Joel's  book recommendations, reviews, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists

Perkenalkan, Ibu Charlotte

Lebih dari dua tahun yang lalu, saat sedang dalam pencarian kurikulum saya menemukan sebuah pendekatan belajar ramah anak yang dikemukakan oleh seorang pendidik asal Inggris, Charlotte Mason. Semakin hari membaca tentang ide-idenya, saya semakin menyukai buah pikirannya.

Metode Charlotte Mason adalah sebuah metode yang holistik, karena tidak semata-mata ngomongin masalah akademis, tetapi lengkap satu paket dengan pendidikan karakter + parenting. Menurut Ibu Charlotte, education is: an atmosphere, a discipline, a life.

Ini aku coba terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.. *semoga bisa tepat terjemahannya, soalnya bahasa Inggrisnya cukup dalem buat non native speaker kayak saya* tentang ide2 utama pendidikan ala Charlotte Mason (selanjutnya disingkat CM):

  • atmosphere berbicara tentang lingkungan di mana anak tinggal. Orangtua adalah pemberi dampak terbesar dalam kehidupan anak. Charlotte mengatakan, “Anak menghirup atmosfir yang terpancar dari orangtuanya, dan dari situlah dia mendapatkan bekal untuk menjalani hidupnya sendiri kelak.
  • discipline. Charlotte menekankan pentingnya melatih anak dalam good habits, karena habit ini nanti yang akan menjadi pelayan setia mereka saat mereka besar nanti. Charlotte menganalogikan melatih kebiasaan2 baik ini seperti membangun rel kereta api sebagai jalan yang seorang anak lalui dengan mudah menuju kehidupannya sebagai orang dewasa. Good habits/kebiasaan baik akan memberikan pengaruh yang luar biasa dan harus memainkan peran penting dalam proses pendidikan seorang anak. Orangtua lah yang harus mempertimbangkan dengan baik, jalan mana yang sebaiknya harus dilalui anaknya, yang mendatangkan kebaikan dan sukacita.
  • life. Charlotte ingin mengingatkan kita bahwa “pelajaran apa pun yang kita berikan ke anak, haruslah sesuatu yang hidup/nyata; bukannya sebuah rangkuman garing yang berisi beberapa informasi untuk dihafalkan. Dalam metode mengajarnya ibu Charlotte selalu berusaha menghidupkan materi pelajaran . Baik dalam membaca, menulis, aritmatika dan mata pelajaran lain. Dua hal penting yang harus diperhatikan: pertama ==> pelajaran2 selalu disajikan sebagai sesuatu yang nyata, kedua, pelajaran2 di sekolah sesungguhnya hanya mencukup sepertiga dari gambaran besar (big picture) tentang pendidikan.

Yang paling mengesankan saya adalah bagaimana cara CM memandang seorang anak. Banyak hal yang membuat saya tertemplak bahkan sampai menangis karena merasa selama ini telah terjebak dalam cara pikir yang salah. CM benar-benar menghargai seorang anak sebagai pribadi. Pemikiran beliau adalah, anak adalah seorang pribadi, miliknya sendiri, bukan milik orangtuanya. Seringkali cara orangtua mengatakan, “Saya punya dua anak,” seolah-olah menyatakan kepemilikan, sama dengan mengatakan, “Saya punya dua mobil, dua buku, dll”

Padahal, anak, saat dia lahir ke dunia, adalah sebuah pribadi yang utuh. CM menentang pemikiran yang berkata anak yang baru lahir sama dengan kertas putih polos dan orangtua lah yang harus menuliskan sesuatu di atas kertas putih itu. CM berkata, anak itu saat lahir sudah utuh, sudah jadi pribadi, sudah Tuhan tuliskan buatnya apa yang akan jadi garis kehidupannya. Tugas ortu BUKAN menuliskannya, tetapi memastikan, membimbing anak kita menggenapi apa yang Tuhan sudah rencakan buatnya.

Orangtua seringkali merasa superior, diberikan hak untuk memperlakukan anak dengan cara-cara yang tidak akan pernah dia lakukan terhadap orang lain. Bukan hal yang asing kan, kita dengar bagaimana anak menjadi pelampiasan kekesalan ayah terhadap ibunya, atau ibu terhadap ayahnya… anak menjadi korban.

Dalam Galatia 6:9-10, kita diperintahkan,
6:9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.
6:10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Kita diminta untuk berbuat baik kepada semua orang… dan… anak juga orang bukan? Dan kita juga mengharapkan anak kita menjadi kawan kita seiman, bukan?

Sejujurnya beberapa hal di atas tadi mengubah bbrp cara pandang saya dalam homeschool kami, khususnya cara saya memperlakukan anak. Saya bertobat dari ortu yang selalu datang sebagai hakim menjadi ibu yang mau mendengarkan dulu apa yang ada dalam pemikirannya. Saat terjadi sebuah konflik, saya tadinya cenderung langsung ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah dengan memberikan solusi cepat (tindakan disiplin terburu2 termasuk spanking) tanpa memberi kesempatan anak belajar dari masalah tersebut. Saya pikir tindakan disiplin yang prematur ini lebih banyak efek negatifnya ke anak, karena selain berpotensi melukai hatinya, juga membuat dia tergantung kepada kita saat menghadapi masalah. –> Mama datang, aku didisiplin, masalah selesai. That’s it

Masih banyak kebaikan yang bisa dipetik dari pemikiran seorang Charlotte Mason (1842-1923). Teman-teman jika ingin menggali lebih dalam tentang pemikiran2 beliau bisa liat2 di sini:

  1. baca langsung tulisan beliau yang ditulis dalam bahasa Inggris jaman Ratu Victoria.. jadi daripada kepala senut-senut, mending baca versi modernnya, yang sudah diparafrasekan dengan sukarela oleh L. N. Laurio di sini.
  2. jika yang versi modern English pun masih bikin kepala nyut-nyutan, mendingan baca rangkuman tulisannya.
  3. jika rangkumannya pun masih menimbulkan efek mual tak tertahankan, lebih baik tengok ke yang lebih simpel di sini. Mulailah dengan mendownload free ebook dari mereka: http://simplycharlottemason.com/books/education-is/ dan temukan ebook2 yang lain yang pasti akan berguna buat kita.
  4. jika ada uang dan ada kesempatan, belilah buku2 yang bernafaskan CM. I love this one the best: For The Children’s Sake. Foundation of Education for Home and School. (Susan Schaeffer Macaulay).

Semoga tulisan ini bisa mengilhami makin banyak ortu untuk jadi ortu yang lebih baik lagi untuk anaknya.

Write a comment





Spam protection by WP Captcha-Free