Archive for March, 2008

Matematika

Matematika yang jadi momok buat sebagian orang (baca: anak) sebenarnya bisa dipelajari secara natural dan terintegrasi dengan hal-hal lain.

Bayangkan hidup tanpa memiliki dasar-dasar matematika. Pasti bakal sering dibohongi orang lain, karena tidak bisa berhitung. Berpikir logis pun jadi sulit.

Kami (Joel dan mama) melakukan kegiatan matematika secara alami saja. Awalnya yang diperkenalkan adalah konsep klasifikasi. Juga mengenali pola. Juga tentang kuantitas: besar, kecil, banyak, sedikit, dan seterusnya.

Untuk anak prasekolah, berdasarkan pengalaman pribadi, lebih mudah mengajaknya memahami matematika melalui kegiatan sehari-hari.

Saya memulainya dengan bagian tubuhnya. Ada berapa mata Joel? Berapa hidung Joel? Ada berapa jari tanganmu, dll. Kami juga belajar matematika dengan lagu: Ten Little Indian Boys, One Two Buckle Your Shoes, Nama-nama Hari, Satu Dua Tiga Empat, dst.

Konsep penjumlahan, pengurangan sederhana, lebih mudah diajarkan dengan menggunakan ‘alat peraga’, bisa dengan biskuit yang dia makan, tusuk gigi, dll. Tabel juga bisa membantu anak belajar secara visual tentang konsep puluhan/ratusan.

Hampir tiap hari Joel mengisi tanggal di kalender ‘blank’-nya. Saya mendownloadnya dari sini, dan memodifikasinya sendiri, dihias dengan gambar-gambar lucu. Lebih mudah baginya belajar tentang tanggal dengan cara ini. Kadang dia lebih ingat dari saya tanggal berapa hari ini :).

Lalu, kalau selesai ‘belajar’ Joel mengisi juga 100 chart-nya. Tabel ini membantu untuk pengenalan konsep desimal. Tabel ini bisa dibuat sendiri dengan spreadsheet/word processor apa saja, atau digambar sendiri. Buat tabel 10×10, cukup besar untuk ditulisi. Anak bisa mengisinya setiap belajar. Tiap mengisi, dia akan dapat hadiah, sebuah sedotan/sendok es krim/atau apa saja yang kalau sudah berjumlah sepuluh, akan diikat.

Metode ini terbukti lebih efektif, ada proses visual (melihat tabel & hadiahnya), proses kinetik (menulis). Waktu menulis angka 7, Joel dengan mudah tahu - dari tabel yang masih kosong, agar sedotan2nya bisa diikat, dia harus menambah tiga sedotan lagi. Juga dia tahu satu ikatan (10) ditambah lima sedotan - kondisi saat ini- adalah lima belas.

Saya kurang tahu apakah proses berpikir logis yang dia dapat dari pelajaran2 sederhana ini yang membuatnya berkata kepada saya, “Ma, nanti kalau bulan Juni, gusi Mama tidak berdarah lagi, ya?”

Mau tahu kenapa dia bilang begitu? Karena dia melihat kalau saya gosok gigi, hampir selalu gusi saya berdarah; saya sedang hamil dan akan melahirkan adiknya bulan Juni nanti. Jadi, begitulah dia berpikir. Cukup logis kan?

Homeschooling dan Ibu Bekerja

Barusan saya ditanya tentang mungkinkah melakukan homeschool, sementara ibu tetap bekerja.

Jawabannya susah-susah gampang menurut saya. Tapi mari melihat kondisi saya sehari-hari.

Setelah antar Papa ke kantor, kami akan belajar bersama (tergantung Mama ada kerjaan mendesak atau tidak). Dia tidak pernah menolak, bahkan inisiatif ini kebanyakan datang dari dia. “Yuk, belajar, Ma!” karena kadang-kadang terus terang saya masih ngantuk karena tidur kemalaman - biasanya karena lagi ada proyek.

Tapi pagi ini, Joel ingin nonton VCD karaoke Kevin&Karyn yang sudah lebih dari tiga bulan tidak dia tonton. Padahal, semalam saya sudah siapin untuk bahan hari ini - saat ini kami sedang di unit Apple; kami menggunakan My Father’s World Kindergarten sebagai pedoman kegiatan belajar. Ya sudah, ‘belajar’nya nanti sore aja, deh.

