Archive for September, 2007

Arti Homeschool Buat Saya

Seperti yang saya ceritakan di posting2 awal, saya memang sempat on-off-on-off dalam kepastian menghomeschool Joel. Namun setelah dijalani, benar kata teman saya, ada kasih karunia.

Tipe tidak sabaran? Tidak punya latar belakang pengajar? Takut anak kekurangan sosialisasi? dan alasan-alasan lain biasanya jadi dasar keraguannya.

Sebuah pertanyaan menjadi bahan perenungan saya. Mengapa orang yang sama, yang mengajar anak kita berdiri, tepuk tangan, toilet training, memegang sendok, harus meragukan kemampuannya untuk mengajar anaknya sendiri?

Guru, sehebat apa pun dia, tetap orang luar. Dia tidak berada di dalam rumah, sehingga dia tidak punya perspektif yang sama dengan kita. Saya tidak bilang sekolah itu buruk, tapi, maksud saya di sini homeschool pun tidak kalah kualitasnya. Apalagi si pendidik (biasanya ibu) pasti punya hati untuk memberi yang terbaik buat anaknya, dan nilai tambah lain, ibu bisa menyesuaikan gaya belajar anaknya tanpa mengganggu kepentingan umum.

Jika masalah akademis yang kita takutkan.. ada begitu banyak kurikulum di luar sana yang membuat kita bisa jadi ‘guru’. Pegangan ortu ini sangat akan sangat membantu, karena biasanya sudah ada lembar jawabannya. Nah, masalah bagaimana caranya anak menemukan sendiri jawabannya, itu yang jadi tantangan.

Pernah tidak mengalami saat kita sudah sedewasa ini, ketika kita punya sebuah pertanyaan yang tak terjawab dan kita mencoba mencari tahu. Seperti saya jika ada kata yang tidak saya mengerti, saya akan panggil Mr. Google, atau tanya2 orang. Itulah yang disebut proses menemukan jawaban. Itu, yang ingin saya ajarkan kepada anak saya.. punyalah rasa ingin tahu, dan mama akan bantu kamu mencari jawabannya dengan menyediakan fasilitas2 spt buku, internet, dll. Si mama sendiri tentu harus tak henti2nya memperkaya diri agar tidak ketinggalan dengan anaknya. :)

Homeschool selain membuat saya tambah ‘pintar’, membuat Joel bisa tetap mengajukan 101 pertanyaan, bisa main dengan mobil2annya, bisa istirahat jika capek, bisa lari sana lari sini sambil bawa pensil warnanya, dst.

Hubungan Antara Membaca dan Menulis

tulisantangan

Membaca dan menulis ternyata memang sangat berkaitan erat. Saya buktikan teori ini pada Joel. Dari bayi kami sudah perkenalkan dia dengan buku. Lalu, saat dia sudah menguasai alfabet, saya mulai masuk dengan phonic - belajar baca lewat bunyi huruf.

Setelah bisa membaca (atau mengenali) beberapa kata, dia mulai ingin menirukannya lewat tulisan. Yang paling pertama saya ajari adalah mengenali namanya sendiri: Joel. Kemudian, papa, mama, opa, oma, pokoknya yang gampang-gampang. Lalu masuk ke nama-nama kesukaannya yaitu nama dan merk mobil, ia belajar menulis Toyota, Nissan, dll. Sedikit tips, untuk membuat anak lebih pede, dia bisa diajarkan ‘menulis’ di komputer. Ketika dia bisa memunculkan kata itu di layar komputer, tentu si anak akan merasa bangga, dan jadi lebih pede lagi.

Hanya butuh waktu beberapa hari saja, Joel bisa menulis namanya sendiri. Atas inisiatifnya sendiri. Huruf ‘e’-nya masih jauh dari sempurna, tapi tentunya usaha ini harus kita hargai, apalagi atas inisiatif sendiri. Lalu saya melatihnya untuk huruf e, kini dia bisa menulis namanya dengan baik dan cukup rapi.

