Preschool/Playgroup: Perlukah? (Versi Kontra)
Di Asia, Indonesia khususnya (karena saya tinggal di sini) memasukkan anak sedini mungkin ke sekolah dianggap sebagai solusi terbaik agar anak bisa ‘belajar’ dari dunia luar. Saya bahkan kenal beberapa orang yang menyekolahkan bayinya yang bahkan belum lancar merangkak. Motivasi para orangtua ini macam-macam,
1. Daripada ditinggal sama pembantu, lebih baik mendapat ‘pendidikan’ atau main dengan terarah di lembaga-lembaga yang biasanya menetapkan tarif tidak murah.
2. Anak perlu bersosialisasi, bergaul dengan teman seusianya/
3. Merasa anaknya berbakat, lebih cerdas dari rata-rata usianya. Sepertinya semua orangtua merasa anaknya berbakat, bukan?
3. Ingin anaknya pintar, cepat berbahasa Inggris, Mandarin, dll.
Ketiga alasan yang disebut di atas ini, kemungkinan disebabkan karena dua faktor, orangtua tidak punya cukup waktu - bekerja misalnya, atau orangtua tidak cukup percaya diri mengajar anaknya.
Sebuah situs web di AS; dengan cukup radikal mengemukakan beberapa alasan mengapa seharusnya kita tidak perlu mengirim anak kita ke Preschool/Playgroup (PG)/Kelompok Bermain (KB). Komentar saya dalam cetak miring.
1. Ketidakkonsistenan dalam penerapan disiplin. Anak akan terbelah antara sekolah dan rumah. Disiplin dilakukan sekolah biasanya agar tidak terjadi kericuhan, semua senang, semua tenang - paling tidak untuk sementara waktu. Sementara disiplin di rumah dilakukan ortu untuk membentuk kepribadian si anak. Kecuali semua peraturan di sekolah sama persis dengan di rumah.
2. Merenggangkan ikatan emosional ortu-anak. Anak-anak butuh mengekpresikan dirinya secara verbal dalam hubungan satu-satu, dengan orang yang tulus mengasihi dirinya, yang memang berminat betul padanya - siapa lagi kalau bukan ortunya. Lebih baik ia mendapat pujian, peluk, cium dari ortunya bukan? Di sekolah biasanya ada anak emas. Yang sikapnya manis, rajin, dan good-looking (ini beneran lho!) pasti mendapat perhatian khusus dari guru, juga mereka yang ekstra aktif. Lalu bagaimana dengan model anak yang biasa-biasa saja? Apakah mereka lantas tidak dapat perhatian dari gurunya?
3. Merenggangkan hubungan antar saudara.
Nanti, waktu si anak sudah besar, kecil kemungkinan ia masih mengingat teman2 preschoolnya. Namun, hubungan saudara ini kekal. Kakak dan adiklah orang2 terdekat yang bisa memberikan pertolongan saat ada masalah. Familiar kan? Setiap kali ada masalah, kita lebih cari teman ketimbang ortu n saudara, karena hubungan ini tidak terbangun. Tapi, bagaimana dengan anak tunggal ya?
4. Tekad ibu untuk mendidik, mengajar anaknya sendiri bisa terdistorsi, bahkan untuk yang mau homeschool sekalipun. Dengan kepergian anak selama beberapa jam, ibu yang ada di rumah akan menganggur, dan mungkin akhirnya kembali bekerja. Lalu, ia mendapati anaknya sudah terlatih pipis sendiri, sudah kenal warna, angka, huruf, bahkan membaca. Betapa ringannya tugasnya sekarang… Padahal di sini lain, ibu jadi kehilangan keyakinan bahwa ia bisa mengajarkan hal2 dasar ini pada anaknya. Setelah mengajar sendiri anak saya, dan dia sekarang sudah mulai membaca kata2 pendek (2 suku kata) saya jadi pede sekali. Ternyata, tidak perlu sekolah guru untuk itu ya.
6. Anak yang masih kecil akan terekspos dengan sikap destruktif anak lain. Bahkan di sekolah berbasis agama, Kristen sekali pun, ada anak yang di rumahnya bebas menonton TV, terekspos dengan pornografi, biasa mendengarkan makian, dan hal2 lain yang kita tidak ingin anak kita tahu pada usia sedini ini. Saya pernah mendengar anak berusia 2-3 tahun berkata pada temannya, “Ada hantu. Hiyyy..”
Apa pendapat anda jika anak anda kemudian beberapa malam bermimpi buruk, ketakutani? Atau suatu hari anak KB anda berkata, “Sialan Mami! Bego Mami! atau lebih parah lagi: Mami, f*ck you.”
Sayang bukan, padahal kita sudah berusaha menciptakan lingkungan yang positif untuk anak kita. Tidakkah terlalu dini baginya, dia baru berumur errr… dua atau tiga tahun?
7. Sekolah memberikan diagnosis tidak akurat. Tiba-tiba sekarang banyak anak yang dicap ADHD dan berbagai label masa kini. KB bersama para pakar pendidikan memposisikan diri sebagai pihak yang berhak menghakimi anak anda. Lebih baik berikan dia dukungan emosional, kasih tak bersyarat. Jika anda punya bayi, batita, balita, andalah homeschooler. Proses ini sudah dimulai ketika bayi lahir dan akan terus berlanjut. Anda yang mengajarkan si bayi bernyanyi, membaca buku untuknya, bermain dengannya bukan? Atau… orang lain?
Tidak adil jika tidak memberikan versi pro-nya. Akan saya teruskan di posting berikut.
Posted: December 10th, 2007 under It's a spirit!.
Comments: none


Write a comment