Homeschool, Mengapa?
Homeschool memang lagi booming. (Maaf, saya belum menemukan padanan yang paling tepat untuk kata homeschool, jadi untuk sementara kita anggap saja itu kata serapan ya).
Di mana-mana orang ramai membicarakannya. Di media massa mulai banyak diangkat topik ini. Apalagi dengan banyaknya para pesohor (baca: selebriti/selebritas) usia sekolah yang mengambil langkah ini agar sementara berkarir, sekolah jalan terus.
Seminar ini dan itu juga digelar. Kadang bahkan mematok harga yang cukup tinggi untuk sebuah topik semisal: “Peran Orangtua dalam Pendidikan”, yang menurut saya harusnya semua orangtua bisa dapatkan informasi ini tanpa harus bayar mahal.
Lembaga-lembaga penyelenggara homeschool juga mulai bermunculan. Tak heran jika ini dilirik sebagai peluang bisnis. Ada lembaga yang mematok biaya tertentu, uang pangkal, lengkap dengan absen, ujian, tak ada bedanya dengan sekolah biasa. Sehingga saya sendiri mulai bingung, apalagi orang-orang yang baru mau menjajaki homeschool.
Bagi saya, homeschool adalah sebuah pilihan pribadi, yang harusnya adalah keputusan pribadi tanpa terpengaruh pihak luar. Homeschool yang saya jalani saat ini adalah menyediakan diri mengakomodasi kebutuhan anak saya untuk belajar dan terus belajar hal yang baru.
Sebenarnya, proses homeschool sudah dimulai dari bayi. Bernyanyi buat dia, membacakan teks kitab suci, mengajari makan, berjalan, pipis di toilet sampai sukses tidak mengompol adalah ‘pelajaran’ awal dalam hidup si anak. Lalu proses itu berlanjut.
Jika sebagian besar orangtua mengirim anaknya ke sekolah untuk proses lanjutan, ada sebagian kecil yang memilih tetap menjadikan rumah sebagai basis belajar, walau tidak berarti lingkungannya hanya terbatas di rumah. Itulah sebabnya istilah sekolah rumah kurang tepat menggambarkan tentang homeschool.
Sekarang mari bicara dari sisi pandang konsumen. Di jaman ini konsumen mulai mengadakan riset sebelum membeli barang, misal dengan membaca review, tidak percaya begitu saja dengan produser.
Begitu juga saya, ketika belum mantap dengan homeschool, saya mencari sekolah terbaik, yang paling cocok dengan saya. Belum, sampai hari ini belum ada yang benar-benar sreg di hati. Sekolah alam pun yang paling dekat dengan pilihan saya, masih terasa mengganjal karena ada perbedaan prinsip. Sekolah yang agak mendekati prinsip saya, mematok harga yang bikin mata melotot. Lalu, sebagai konsumen, saya putuskan “mengusahakan sendiri”. Ibaratnya, orang yang memilih memasak rendang dengan bumbu bikinan sendiri ketimbang beli jadi atau pakai bumbu instan. Repot, ya, bisa salah, ya, puas, ya.
Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah salah satu cita pendiri republik ini. Jika saya belum dapat sekolah yang ideal, boleh kan saya buat sendiri dengan usaha sendiri? Menghabiskan berjam-jam di depan komputer, berusaha memperkaya diri dengan pengetahuan baru. Nongkrong di toko buku sambil membawa anak tiga tahun yang tidak bisa diam tanya ini tanya itu di setiap buku yang dia baca…. Saya belajar, dia belajar. Kami berdua (bertiga dengan bapaknya, berempat dengan adiknya) terus belajar.
Mmmm… sudah tahu kalau tidak semua ular bertelur?
Posted: January 11th, 2008 under It's a spirit!.
Comments: 6
Comments
Comment from iwed
Time: April 20, 2008, 7:31 am
bener juga ya mbak. wlopun saya masih belom nikah n br ja nyelesain kuliah, saya juga setuju dengan pendapat mbak tentang homeschool ehm..tentang pendidikan. saya juga pengen kalo nanti dh nikah n punya anak bs saya ajarin ndiri tuh anak saya. tapi terkadang mang muncul pikiran ribet sih mbak coz wah ortu kan bkn profesor maksud saya di sini adalah “saya sendiri ga semua bidang saya kuasai” so pasti nyari peran pengganti buat bidang yang qt ga bs. ato di indonesia ini HS masih dikuasai oleh kaum2 elite mungkin ya jadi kesannya kayak elite juga.