Setelah mulai menulis, saya temukan terjadi peningkatan yang luar biasa dalam kemampuan membacanya. Kalau menurut teori yang saya baca, menulis membantu otak si kecil untuk encoding-decoding tulisan. Joel bahkan hari-hari ini tergila-gila menulis. Lalu apakah akan saya cegah? Tentu tidak, dia bebas menulis kapan saja di mana saja, asal di kertas. Jangan lupa melatih anak bertanya dulu, apakah kertas itu boleh dia pakai. Joel kami latih dari usia dini untuk tidak mencoreti benda selain kertas. Batasan ini sangat membantu kami ketika anak mulai senang menulis.

Sekali lagi saya ingatkan, jangan pernah memaksa anak. Jangan berambisi menjadikan anak kita anak ‘jenius’ yang bisa apa-apa lebih dulu dibanding teman seusianya. Ketika dewasa, kehebatan ini tidak akan berarti apa-apa. :)

Belajar Lagi

Salah satu manfaat homeschool bagi si pendidik (atau home educator) adalah dia bisa belajar lagi.

Setelah lama tamat dari sekolah, banyak sekali pelajaran yang sudah saya lupakan, dan otak jadi mulai tumpul. Nah, benar juga kata Andrias Harefa , STTB itu benar-benar sebuah kutukan. Kutukan untuk tamat belajar :D

Saat lulus dari sekolahnya, pelajar-pelajar kita punya tradisi meluapkan sukacitanya dengan corat-coret seragam. Beberapa mungkin lega luar biasa karena tidak perlu belajar lagi. Seperti saya, yang luar biasa senangnya tidak perlu menghapal rumus-rumus kimia. I hate chemistry, till now.

Juga ketika dinyatakan lulus sebagai sarjana komputer dari sebuah universitas di Jakarta… Bahagianya tidak bertemu pelajaran-pelajaran nan rumit yang bikin otak saya melilit.

Lucu ya kalau dipikir-pikir. Kita kan bayar untuk sekolah dan biayanya tidak sedikit. Tapi, walau tidak merasa senang dengan apa yang kita beli, dan tidak semuanya bermanfaat, kita tidak berbuat apa-apa selain menjalani dengan terpaksa. Mungkin karena selembar kertas bernama sertifikat, ya si STTB itu.

Back to topic :D, toh tidak akan mengubah apa-apa dengan mengeluh seperti ini.

Untuk mengajar Joel hal-hal dasar, saya mengunjungi banyak situs. Luar biasa, ternyata sangat banyak resource di dunia maya ini. Yang gratis pun tak terkira banyaknya. Tugas saya hanya mengumpulkan dan memilah-milahnya.

Yang pertama, membaca. Saya bukan jenis orangtua yang ingin anaknya bisa ini bisa itu di usia muda. Tapi, hendaknya kita juga bijak mengenali kebutuhan anak kita. Untuk kasus saya, Joel sudah sangat mature untuk diajari membaca. Dari usia dua tahun dia sudah hapal alfabet, dan sangat ingin membaca semua tulisan yang dia lihat, khususnya yang berhubungan dengan mobil.

Saya pun googling bagaimana mengajar anak membaca dengan metode phonic. Sempat takut dan gentar. Mengajar membaca apalagi bahasa Inggris, jelas bukan pekerjaan mudah. Apalagi untuk orang yang tidak punya latar belakang mengajar seperti saya. O ya, alasan saya mengajarnya membaca dalam bahasa Inggris karena nanti saya akan menggunakan kurikulum berbahasa Inggris, jadi Joel setidaknya harus bisa bahasa Inggris pasif. Butuh usaha dari saya.

Kedua, matematika. Jangan bayangkan matematika yang susah-susah ya. Yang dimaksud matematika untuk anak playgroup/preschool itu adalah konsep matematika sederhana. Membandingkan, berhitung dalam urutan, berhitung mundur, menghitung jumlah, sampai penjumlahan sederhana.

