di negara lain menetapkan tarif tertentu untuk dikunjungi, saya pikir karena gratislah yang menyebabkan antrian super dodol begini. Tapi, bukankah Petronas juga menggratiskan Twin Towernya untuk dikunjungi? Dan, bukankah mereka mengelolanya secara profesional? Ruang tunggu yang nyaman dan yang paling penting: sistem antriannya jelas.

Joel & Evan tempelin visa di paspor Field Trip

 

Sedih juga mengecewakan para pembelajar cilik kami yang ingin mengenal negaranya sendiri. Evan bahkan berkomentar, “Jangan ke sini lagi ya. Jangan ke Istana Negara lagi.”

O ya, kami menunggu dua jam lebih dalam ketidakjelasan.

suasana-setnegMakasih banget untuk teman-teman dari milis Sekolah Rumah yang sudah dengan penuh cinta mengkoordinasi acara ini. Sayang ya negara kita masih perlu banyak berbenah diri.

Tapi saya ga kapok lho. Masih penasaran pengen liat Istana Negara :) Apalagi denger cerita temen-temen Sekolah Rumah yang setia menunggu. Katanya tempatnya asyik dan jauh lebih ramah anak ketimbang tempat tunggunya.

Buat yang pengen baca cerita ngunjungin Istana Negara di Jalan Merdeka, baca di sini.

Tahu tidak ke mana kami akhirnya? Ke Grand Indonesia… hohoho.

Kosakata-kosakata: Joel Jatuh Hati

Dua malam lalu, Joel bilang sama Papa, “Pa, Joel kalo liat tulang ikan, langsung jatuh hati, lho!”

Papa & Mama geli setengah mati mendengar komentarnya.

“Jatuh hati apaan sih, Joel?” tanya Mama.

“Ga tau,” jawab si little boy.

Nah, ini Joel sedang praktek menggunakan kosakata baru yang dia temui di mana-mana. Koran, tivi, majalah, brosur, spanduk, dll. Mama menduga yang Joel maksudkan adalah “ilfil”, bukannya jatuh hati beneran.

Beneran deh, Mama tanya, “Kalo liat tulang ikan Joel jadi seneng banget sama tulang ikannya? Jatuh hati itu artinya sukaaa sekali.”

“O… salah berarti. Bukan. Ralat, deh.”

Maksud Joel ternyata kalo liat tulang ikan dia jadi ga suka. Gitu deh kira-kira. Darimana dia dapatkan kata ini? Hanya Tuhan yang tahu.

ps: sejak mahir baca kosakatanya memang bertambah dengan luar biasa dahsyat dan mencengangkan. Yang agak membingungkan adalah menjelaskan kata: ‘disemayamkan’ yang dia temui di bagian obituari Kompas. Duh.

Most Recent Updates

Januari, kami selesai belajar dengan MFW Kindergarten. Habis itu Mama yang masih bingung mau ngelanjutin dengan bahan apa akhirnya mulai lagi download sana-sini untuk mencari workbook/sheet yang bisa digunakan oleh Joel.

Akhirnya beberapa bulan ini kami belajar apa saja dengan bahan apa saja (baca: seadanya yang ada di rumah). Well, rasanya inilah spirit sejati homeschooler, karena saya lebih suka mengindonesiakan homeschooling sebagai sekolah rumahan ketimbang sekolah rumah. Maksudnya, homeschooling itu sekolah ala rumah, ya apa dan siapa saja yang ada di rumah :).

Joel & MUS

Ini foto Joel yang sedang merapikan balok-balok Math-U-See. Visualiasi membuatnya lebih memahami tentang konsep penjumlahan, pengurangan, dan lain-lain.

Sebenarnya rencana Mama adalah Joel belajar dengan pendekatan geografi, dengan bahan buku ini: Galloping the Globe. Tapi, lagi-lagi terbentur dengan sedikitnya resource yang memadai. Buku2 pendamping sudah ada sebagian di tangan, tapi bahasanya sebagian terlalu ‘tinggi’ buat anak TK.

Ines (+Da Hye) juga telah berbaik hati mengcopikan banya ebook yang bisa digunakan untuk melengkapi. Tapi karena printer bukan punya sendiri jadinya sungkan makenya.. Bentar deh tunggu printer dateng.

So, kegiatan Joel sekarang agak mirip dengan anak sekolah. Belajar Math, English (+reading), Geografi. Kagok juga, tadinya kita kan belajarnya model unit studies, sekarang pake subject-subject gitu rasanya aneh. I miss my MFW style.

Jadi… Mama memutuskan untuk order MFW 1st grade. Menurut berita terakhir, barangnya sudah sampe di Jakarta tanggal 23 Maret kemaren, tapi sampe sekarang kok belum ada kabar dari kantor pos ya? Mmmm.. pasti ketahan di bea cukai ni.

Berikut buku-buku/bahan yang Joel gunakan untuk belajar beberapa bulan ini:

Math: MathUSee Primer, dan Take The Lead Mathematics Ahead K1 dari SAPkids.
Reading: Reading Lesson
Languange Arts (LA): download dari sini, pake buku ini (semuanya Singapore curriculum-based), buku SAP-nya beli di Gramedia.
Geography: Galloping The Globe (diperkaya dengan buanyak sumber gratisan dari internet).

Internet juga jadi salah satu kontributor penting buat belajar Joel. Sampe hari ini kami masih pake jasa IM2 yang unlimited.

Dah, segitu dulu updatenya ya.

Ulah Joel

Siang itu Papa menyalakan komputer dan berseru, “Lho.. passwordnya ganti ya?!”

Mama: “Mmmm.. Enggak kok?”

Papa mencoba lagi dan ditolak oleh komputer. Tentu saja kami punya tersangka, siapa lagi kalo bukan Joel The Boy.

Papa: “Joel ganti passwordnya?”
Joel: “Enggak kok…. (lalu menjelaskan apa yang telah terjadi).”

Jadi begini.. (ehm..) Joel itu hobi sekali mengganti-ganti image user — btw, cara menggantinya dia temukan sendiri, biasanya sih dia pilih salah satu dari yang sudah disediakan oleh WindowsXP. Nah, baru-baru ini dia menemukan bahwa bukan hanya foto/image yang bisa diganti, textnya juga bisa diganti. Maka… Administrator pun berubah lah jadi viani dan hebatnya.. dia bisa mengganti image yang biasanya gambar anjing, basebal menjadi foto dirinya — pasti pake fasilitas browse. Karena sekarang sudah berubah menjadi viani, otomatis urutan usernya turun ke bawah user lain yang urutan abjadnya duluan. Lihat deh gambar di bawah ini.

viani-joel

Dasar Joel.. :) ulahnya emang macem-macem. Sayangnya dia meninggalkan jejak.. yaitu foto dirinya waktu masih imut-imut. Terus nama Viani itu ga jelas juga apa maksudnya, dia bilang ya Viani aja.. gitu.

Btw.. rasanya komputer itu memang self-taught ya. Ga kebayang lho, anak usia 4 1/2 tahun bisa melakukan hal di atas. Dulu dia sudah bikin kami surprise dengan login sendiri, konek internet sendiri, ganti image sendiri dan ini yang terbaru. Hehehehe…