Archive for January, 2008

Mengisi Hari-hari si Preschooler

Beberapa kali saya ditanya tentang bagaimana memulai homeschool. Dan, bagaimana untuk preschooler?

Kalau saya, pertama saya google semua informasi yang bisa saya dapatkan dari net. Lalu saya juga menghubungi para provider kurikulum meminta dikirimi katalog2 gratis. Setelah itu saya pelajari satu per satu sambil mencocokkan dengan budget.

Untuk preschool sebenarnya banyak bahan gratis di internet, bahkan untuk tingkat yang lebih tinggi sekali pun. Sebelumnya ortu harus tahu parameter/scope & sequence/skill list untuk anak2 usia ini. Tapi, tentu saja tiap anak berbeda, parameter itu hanya jadi semacam panduan. Daftar kemampuan apa saja yang sudah harus dicapai anak ini bisa didapat antara lain di buku yang memuat daftar : Slow and Steady Get Me Ready, terbitan Primamedia Pustaka (grup Gramedia), atau di internet, banyak kok.

Sebelum mulai menggunakan kurikulum jadi (tidak perlu bikin lesson plan, ada teacher manualnya), saya bisa menghabiskan waktu sampai 3-4 jam tiap malam, mencari bahan-bahan gratisan. Masukkan keyword ini di Google untuk mencari: (free) printable worksheet. Situs2 yang sering saya kunjungi:
- http://www.enchantedlearning.com/
- http://www.kidzone.ws/
- http://www.abcteach.com/
- http://www.tlsbooks.com/
dan banyak lagi…. silakan klik sendiri, aaand… have fun :)

Atau kalau ada budget, boleh juga beli buku2 lembar kerja yang banyak tersedia di toko buku. Saya punya beberapa dari Grasindo. Erlangga for Kids kayaknya juga lumayan, tapi harganya tidak murah :)

Dua situs di bawah ini menyediakan kurikulum gratis yang cukup lengkap. Tentunya usaha yang diperlukan lebih besar ketimbang yang berbayar. Paling tidak kita harus keluar kertas dan tinta printer sendiri.
1. http://www.letteroftheweek.com/
dibagi 5 kategori, dari Nursery - Primary :)
2. http://www.hubbardscupboard.org/
early childhood education - dari infant - kindergarten

Mau beli kurikulum tapi budget terbatas?
Di http://www.shirleys-preschool-activities.com/, seorang ibu bernama Shirley Erwee asal Afrika Selatan merancang sendiri kurikulum preschool ini, bisa dibeli dalam bentuk digital (ebook) US$22.00, atau cetakan (harga sama + ongkos kirim). Di webnya ada juga bbrp bahan yg bisa didownload gratis.

Ide ini mungkin bisa ditiru, patungan membeli kurikulum preschool lalu memperbanyaknya dengan fotokopi/scanner.

Untuk anak yang suka pelajaran interaktif, ada sebuah kurikulum online - menggunakan internet- dengan biaya terjangkau, http://www.time4learning.com/, mulai dari preschool, biaya $19.95 /bulan dengan tambahan biaya internet tentunya.

FYI, web satu ini juga memuat informasi yang cukup komprehensif untuk yang ingin memulai homeschool bersama anak-anak usia dini: http://www.early-years-homeschool.com, milik Indira Genowati, orang Indonesia yang tinggal di Amrik dan menghomeschool anaknya yang masih kecil2.

Semoga bermanfaat.

Creation Project

Habis liburan panjang ke Jawa Tengah (Salatiga-Solo-Yogya), akhirnya kembalilah kita ke Gading Serpong, ke rumah tercinta.

Sekarang, kurikulum MFW-nya sudah bisa dipakai. Sebelum libur, saya sudah mempersiapkan bahan/materi untuk proyek pertama.

Sebagai pendahuluan atas ke-26 pelajaran lain, MFW Kindergarten ini mengajak belajar tentang Penciptaan (Creation) yang diambil dari .. Alkitab (satu-satunya sumber yang kami percaya, hehehe). Jadi, selama 7 hari kami melakukan kegiatan yang berhubungan dengan itu.

Yang hendak dicapai dalam pelajaran ini adalah konsep urutan: pertama, kedua, ketiga, dst. Ada pelajaran membaca juga, yaitu pengenalan alfabet, yang dilakukan sambil menyanyikan lagu ABC dan game sederhana.

