It's a spirit!

Mama Cuti Melahirkan

Punya adik bayi tidak berarti Joel berhenti belajar. Walau Mama mengambil ‘cuti’ satu bulan, tapi ternyata Joel tak bisa berhenti belajar.

Ada satu pelajaran penting dengan punya adik ini. Joel belajar bagaimana berbagi Mama. Jelas sekali dia ’struggling’ di hari-hari pertama. Pasti rasanya tidak rela melihat Mama yang tadinya hampir selalu available 24 jam buat dia, sekarang harus dibagi dengan adik, yang menyusu hampir tiap tiga jam sekali, belum lagi kalau adiknya nangis, pipis, pup atau bosan… Joel belajar dan menurut kami dia cukup sukses menangani kecemburuannya.

Untuk pelajaran secara akademis…. awalnya dia sering menagih melanjutkan pelajarannya dengan MFW. Tapi karena rasanya mustahil bisa melakukannya, saya menyerah.. maklum saya masih belum terampil membagi diri untuk dua orang anak + satu asisten (baca: PRT) yang alih-alih membantu malah bikin tambah banyak pikiran.. hehehe. Untung Papa sangat membantu, dengan memandikan Chloe setiap pagi sebelum ngantor.

Lalu bagaimana?

Ternyata Joel bisa belajar sendiri. Menyalakan desktop PC, memasukkan password, connect ke internet lewat modem 3G, menyalakan browser firefox, masuk ke Google Images dan mencari gambar yang dia ingin lihat. Kegiatan ini dia sebut: ‘Lihat-lihat”

Awalnya google digunakannya untuk melihat landmark negara2 yang dia ketahui dari buku atlas Erlangganya. Lalu, dia mulai mencari segala sesuatu dengan Google! Termasuk tokoh-tokoh Alkitab yang dia kenal lewat buku ceritanya, misal: Anak perempuan Yairus, Rut, Yunus, dll. Hehehehe. Lalu jika Google menampilkan hasil yang beda dengan maunya dia, dia akan mengklaim bahwa Google salah :D Haduhhh…

Homeschooling dan Ibu Bekerja

Barusan saya ditanya tentang mungkinkah melakukan homeschool, sementara ibu tetap bekerja.

Jawabannya susah-susah gampang menurut saya. Tapi mari melihat kondisi saya sehari-hari.

Setelah antar Papa ke kantor, kami akan belajar bersama (tergantung Mama ada kerjaan mendesak atau tidak). Dia tidak pernah menolak, bahkan inisiatif ini kebanyakan datang dari dia. “Yuk, belajar, Ma!” karena kadang-kadang terus terang saya masih ngantuk karena tidur kemalaman - biasanya karena lagi ada proyek.

Tapi pagi ini, Joel ingin nonton VCD karaoke Kevin&Karyn yang sudah lebih dari tiga bulan tidak dia tonton. Padahal, semalam saya sudah siapin untuk bahan hari ini - saat ini kami sedang di unit Apple; kami menggunakan My Father’s World Kindergarten sebagai pedoman kegiatan belajar. Ya sudah, ‘belajar’nya nanti sore aja, deh.

Sambil nonton tidak berarti dia tidak belajar. Kebetulan di videonya, Kevin&Karyn (those lucky children), pergi ke negara2 lain-Cina, Singapore, Italia, dll. Latar belakangnya kebanyakan musim dingin/semi. Waktu Kevin sedang nyanyi di Greatwall, Joel langsung komen, “Lagi musim dingin, ya.” Saya tanya kenapa dia bilang gitu, dia jawab karena pohon2nya kering, tidak ada daun. Saya bilang, mungkin lagi musim dingin, mungkin juga lagi musim gugur. Lalu saya ceritakan pengalaman saya waktu ke Beijing, dan ke Greatwall pada musim dingin. Dan, dia pun tanya, kenapa dia tidak diajak… hehehehee. Dia sangat ingin melihat salju.. padahal saya juga belum pernah lihat salju secara langsung.

