Belajar Biologi dari Buku Cerita
Judul buku: The Boy Who Lost His Belly Button
Penulis/Ilustrator: Jeanne Willis and Tony Ross
Buku ini berkisah tentang seorang anak laki-laki yang kehilangan pusarnya. Maka dia pun mencari pusarnya yang hilang itu.
Dalam perjalanannya dia bertemu beberapa binatang, jerapah, singa, gajah dan banyak lagi. Saat si anak laki-laki ini bertanya dengan sopan apakah binatang-binatang tersebut melihat atau meminjam pusarnya, dia diberikan kesempatan mencari sendiri di tubuh binatang-binatang tersebut.
Berhasilkah dia menemukannya?
Temukan jawabannya di sini: http://www.wowio.com/users/product.asp?BookId=5380
Buku ini gratis dibaca online, tampil dalam format seperti versi cetaknya, sehingga lebih menarik untuk dibaca anak-anak. Jika ingin mendownload harganya juga relatif terjangkau: $1.5. (kira2 Rp 16rb)
Ilustrasinya dikerjakan oleh Tony Ross yang memang jempolan mengolah warna. Dengan buku ini, anak2 bisa belajar tentang siapa yang punya pusar dan siapa yang tidak.
Dan siapakah yang tidak punya pusar ini?
Joel setelah selesai membaca buku ini memberitahu saya.. ,”Iya soalnya si (binatang yang tidak punya pusar itu) kan tidak melahirkan. Dia kan binatang yang bertelur.”
Saya merasa sangat bahagia mendengarnya.. cerita saya tentang pusar, tentang mamalia, reptilia dan lain-lain ternyata masih dia ingat. Indah ya bisa mengajarkan sesuatu yang ternyata tidak sia-sia begini?
Posted: June 20th, 2009 under Reading, the school.
Comments: none


Joel akan mengelola sendiri cafe-nya yang diberi nama Sunshine Noodle Cafe. Dia akan mengambil peran sebagai pelayan dan kasir. Sementara Mama akan menjadi koki, dan Papa mendapat kehormatan menjadi tamu. Jelas dong, pahlawan keluarga kami harus mendapat servis terbaik
Anak yang dididik di rumah, atau homeschooler, atau home-ed child, atau apa pun sebutannya, juga punya kesempatan untuk berolahraga tanpa harus dipaksa.
Joel sering membantu Mama menyelesaikan game Geo Challenge di Facebook, khususnya untuk bendera-bendera dunia… serahkan pada Joel, dia mengingatnya lebih baik daripada mamanya.


Makasih banget untuk teman-teman dari milis Sekolah Rumah yang sudah dengan penuh cinta mengkoordinasi acara ini. Sayang ya negara kita masih perlu banyak berbenah diri.