Sayangnya hari ke-2 Joel sudah bosan dengan pelajaran ABC-nya.. karena dia sudah bisa membaca sambil mengeja (phonic). Jadinya, kami hanya menuntaskan Creation Project saja, membuat poster dan buku.

Materi:
- Alkitab, saya tambahkan juga dari Kabar Ceria terbitan LAI yang penuh dengan ilustrasi dan bahasa Indonesia yang mudah dimengerti anak-anak
- kertas HVS - lebih tebal lebih baik
- kertas asturo
- kertas bufallo warna warni
- kertas origami warna warni
- gunting, lem
- pensil warna

poster-creation-projectTugas anak menggunting angka-angka di lembar kerja dan mewarnai gambar2 di dalamnya. Lalu menempelnya di sebuah kertas.

Hari ke-7 kosong, karena Tuhan selesai mencipta dan beristirahat pada hari itu. Joel sangat terkesan dengan hari ke-7 yang kosong ini, dia selalu mengulang-ulang, “Tuhan kasih tahu, kita harus istirahat.”

book-creation-project

Waktunya berkreasi bebas. Tiap hari satu karya seni ini dibuat :) Selesai berkarya, diberi caption. Nanti ke-7 gambar ini dijilid, dibuat semacam buku. Saya sangat excited dan antusias menyiapkan gambar2 untuk ditempel ini. Menyenangkan juga bekerja dengan tangan lagi, maklum selama ini selalu bekerja dengan komputer :)

Saya juga jadi hafal urutan2 penciptaan. Hehehe…

Free Planner

Sebuah planner/organizer akan sangat membantu buat ortu dalam menjalankan homeschool.

Jika kita meng-google kata: “calendar generator”, seabrek pilihan akan muncul. Dari yang benar-benar gratis (langsung keluar 12 bulan sekaligus) atau yang gratisnya untuk bulan itu saja.

Ada tiga link yang saya coba:
1. Incompetech –> totally free, file PDF, bisa tampilkan urutan minggu dan urutan hari, ada credit title di bawah
2. Calendars That Work –> gratis terbatas, file DOC, event2 bisa dikustomisasi
3. Somacon –> free, file PDF, bisa kasih event juga

Homeschool, Mengapa?

Homeschool memang lagi booming. (Maaf, saya belum menemukan padanan yang paling tepat untuk kata homeschool, jadi untuk sementara kita anggap saja itu kata serapan ya).

Di mana-mana orang ramai membicarakannya. Di media massa mulai banyak diangkat topik ini. Apalagi dengan banyaknya para pesohor (baca: selebriti/selebritas) usia sekolah yang mengambil langkah ini agar sementara berkarir, sekolah jalan terus.

Seminar ini dan itu juga digelar. Kadang bahkan mematok harga yang cukup tinggi untuk sebuah topik semisal: “Peran Orangtua dalam Pendidikan”, yang menurut saya harusnya semua orangtua bisa dapatkan informasi ini tanpa harus bayar mahal.

Lembaga-lembaga penyelenggara homeschool juga mulai bermunculan. Tak heran jika ini dilirik sebagai peluang bisnis. Ada lembaga yang mematok biaya tertentu, uang pangkal, lengkap dengan absen, ujian, tak ada bedanya dengan sekolah biasa. Sehingga saya sendiri mulai bingung, apalagi orang-orang yang baru mau menjajaki homeschool.

Bagi saya, homeschool adalah sebuah pilihan pribadi, yang harusnya adalah keputusan pribadi tanpa terpengaruh pihak luar. Homeschool yang saya jalani saat ini adalah menyediakan diri mengakomodasi kebutuhan anak saya untuk belajar dan terus belajar hal yang baru.

Sebenarnya, proses homeschool sudah dimulai dari bayi. Bernyanyi buat dia, membacakan teks kitab suci, mengajari makan, berjalan, pipis di toilet sampai sukses tidak mengompol adalah ‘pelajaran’ awal dalam hidup si anak. Lalu proses itu berlanjut.