Hari-hari ini Joel sangat tertarik dengan negara2 lain. Inflattable globe (berbentuk mainan bola), peta yang ada di agenda2, selalu menarik perhatiannya saat ini. Dia sangat tertarik dengan konsep 4 musim di negara subtropis, dia sangat ingin tahu apa yang terjadi di kutub utara dan kutub selatan, apakah waktu musim semi di kutub selatan pinguinnya merasa senang - karena saya cerita, orang2 di negara 4 musim sangat senang dengan datangnya musim semi, bahkan ada perayaannya, dll.

Ada juga masa2 dia sangat terobsesi pada USA. Beberapa minggu lalu dia minta saya perlihatkan (setengah memaksa) gambar2 Greenland, Canada, Brazil, Hawaii, dll. Maka, saya pun harus memangku dia dan minta bantuan Google mencarikan gambar2 negara2 ini buat dia. Dia juga minta diperlihatkan benderanya. Belum lagi dia ingin melihat foto orang Eskimo (Innuit) dan igloo-nya.

Pernah juga dia bertanya tentang hantu, ttg kematian - katanya anak umur 4 tahun sangat tertarik dengan hal ini- juga bertanya tentang Tuhannya, tentang Yusuf, tentang Ayub, tentang 10 perintah Allah, dll.

Kadang, Joel minta belajar setelah bangun sore. Kadang menjelang tidur minta ‘belajar’, mau tulis-tulis, mau mewarnai, dll.

Jadi… kalau seorang ibu bekerja dari pukul 08.00-17.00; yang berarti meninggalkan rumah minimal satu jam sebelumnya dan berada di rumah paling cepat satu jam sesudahnya, apakah pemfasilitasan memenuhi rasa ingin tahu si kecil ini bisa tetap jalan? Kalau bisa.. tentunya homeschool bisa jalan dengan sukses.

Kadang saya punya tugas yang harus dikerjakan, kadang saya juga mengambil freelance project, yang untungnya bisa dikerjakan dari rumah. Jika si kecil merasa agak tersisihkan, dia akan berdemo minta perhatian dan mengacau konsentrasi mamanya. Tapi, bisa saya pastikan, semua rasa ingin tahunya, kecintaannya akan belajar, tidak jadi padam karena dibatasi oleh orang dewasa.

Jadi, bisakah ibu bekerja sambil menghomeschool anaknya. Rasanya sih bisa. Saya yakin, tiap pilihan ada konsekuensinya, ada kesulitannya masing-masing. Dan, mungkin untuk anak-anak mulai usia pra-remaja, ibu bisa bekerja sepenuh waktu tanpa kesulitan yang cukup berarti, asal anak sudah dilatih untuk mencapai target, dan ada kesepakatan bersama tentunya.

Bulan depan Joel akan berumur 4 tahun, dan ia sangat excited menunggu datangnya tanggal 30 April. Dengan sukacita ia berkata, “Sebentar lagi Joel umur 4.” Tapi, hampir setiap pagi setelah bangun, ia melihat kalendernya dan bertanya, “Masih Maret ya, Ma?” lalu dia mengeluh, “Kok lama sih Aprilnya.”

Lagi-lagi Mama harus pintar-pintar menjawab.

Mengisi Hari-hari si Preschooler

Beberapa kali saya ditanya tentang bagaimana memulai homeschool. Dan, bagaimana untuk preschooler?

Kalau saya, pertama saya google semua informasi yang bisa saya dapatkan dari net. Lalu saya juga menghubungi para provider kurikulum meminta dikirimi katalog2 gratis. Setelah itu saya pelajari satu per satu sambil mencocokkan dengan budget.

Untuk preschool sebenarnya banyak bahan gratis di internet, bahkan untuk tingkat yang lebih tinggi sekali pun. Sebelumnya ortu harus tahu parameter/scope & sequence/skill list untuk anak2 usia ini. Tapi, tentu saja tiap anak berbeda, parameter itu hanya jadi semacam panduan. Daftar kemampuan apa saja yang sudah harus dicapai anak ini bisa didapat antara lain di buku yang memuat daftar : Slow and Steady Get Me Ready, terbitan Primamedia Pustaka (grup Gramedia), atau di internet, banyak kok.

