Archive for August, 2007

Sudah Waktunya Belanja?

 

Sekarang tentang kurikulum, yang tadinya saya pikir adalah segalanya :D.

Kurikulum ready-to-use memang lebih meringankan beban ortu. Tanpa ini, kita harus mendesain sendiri lesson plannya. Hari ini belajar apa saja, tentang apa, dll, bahan pelajaran pun kerap harus kita cari sendiri. Persis seperti yang saya lakukan saat ini untuk preschool-nya Joel. Tapi, memang ada orang yang lebih memilih mendesain sendiri, karena alasan budget atau karena memang senang melakukannya.

Banyak sekali provider kurikulum homeschool. Memang kebanyakan Christian-based, karena dasar gerakan homeschool ini salah satunya adalah keresahan para ortu kristen di negara-negara maju atas kemunduran nilai-nilai moral dan kristiani di public school di negara mereka. Tetapi setahu saya cukup banyak juga pilihan kurikulum non-Christian. Walau demikian, menurut seorang teman yang muslim, Christian-based curriculum ini bisa dimodifikasi sesuai kepercayaan yang dianut keluarga.

Tadinya saya cuma tahu ACE (atau dikenal juga dengan SOT), karena sekolah punya gereja mengadopsi kurikulum ini, dan kebanyakan praktisi homeschool yang saya kenal menggunakan kurikulum ini. Namun, saya kurang suka dengan tampilannya yang jadul abis. Desain sampul, ilustrasi, semuanya kok terasa tidak kontekstual dengan masa kini. Mendapatkan katalognya juga sulit, dioper-oper ke sana ke sini, akhirnya saya disuruh download versi pdf-nya. Padahal saya minta hardcopynya jadi bisa saya bawa-bawa sambil diskusi dengan suami. Menurut beberapa orang materi sekolah dasarnya agak terlalu ‘gampang’, karena memang penekanannya adalah pada karakter si anak. ACE memiliki jasa sekolah jarak jauh, ortu berkorespondensi dengan lembaga yang mereka tunjuk, lalu ada tes/ulangan dan juga ada rapor dan sertifikat. ACE akan menyimpan hasil pencapaian si murid, seperti layaknya sekolah biasa. Untuk warga Indonesia bisa memilih ACA di Australia, Teach Asia di Singapore, untuk lembaga penyelenggara akreditasi ini. Oh ya, dengan begini, anak dianggap lulusan negara si penyelenggara.

Lalu saya pun mendengar tentang Sonlight. Menarik sekali karena mendapat banyak buku bacaan bagus. Pendekatan mereka adalah literatur seperti yang dianjurkan Charlotte Mason, seorang tokoh pendidik. Pendiri (pemilik) Sonlight mereview banyak buku yang dikirim oleh penerbit ke mereka dan buku-buku ini nanti yang akan mereka rekomendasikan sesuai kelompok usianya. Jika kita membeli kurikulum lengkap dari mereka, buku-buku ini termasuk di dalamnya. Harga kurikulum kindergartennya sekitar Rp 3jt-an, masih lebih murah ketimbang sekolah-sekolah ‘bermutu’ di Gading Serpong.

Harga kurikulum semakin mahal untuk kelas yang lebih tinggi. Sonlight tidak menyediakan jasa akreditasi, karena menurut mereka ortulah yang paling tahu kemampuan si anak, ketimbang review berdasarkan hasil tes.

Ada lagi Abekabook. Konon, sekolah Ipeka menggunakan kurikulum mereka. Kabarnya materi A Beka lebih ‘berat’. A Beka menggunakan sendiri buku-buku terbitan mereka di kurikulum mereka. Abeka juga menyediakan servis akreditasi distance-school.

Masih banyak lagi yang lain, makin banyak mencari makin bingung :). Saya sendiri saat ini memutuskan akan menggunakan kurikulum My Father’s World untuk program Kindergartennya. Sepertinya tidak populer di Indonesia, namun ini yang paling sreg di hati. Berbeda dengan kurikulum2 yang saya sebut di atas, MFW menggunakan model Unit Studies atau tematis, semua pelajaran saling terhubung satu sama lain.

Mengapa saya memilih MFW, akan saya bahas di posting berikut.

Untuk preschool, menurut saya harga kurikulum yang ada terlalu tinggi, itu pun belum tentu cocok. Kebanyakan kurikulum preschool adalah belajar alfabet, bentuk, dan angka, juga dasar-dasar phonic. Untuk semua ini, rasanya kita tidak perlu merogoh kocek sampai jutaan. Maka, saya pun memanfaatkan internet menjadi provider saya. Banyak situs menyediakan resource gratis -lembar kerja, art&craft, aktivitas- untuk homeschooler, termasuk usia preschool. Maka, saya jadi rajin download worksheet, artikel, dan bahan-bahan mengajar lain. Saya juga rajin mengintip buku-buku aktivitas di Gramedia. Kalau sedang ada sale, buku2 terbitan India, Malaysia, Singapore, hampir pasti ada yang masuk kantong belanja saya.