Jika sebagian besar orangtua mengirim anaknya ke sekolah untuk proses lanjutan, ada sebagian kecil yang memilih tetap menjadikan rumah sebagai basis belajar, walau tidak berarti lingkungannya hanya terbatas di rumah. Itulah sebabnya istilah sekolah rumah kurang tepat menggambarkan tentang homeschool.

Sekarang mari bicara dari sisi pandang konsumen. Di jaman ini konsumen mulai mengadakan riset sebelum membeli barang, misal dengan membaca review, tidak percaya begitu saja dengan produser.

Begitu juga saya, ketika belum mantap dengan homeschool, saya mencari sekolah terbaik, yang paling cocok dengan saya. Belum, sampai hari ini belum ada yang benar-benar sreg di hati. Sekolah alam pun yang paling dekat dengan pilihan saya, masih terasa mengganjal karena ada perbedaan prinsip. Sekolah yang agak mendekati prinsip saya, mematok harga yang bikin mata melotot. Lalu, sebagai konsumen, saya putuskan “mengusahakan sendiri”. Ibaratnya, orang yang memilih memasak rendang dengan bumbu bikinan sendiri ketimbang beli jadi atau pakai bumbu instan. Repot, ya, bisa salah, ya, puas, ya.

Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah salah satu cita pendiri republik ini. Jika saya belum dapat sekolah yang ideal, boleh kan saya buat sendiri dengan usaha sendiri? Menghabiskan berjam-jam di depan komputer, berusaha memperkaya diri dengan pengetahuan baru. Nongkrong di toko buku sambil membawa anak tiga tahun yang tidak bisa diam tanya ini tanya itu di setiap buku yang dia baca…. Saya belajar, dia belajar. Kami berdua (bertiga dengan bapaknya, berempat dengan adiknya) terus belajar.

Mmmm… sudah tahu kalau tidak semua ular bertelur? ;)

DIY - Book for Readers (Bikin Buku Sendiri)

Kurikulum yang saya pakai menggunakan metode Charlotte Masson, yang menggunakan buku beneran, bukan buku teks. Untuk itu mereka memberikan daftar bacaan yang bisa dengan mudah diakses oleh warga negara maju di perpustakaan tanpa mengeluarkan biaya tambahan (sudah dicover oleh pajak kan?).

Namun, bagi warga negara republik ini mendapatkan buku2 ini (berbahasa Inggris) jelas bukan pekerjaan yang mudah dan murah. Seperti kita tahu perpustakaan umum tidak mudah dijangkau, kelengkapan koleksi bacaan untuk anak usia dini juga agak saya ragukan. Selain itu saya juga agak ragu tempatnya bersahabat untuk anak-anak kecil.

Lalu saya mencoba mencari versi bekasnya lewat eBay. Tapi kemudian saya menyerah, karena buku2 tersebut harganya memang sangat murah tapi ongkos kirimnya luar biasa, dan tidak berada di satu tangan. Seandainya saja ada satu sumber yang menjual semuanya:)

Kemudian saya teringat sebuah project bernama gutenberg. Di sini kita bisa download buku-buku yang masa copyrightnya sudah habis di US, biasanya buku-buku klasik. Buku-buku karya Beatrix Potter misalnya. Saya mendownload semua dari Mrs Potter. Sayangnya mereka tidak menyediakan format PDF, hanya ada versi txt dan html. Saya memilih yang HTML, dan membuat sendiri versi PDFnya.

Misalnya untuk buku The Tale of Peter Rabbit:
1. Buka yang formatnya html dengan size 40KB. Halaman browser akan membuka file ini lengkap dengan gambar2nya. Bisa langsung disimpan atau diprint. Kalau saya memilih menyimpannya dalam bentuk PDF. Untuk ini harus punya PDF converter. Saya menggunakan Primo PDF, gratis.
2. Simpan dalam bentuk PDF. Dari browser pilih File-Print, ubah pilihan printer menjadi Primo PDF.
3. Kalau mau mengubah layoutnya agar sesuai dengan keinginan, gunakan Microsoft Word atau software untuk melayout buku. Saya sendiri menggunakan Adobe InDesign. Setelah selesai proses pewajahannya (layout), tinggal cetak. InDesign memungkinkan saya mencetaknya dalam bentuk bundel.
4. Buku selesai, tinggal dijilid sesuai keinginan.

Semoga bermanfaat