Sebelum mulai menggunakan kurikulum jadi (tidak perlu bikin lesson plan, ada teacher manualnya), saya bisa menghabiskan waktu sampai 3-4 jam tiap malam, mencari bahan-bahan gratisan. Masukkan keyword ini di Google untuk mencari: (free) printable worksheet. Situs2 yang sering saya kunjungi:
- http://www.enchantedlearning.com/
- http://www.kidzone.ws/
- http://www.abcteach.com/
- http://www.tlsbooks.com/
dan banyak lagi…. silakan klik sendiri, aaand… have fun :)

Atau kalau ada budget, boleh juga beli buku2 lembar kerja yang banyak tersedia di toko buku. Saya punya beberapa dari Grasindo. Erlangga for Kids kayaknya juga lumayan, tapi harganya tidak murah :)

Dua situs di bawah ini menyediakan kurikulum gratis yang cukup lengkap. Tentunya usaha yang diperlukan lebih besar ketimbang yang berbayar. Paling tidak kita harus keluar kertas dan tinta printer sendiri.
1. http://www.letteroftheweek.com/
dibagi 5 kategori, dari Nursery - Primary :)
2. http://www.hubbardscupboard.org/
early childhood education - dari infant - kindergarten

Mau beli kurikulum tapi budget terbatas?
Di http://www.shirleys-preschool-activities.com/, seorang ibu bernama Shirley Erwee asal Afrika Selatan merancang sendiri kurikulum preschool ini, bisa dibeli dalam bentuk digital (ebook) US$22.00, atau cetakan (harga sama + ongkos kirim). Di webnya ada juga bbrp bahan yg bisa didownload gratis.

Ide ini mungkin bisa ditiru, patungan membeli kurikulum preschool lalu memperbanyaknya dengan fotokopi/scanner.

Untuk anak yang suka pelajaran interaktif, ada sebuah kurikulum online - menggunakan internet- dengan biaya terjangkau, http://www.time4learning.com/, mulai dari preschool, biaya $19.95 /bulan dengan tambahan biaya internet tentunya.

FYI, web satu ini juga memuat informasi yang cukup komprehensif untuk yang ingin memulai homeschool bersama anak-anak usia dini: http://www.early-years-homeschool.com, milik Indira Genowati, orang Indonesia yang tinggal di Amrik dan menghomeschool anaknya yang masih kecil2.

Semoga bermanfaat.

Homeschool, Mengapa?

Homeschool memang lagi booming. (Maaf, saya belum menemukan padanan yang paling tepat untuk kata homeschool, jadi untuk sementara kita anggap saja itu kata serapan ya).

Di mana-mana orang ramai membicarakannya. Di media massa mulai banyak diangkat topik ini. Apalagi dengan banyaknya para pesohor (baca: selebriti/selebritas) usia sekolah yang mengambil langkah ini agar sementara berkarir, sekolah jalan terus.

Seminar ini dan itu juga digelar. Kadang bahkan mematok harga yang cukup tinggi untuk sebuah topik semisal: “Peran Orangtua dalam Pendidikan”, yang menurut saya harusnya semua orangtua bisa dapatkan informasi ini tanpa harus bayar mahal.

Lembaga-lembaga penyelenggara homeschool juga mulai bermunculan. Tak heran jika ini dilirik sebagai peluang bisnis. Ada lembaga yang mematok biaya tertentu, uang pangkal, lengkap dengan absen, ujian, tak ada bedanya dengan sekolah biasa. Sehingga saya sendiri mulai bingung, apalagi orang-orang yang baru mau menjajaki homeschool.

Bagi saya, homeschool adalah sebuah pilihan pribadi, yang harusnya adalah keputusan pribadi tanpa terpengaruh pihak luar. Homeschool yang saya jalani saat ini adalah menyediakan diri mengakomodasi kebutuhan anak saya untuk belajar dan terus belajar hal yang baru.