Comment from devi
Time: April 20, 2008, 5:09 pm
hi iwed, HS yang dikuasai kaum elit itu maksudnya gimana ya? kalo HS yang saya jalani, yang diusahakan sendiri oleh keluarga. setau saya, ortu berperan jadi guru cukup sampai anak bisa dilepas sendiri. kalau masih usia prasekolah/TK ya jelas.. dia masih sangat butuh pendampingan, 1-to-1. Kalau dah mulai gede, dah bisa meggunakan teknologi, dia bisa cari informasi sendiri, ortu cukup jadi fasilitator, mengakomodasi kebutuhannya. Bbrp teman HS yang punya anak di atas 8 tahun, terbiasa google sendiri untuk mendapat jawaban atas pertanyaan2nya. Mereka belajar dari buku, dari CD interaktif, internet, dll. Jelas kita tidak akan pernah bisa jadi seperti ‘guru’ di sekolah. Di sekolah2, guru2 punya spesialisasi sendiri2.
Saya saja, yang anaknya masih balita kadang kewalahan menjawab pertanyaannya. Lalu saya bilang sama dia, yuk kita cari di internet. Dia pun sudah tahu dari usia sedini ini, bahwa mamanya bukan Yang Maha Tahu. ![]()
Comment from riuka
Time: May 14, 2008, 5:59 am
HS….gmn ya????
mnrut aq HS mungkin hanya dibutuhkan pada anak yg mmpunyai karier ato kegiatan yg mnyita waktu blajar mereka…dalam arti wktu khusus dmna seharusnya mreka bisa bljar dgn kosentrasi yg penuh tp brhubung ad ssuatu maka HS djadikan suatu pilihan…sebenarnya aq tdk terlalu stuju akan HS krena pada realitanya HS di gunakan ktika anak mempunyai ksulitan dalam mengatur wktunya..tinggal disini bgaimana orang tua harus bisa memfilter kegiatan manakah yg tepat dlakukan si anak dan membagi wktu pda si anak…klopun untuk kondisi anak yg wktu blajarnya di gunakan dlam kariernya, aq pikir orang tua hrus lbih berpikir dua kali lgi apalgi karier yg dmaksudkan disni adalah karier yg berhubungan dgn materi karena si anak mmpunyai bakat dan ptensi yg bagus sehingga sayang klo di lewatkan..mmang qt sbagai orangtua hrus bisa menyalurkan potensi anak tp disini yg hrus digarisbwahi adalah penempatan potensi pd bidang2 tertentu yg bisa disalurkan tentu dgn terkendali dan tidak menghilangkan waktu belajar anak disekolah krena tujuan anak disekolahkan dtempat umum memiliki banyak pengaruh khususnya dalam bersosialisasi sesama mereka…bagaimana anak bisa mengenal, mempelajari dunia mereka dan mengendalikan emosi mereka…kalaupun untuk mengatasi wktu yg tersita karena kegiatan yang menyangkut hobi mereka saya pikir tidak mesti HS krena untuk mengekspresikan itu bisa di luar jam sekolah biasanya tinggal bagaimana peranan manajerial orangtua dalam mengatasi itu semua
Comment from admin
Time: May 14, 2008, 9:00 am
Hai riuka… tentu saja kamu berhak punya pendapat apa saja tentang HS
hanya… saya ingin tau dulu apakah kita punya persepsi yang sama tentang HS, karena saya tidak mengikuti pakem HS yang umumnya dipake oleh para artis/seleb di Indonesia, juga bukan HS yg merupakan bagian dari sebuah lembaga pendidikan.
HS kami adalah sebuah kegiatan belajar yang diselenggarakan oleh keluarga inti - ortu & anak. Karena masih preschool, bisa dikatakan saya-lah yang mengatur semua kegiatan belajar anak saya.
Masalah sosialisasi… tidak saya alami… dia bergaul dengan siapa saja - kecil, muda, atau tua. Dia merasa nyaman dengan bayi atau pun golongan lansia
Justru itu kelebihan anak HS, lebih adaptable dengan berbagai usia.