Ketiga, mencari aktivitas yang menyenangkan dan dapat menstimulasi si preschooler . Untuk membuatnya sibuk, berarti saya harus mempelajari tahap-tahap perkembangan si anak, sejauh mana motorik kasar, motorik halus, mental dan intelektualnya telah berkembang.

Lihat, saya belajar banyak hal yang tidak saya ketahui sebelum ini. Menjadi ibu yang ada di rumah (baca: Ibu Rumah Tangga) tidak berarti kita jadi orang yang terhenti pengetahuannya kan? Justru sekarang saya punya kesempatan belajar yang buanyak. Jika dulu hanya bisa baca headline dan beberapa artikel pilihan, sekarang saya bisa baca koran sampai habis, termasuk cerita bersambungnya, hehehe. Pendek kata, saya terus memperkaya diri tiap hari.

Anak usia preschool sedang mengembangkan kecintaannya akan belajar, mereka menyerap hal baru setiap saat, dan sangat bergairah olehnya. Tugas saya adalah tidak mematikan hasrat belajarnya ini, salah satunya dengan mengakomodasi semua pertanyaan yang aneh-aneh.

Harapan saya, Joel akan terus ’suka’ belajar, tidak seperti saya dulu yang belajar hanya kalau ada ulangan. Dan, rumah adalah tempat terbaik untuk memulai kecintaan akan belajar ini.

My Father’s World The Curriculum

Brand: My Father’s World

Creator: David & Marie Hazell - mereka adalah misionaris, pernah tinggal lama di Rusia

Metode: Menggabungkan Charlotte Mason dan sistem pendidikan klasik dari sudut pandang Alkitab (Kristen).

Akreditasi: Tidak

Biasa disingkat MFW. Webnya bisa diakses di sini. Merupakan unit studies, sehingga bisa dipakai bersama-sama oleh anak dengan usia berbeda (multi-age).

Perjumpaan saya dengan MFW adalah karena saya tertarik dengan kurikulum Sonlight, namun harganya sangat memberatkan kantong. Lagipula buku-buku yang disertakan Sonlight ini sangat banyak, saya pasti akan kebingungan menaruhnya di mana. MFW punya pendekatan yang mirip Sonlight (literatur), tapi tidak perlu membeli bukunya, manfaatkan saja perpustakaan, yang sayangnya di Indonesia jauh dari memadai.

Yang saya sukai dari kurikulum ini adalah, mengajarkan anak untuk berwawasan dunia. Walaupun belum pernah melihat dan memegang bahan-bahan pelajarannya, tapi dari forum diskusi yang ada di situs MFW, saya bisa menarik kesimpulan itu. Saya ingin anak saya belajar tentang hati misi lewat MFW. Sebagian keuntungan diberikan untuk pekerjaan Tuhan di Rusia.

Programnya juga diberi nama berbau petualangan, kelas 2-8: Adventures in MFW, yang dibagi lagi menjadi Exploring Countries and Cultures, Creation to the Greeks, dst.

Harganya terjangkau. Untuk Preschool, enam mainan edukatif mereka tawarkan dengan harga $90. Untuk Kindergarten, cukup mengeluarkan S $105 untuk student material, teacher’s manual dan materi pendukungnya. Saya berencana untuk membeli kurikulum K ini tahun depan, waktu Joel usia 4, walau pasangan Hazell menyarankan foreign children menggunakan K pada usia 5 tahun.

Khusus matematika, mulai kelas 2 SD, mereka menyarankan Singapore Math. Di bawah usia itu, MFW menyediakan sendiri kurikulum matematikanya.

Buku-buku bacaan yang mereka sarankan bersifat optional. Saya sudah menanyakan ke mereka, jika memang fasilitas perpus sulit, bahan dari mereka sudah memadai.

Pembayaran bisa dilakukan dengan kartu kredit (belum bisa Pay-pal). Ongkos kirim ke Indonesia adalah 25% dari harga produk.