Sebenarnya, proses homeschool sudah dimulai dari bayi. Bernyanyi buat dia, membacakan teks kitab suci, mengajari makan, berjalan, pipis di toilet sampai sukses tidak mengompol adalah ‘pelajaran’ awal dalam hidup si anak. Lalu proses itu berlanjut.

Jika sebagian besar orangtua mengirim anaknya ke sekolah untuk proses lanjutan, ada sebagian kecil yang memilih tetap menjadikan rumah sebagai basis belajar, walau tidak berarti lingkungannya hanya terbatas di rumah. Itulah sebabnya istilah sekolah rumah kurang tepat menggambarkan tentang homeschool.

Sekarang mari bicara dari sisi pandang konsumen. Di jaman ini konsumen mulai mengadakan riset sebelum membeli barang, misal dengan membaca review, tidak percaya begitu saja dengan produser.

Begitu juga saya, ketika belum mantap dengan homeschool, saya mencari sekolah terbaik, yang paling cocok dengan saya. Belum, sampai hari ini belum ada yang benar-benar sreg di hati. Sekolah alam pun yang paling dekat dengan pilihan saya, masih terasa mengganjal karena ada perbedaan prinsip. Sekolah yang agak mendekati prinsip saya, mematok harga yang bikin mata melotot. Lalu, sebagai konsumen, saya putuskan “mengusahakan sendiri”. Ibaratnya, orang yang memilih memasak rendang dengan bumbu bikinan sendiri ketimbang beli jadi atau pakai bumbu instan. Repot, ya, bisa salah, ya, puas, ya.

Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah salah satu cita pendiri republik ini. Jika saya belum dapat sekolah yang ideal, boleh kan saya buat sendiri dengan usaha sendiri? Menghabiskan berjam-jam di depan komputer, berusaha memperkaya diri dengan pengetahuan baru. Nongkrong di toko buku sambil membawa anak tiga tahun yang tidak bisa diam tanya ini tanya itu di setiap buku yang dia baca…. Saya belajar, dia belajar. Kami berdua (bertiga dengan bapaknya, berempat dengan adiknya) terus belajar.

Mmmm… sudah tahu kalau tidak semua ular bertelur? ;)

Preschool/Playgroup: Perlukah? (Pro Version)

Catatan: Preschool yang dimaksudkan di sini adalah lembaga bernama sekolah, bukan pendidikan usia dini itu sendiri.

Seorang ahli berpendapat bahwa manfaat terbesar preschool yang tidak didapat anak dari rumah adalah kesempatan berinteraksi dengan anak lain (baca: sosialisasi). Selain itu anak belajar mengatasi anxiety of separation dengan ibu/pengasuhnya dan belajar survive without parents.

Juga dikatakan, dengan melihat bagaimana anak lain melakukan hal-hal yang menantang, akan lebih memotivasi si kecil bahwa dia juga bisa.

Di beberapa negara bagian Amerika Serikat saat ini sudah mulai banyak universal preschool, yaitu preschool gratis untuk semua kalangan. Dikatakan bahwa yang memetik manfaat terbesar dari program ini adalah anak-anak yang dikategorikan beresiko, seperti anak dengan orangtua remaja, atau anak dari lingkungan berbahaya. Dengan catatan, preschoolnya adalah yang memiliki kualifikasi baik, kalau tidak akan memperparah kondisi si anak.

Sementara untuk urusan akademis, sebuah studi dari University of California menyebutkan, di kelas tiga SD, tidak ada perbedaan untuk anak yang bersekolah dari preschool maupun tidak, walaupun anak yang mengenyam pendidikan lebih awal ini lebih dulu bisa membaca ketimbang temannya.