Apakah saya tidak takut anak saya jadi ‘ketuaan’? Tidak.. karena sampai hari ini dia tetap bertingkah seperti seorang anak berumur 4 tahun, kadang rewel, kesel, main, hobby nonton Thomas & Friends, dll
Dia juga ikut les gambar - jd punya kesempatan belajar dari orang lain dan ‘bergaul’ dengan anak2 lain yang usianya lagi2 tidak seragam.. dari yg sebaya sampai 4-5 tahun lebih tua. Walau hanya sekali seminggu, saya agak kuatir krn kadang2 dia mendapat hal ‘negatif’ : ttg hantu, kosakata yang tidak kami ajarkan, dll. Padahal hanya satu kali seminggu. Tapi, saya anggap ini sudah lebih dari cukup untuk melatih dia melihat dunia ‘real’. Btw, anak saya sekali seminggu juga ikut sekolah minggu di gereja - usia antara 3-6 th. Juga, kami punya opsi untuk bergabung bersama komunitas HS-er, di mana ada waktu2 yg memungkinkan anak2 kami belajar bersama atau pun field trip. Lagi2, usia anak2 ini beragam. Menurut saya, orang yang paling jago bersosialisasi adalah yg bisa bergaul dengan siapa saja, tidak pandang usia, golongan, dll. Lewat HS, kami bisa perkenalkan ini secara natural kepada anak.
Masalah sosialisasi, menurut saya bisa menimpa siapa saja. Siapa bilang anak yg ke sekolah biasa tidak ada masalah ini?
Sering kan denger cerita anak yg merasa minder, tersisih, dll.
Well, anyway… HS merupakan pilihan keluarga kami, dan sampai hari ini kami tetap merasa ini yg terbaik buat anak kami :).
Note: HS tidak eksklusif untuk anak yg berbakat, yg artis, yg atlet. HS itu buat siapa saja yg ingin menjalaninya.
Comment from Yuli Dwi Astuti
Time: July 21, 2008, 3:05 pm
HS adalah sebuah alternatif bagi kebutuhan anak2 mendapatkan pendidikan yg layak dan lebih baik,kami sdh mengikuti HS dari mulai TK sampai tahun ini anak kami sdh di grade 4,banyak program HS yg beredar dipublik tapi dpt digolongkan menjadi 2 yaitu;
-semi HS, sebagian waktu anak masih diajar dlm sebuah komunitas dan selbhnya orang tua yg mengajar.
-original HS atau HS murni dimana orang tua atau private tutor yg mengajar anak2nya dg mengambil kurikulum dr sebuah lembaga pendidikan .
Masalah sosialisasi sebenarnya tdk perlu dikuatirkan krn kita dpt membawa anak kita keteman2 /saudara kita, jika org kristen dpt membawa anak kita pd sunday school.Sosialisasi ber gantung dr sifat dasar org tuanya juga, jika orangtua dr anak tsb eksklusif tdk suka bergaul, maka disekolah gedung ataupun di HS sama saja,kurang sosialisasinya.kelbhannya sosialisasi di HS adalah orang tua anak dpt memilihkan teman2 bagi anaknya yg dianggap anak2 yg punya karakter baik, krn ada penelitian yg mengatakan umur 0 th s/d 17th adalah umur2 yg menentukan dasar karakter bagi anak2 yg berpengaruh bagi pertumbuhan mentalitas anak tsb sampai tuanya.
Tantangan HS bagi orangtua adalah masalah komitmen,jika orang tua anak tdk punya komitmen maka hasil ataupun prestasi anak jauh dr yg diharapkan.Disamping itu butuh kejujuran org tua krn pd saat anak mengerjakan test2 pelajarannya ,dlm penilaian orang tua dpt tdk obyektif dan ini merugikan anaknya,jadi anak dan org tua hrs dpt jujur dan dipercaya.
HS murni hanya dpt dilakukan oleh orgtua yg benar2 siap ,berkomitmen,punya fokus program kurikulum yg jelas dan mau berkorban waktu bagi anak2nya, bukan hanya mengikuti tren atau gaya pendidikan baru, jika tdk anak akan menjadi kelinci percobaan….. GBU
Comment from nita
Time: October 30, 2008, 11:40 am
Pernah dengar or trial di Morning Star Academy? Semi homescooling yg menurut saya kategori “very recommended”..
Biblical curricullum, character building, dll semuanya ok dan kita sebagai orangtua juga ikut belajar buanyaaaakkk…


Write a comment