Untuk phonic, saya membeli buku seharga 30-an US $ di sebuah toko online di Singapore, ada free shipping untuk buku ini. Oh ya, saya memilih mengajari Joel membaca dengan basic bahasa Inggris. Lebih sulit dari bahasa Indonesia, tetapi karena nanti dia akan menggunakan kurikulum berbahasa Inggris, setidaknya dia harus bisa membaca dalam bahasa Inggris. Tingkat kesulitannya juga cukup tinggi, karena kami tidak menggunakan bahasa Inggris dalam keseharian. Menyadari hal itu, saya mulai banyak memberikan instruksi-intruksi sederhana berbahasa Inggris. Tingkat pencapaiannya menurut saya cukup baik. Anak-anak memang cepat belajar bahasa. Jika nanti bahasa Inggrisnya berlogat lucu.. ya maklumi saja, kita kan bukan native speaker. :)

The Home(pre)school Begins

Sekarang Joel umur tiga tahun. Hampir semua orang bertanya dia sekolah di mana. Terus terang saya agak risih dengan pertanyaan itu dan capek juga menjawabnya, walaupun kebanyakan pertanyaan itu adalah basa-basi.

Saya dan Pampi dari dulu sudah mempertimbangkan yang namanya homeschool. Maka saya pun mencari berbagai informasi tentang ini, termasuk bergabung dalam milis homeschool. Di rumah pun ada beberapa katalog curriculum provider, semuanya Christian-based dan dari US. Ada yang model sekolah jarak jauh, jadi ortu melakukan korespondensi dengan si sekolah/akademi itu, ada juga yang sepenuhnya dikelola oleh si ortu sendiri, dari record keeping sampai evaluasi. Tentang kurikulum ini akan saya tuliskan di posting berikut.

Awalnya saya masih on-off tekad homeschoolnya. Yang agak saya kuatirkan adalah bisakah saya mengajarinya membaca, menulis. Lalu bagaimana akreditasinya selain juga sedikit masalah kekuatiran sosialisasi. Saya sempat survei ke beberapa playgroup, namun langsung mengurungkan niat begitu melihat suasana sekolah atau mendengar biaya yang mereka pasang. Dengan anak satu, sebenarnya kami bisa saja mengusahakan uang sekolah yang berkisar 500-800 ribu itu (belum termasuk uang pangkal 3jt-12jt sampai lulus TK). Tapi kalau dipikir-pikir, sebanding tidak pengeluaran kita dengan apa yang kita dapat. Lagipula saya tidak mau Joel dijejali pelajaran-pelajaran yang tidak perlu di usia bermainnya ini.

Pertengahan Juli lalu, saya memantapkan tekad, memulai home(pre)school ini dengan lebih teratur. Tadinya kami tidak punya waktu belajar tetap. Tujuan waktu belajar terjadwal ini tidak lain hanya agar Joel mengerti tentang rutinitas. Di luar jam belajar tetapnya ini, tentu saja dia boleh belajar kapan saja. Harap diingat, anak preschool itu hidupnya adalah untuk belajar, dia belajar apa saja, kapan saja, di mana saja.

Saya menggunakan buku Slow & Steady Get Me Ready (Grasindo), buku-buku aktivitas terbitan Grasindo lain yang saya beli pas sale; bahan pengenalan matematika dari US Education Dept - untuk preschool tentu; lembar kerja gratisan (tinggal print) dari beberapa situs. Beberapa di antaranya: firstschool, AtoZ Kids Stuff dan banyak lagi. Saya juga download beberapa lesson plan, Core Knowledge dan Fun Lesson Plans; ini beberapa yang saya jadikan acuan. Tidak lupa saya cari Bible activities juga, kebanyakan gambar-gambar untuk diwarnai. Juga beberapa minibook untuk dijadikan bahan bacaan.

Itu hanya beberapa yang saya pakai. Memang agak repot, mencari, mengumpulkan, mensortir, mencetak, mengemasnya supaya lebih cantik, tapi sejauh ini saya nikmati kerepotan ini. Menjadi seorang ibu dan pendidik tentunya harus mau repot, kan bukan single lagi. :)

Setelah berjalan beberapa waktu ini, rasanya saya tidak akan mundur lagi. Joel yang aktif ini, terlihat sangat menikmati learning-with-mommy ini. Dia berdoa sebelum waktu rutin dimulai. Lalu dengan semangat mengerjakan ‘tugas-tugas’nya. Saya melihat perkembangan yang sangat berarti buat saya. Dia mulai membaca, juga sekarang sudah bisa menulis namanya sendiri. Siapa yang mengajar? Mama. Ternyata selain mewarnai dan menyanyi (yg saya lebih PeDe ngajarnya) saya bisa mengajar Joel baca, bisa mengajar Joel menulis. Bukan apa yang dia capai yang terpenting, tapi perkembangannya itu yang menambah ke-PeDe-an saya. Whoa, now I know what a mom can do :d. Dengan confident saya bisa bilang, home is the place to nurture this young mind.