Matematika
Matematika yang jadi momok buat sebagian orang (baca: anak) sebenarnya bisa dipelajari secara natural dan terintegrasi dengan hal-hal lain.
Bayangkan hidup tanpa memiliki dasar-dasar matematika. Pasti bakal sering dibohongi orang lain, karena tidak bisa berhitung. Berpikir logis pun jadi sulit.
Kami (Joel dan mama) melakukan kegiatan matematika secara alami saja. Awalnya yang diperkenalkan adalah konsep klasifikasi. Juga mengenali pola. Juga tentang kuantitas: besar, kecil, banyak, sedikit, dan seterusnya.
Untuk anak prasekolah, berdasarkan pengalaman pribadi, lebih mudah mengajaknya memahami matematika melalui kegiatan sehari-hari.
Saya memulainya dengan bagian tubuhnya. Ada berapa mata Joel? Berapa hidung Joel? Ada berapa jari tanganmu, dll. Kami juga belajar matematika dengan lagu: Ten Little Indian Boys, One Two Buckle Your Shoes, Nama-nama Hari, Satu Dua Tiga Empat, dst.
Konsep penjumlahan, pengurangan sederhana, lebih mudah diajarkan dengan menggunakan ‘alat peraga’, bisa dengan biskuit yang dia makan, tusuk gigi, dll. Tabel juga bisa membantu anak belajar secara visual tentang konsep puluhan/ratusan.
Hampir tiap hari Joel mengisi tanggal di kalender ‘blank’-nya. Saya mendownloadnya dari sini, dan memodifikasinya sendiri, dihias dengan gambar-gambar lucu. Lebih mudah baginya belajar tentang tanggal dengan cara ini. Kadang dia lebih ingat dari saya tanggal berapa hari ini
.
Lalu, kalau selesai ‘belajar’ Joel mengisi juga 100 chart-nya. Tabel ini membantu untuk pengenalan konsep desimal. Tabel ini bisa dibuat sendiri dengan spreadsheet/word processor apa saja, atau digambar sendiri. Buat tabel 10×10, cukup besar untuk ditulisi. Anak bisa mengisinya setiap belajar. Tiap mengisi, dia akan dapat hadiah, sebuah sedotan/sendok es krim/atau apa saja yang kalau sudah berjumlah sepuluh, akan diikat.
Metode ini terbukti lebih efektif, ada proses visual (melihat tabel & hadiahnya), proses kinetik (menulis). Waktu menulis angka 7, Joel dengan mudah tahu – dari tabel yang masih kosong, agar sedotan2nya bisa diikat, dia harus menambah tiga sedotan lagi. Juga dia tahu satu ikatan (10) ditambah lima sedotan – kondisi saat ini- adalah lima belas.
Saya kurang tahu apakah proses berpikir logis yang dia dapat dari pelajaran2 sederhana ini yang membuatnya berkata kepada saya, “Ma, nanti kalau bulan Juni, gusi Mama tidak berdarah lagi, ya?”
Mau tahu kenapa dia bilang begitu? Karena dia melihat kalau saya gosok gigi, hampir selalu gusi saya berdarah; saya sedang hamil dan akan melahirkan adiknya bulan Juni nanti. Jadi, begitulah dia berpikir. Cukup logis kan?
Posted: March 13th, 2008 under Kindergarten.
Tags: math |Comments: 1
Related Posts
Comments
Comment from stasia
Time: May 24, 2008, 11:53 pm
seru juga ya. Untuk 100 chartnya si anak harus sudah bisa menulis ya?
[Reply]


Write a comment