Sambil nonton tidak berarti dia tidak belajar. Kebetulan di videonya, Kevin&Karyn (those lucky children), pergi ke negara2 lain-Cina, Singapore, Italia, dll. Latar belakangnya kebanyakan musim dingin/semi. Waktu Kevin sedang nyanyi di Greatwall, Joel langsung komen, “Lagi musim dingin, ya.” Saya tanya kenapa dia bilang gitu, dia jawab karena pohon2nya kering, tidak ada daun. Saya bilang, mungkin lagi musim dingin, mungkin juga lagi musim gugur. Lalu saya ceritakan pengalaman saya waktu ke Beijing, dan ke Greatwall pada musim dingin. Dan, dia pun tanya, kenapa dia tidak diajak… hehehehee. Dia sangat ingin melihat salju.. padahal saya juga belum pernah lihat salju secara langsung.

Hari-hari ini Joel sangat tertarik dengan negara2 lain. Inflattable globe (berbentuk mainan bola), peta yang ada di agenda2, selalu menarik perhatiannya saat ini. Dia sangat tertarik dengan konsep 4 musim di negara subtropis, dia sangat ingin tahu apa yang terjadi di kutub utara dan kutub selatan, apakah waktu musim semi di kutub selatan pinguinnya merasa senang - karena saya cerita, orang2 di negara 4 musim sangat senang dengan datangnya musim semi, bahkan ada perayaannya, dll.

Ada juga masa2 dia sangat terobsesi pada USA. Beberapa minggu lalu dia minta saya perlihatkan (setengah memaksa) gambar2 Greenland, Canada, Brazil, Hawaii, dll. Maka, saya pun harus memangku dia dan minta bantuan Google mencarikan gambar2 negara2 ini buat dia. Dia juga minta diperlihatkan benderanya. Belum lagi dia ingin melihat foto orang Eskimo (Innuit) dan igloo-nya.

Pernah juga dia bertanya tentang hantu, ttg kematian - katanya anak umur 4 tahun sangat tertarik dengan hal ini- juga bertanya tentang Tuhannya, tentang Yusuf, tentang Ayub, tentang 10 perintah Allah, dll.

Kadang, Joel minta belajar setelah bangun sore. Kadang menjelang tidur minta ‘belajar’, mau tulis-tulis, mau mewarnai, dll.

Jadi… kalau seorang ibu bekerja dari pukul 08.00-17.00; yang berarti meninggalkan rumah minimal satu jam sebelumnya dan berada di rumah paling cepat satu jam sesudahnya, apakah pemfasilitasan memenuhi rasa ingin tahu si kecil ini bisa tetap jalan? Kalau bisa.. tentunya homeschool bisa jalan dengan sukses.

Kadang saya punya tugas yang harus dikerjakan, kadang saya juga mengambil freelance project, yang untungnya bisa dikerjakan dari rumah. Jika si kecil merasa agak tersisihkan, dia akan berdemo minta perhatian dan mengacau konsentrasi mamanya. Tapi, bisa saya pastikan, semua rasa ingin tahunya, kecintaannya akan belajar, tidak jadi padam karena dibatasi oleh orang dewasa.

Jadi, bisakah ibu bekerja sambil menghomeschool anaknya. Rasanya sih bisa. Saya yakin, tiap pilihan ada konsekuensinya, ada kesulitannya masing-masing. Dan, mungkin untuk anak-anak mulai usia pra-remaja, ibu bisa bekerja sepenuh waktu tanpa kesulitan yang cukup berarti, asal anak sudah dilatih untuk mencapai target, dan ada kesepakatan bersama tentunya.

Bulan depan Joel akan berumur 4 tahun, dan ia sangat excited menunggu datangnya tanggal 30 April. Dengan sukacita ia berkata, “Sebentar lagi Joel umur 4.” Tapi, hampir setiap pagi setelah bangun, ia melihat kalendernya dan bertanya, “Masih Maret ya, Ma?” lalu dia mengeluh, “Kok lama sih Aprilnya.”

Lagi-lagi Mama harus pintar-pintar menjawab.