Jika sudah diputuskan untuk menyekolahkan anak pada usia ini, pastikan mutu sekolah - mutu guru - jangan semata-mata karena kurikulumnya. Manfaatkan free-trialnya, seperti yang pernah saya lakukan. Ada anak yang lebih favorit. Sementara seorang anak laki-laki yang sedikit-sedikit menangis mendapat limpahan emosi ketidaksabaran gurunya: “No crying! I’ve told you so many times.” Very discouraging.

Jangan pernah kirim anak ke sebuah preschool karena tetangga juga begitu.

Pandangan saya pribadi, banyak hal yg preschool tawarkan, bisa diusahakan sendiri oleh orangtua. Stimulasi, kecintaan akan belajar, perilaku baik, budi pekerti, dan juga basic lifeskill. Kita tahu sendiri betapa tinggi preschool2 di Indonesia mematok biaya. Dan, kadang kita tidak puas dengan apa yang mereka berikan.

And remember, there are a lot of good choices, not just one.

Preschool/Playgroup: Perlukah? (Versi Kontra)

Di Asia, Indonesia khususnya (karena saya tinggal di sini) memasukkan anak sedini mungkin ke sekolah dianggap sebagai solusi terbaik agar anak bisa ‘belajar’ dari dunia luar. Saya bahkan kenal beberapa orang yang menyekolahkan bayinya yang bahkan belum lancar merangkak. Motivasi para orangtua ini macam-macam,

1. Daripada ditinggal sama pembantu, lebih baik mendapat ‘pendidikan’ atau main dengan terarah di lembaga-lembaga yang biasanya menetapkan tarif tidak murah.

2. Anak perlu bersosialisasi, bergaul dengan teman seusianya/

3. Merasa anaknya berbakat, lebih cerdas dari rata-rata usianya. Sepertinya semua orangtua merasa anaknya berbakat, bukan? :D

3. Ingin anaknya pintar, cepat berbahasa Inggris, Mandarin, dll.

Ketiga alasan yang disebut di atas ini, kemungkinan disebabkan karena dua faktor, orangtua tidak punya cukup waktu - bekerja misalnya, atau orangtua tidak cukup percaya diri mengajar anaknya.

Sebuah situs web di AS; dengan cukup radikal mengemukakan beberapa alasan mengapa seharusnya kita tidak perlu mengirim anak kita ke Preschool/Playgroup (PG)/Kelompok Bermain (KB). Komentar saya dalam cetak miring.
1. Ketidakkonsistenan dalam penerapan disiplin. Anak akan terbelah antara sekolah dan rumah. Disiplin dilakukan sekolah biasanya agar tidak terjadi kericuhan, semua senang, semua tenang - paling tidak untuk sementara waktu. Sementara disiplin di rumah dilakukan ortu untuk membentuk kepribadian si anak. Kecuali semua peraturan di sekolah sama persis dengan di rumah.
2. Merenggangkan ikatan emosional ortu-anak. Anak-anak butuh mengekpresikan dirinya secara verbal dalam hubungan satu-satu, dengan orang yang tulus mengasihi dirinya, yang memang berminat betul padanya - siapa lagi kalau bukan ortunya. Lebih baik ia mendapat pujian, peluk, cium dari ortunya bukan? Di sekolah biasanya ada anak emas. Yang sikapnya manis, rajin, dan good-looking (ini beneran lho!) pasti mendapat perhatian khusus dari guru, juga mereka yang ekstra aktif. Lalu bagaimana dengan model anak yang biasa-biasa saja? Apakah mereka lantas tidak dapat perhatian dari gurunya?
3. Merenggangkan hubungan antar saudara.
Nanti, waktu si anak sudah besar, kecil kemungkinan ia masih mengingat teman2 preschoolnya. Namun, hubungan saudara ini kekal. Kakak dan adiklah orang2 terdekat yang bisa memberikan pertolongan saat ada masalah. Familiar kan? Setiap kali ada masalah, kita lebih cari teman ketimbang ortu n saudara, karena hubungan ini tidak terbangun. Tapi, bagaimana dengan anak tunggal ya?
4. Tekad ibu untuk mendidik, mengajar anaknya sendiri bisa terdistorsi, bahkan untuk yang mau homeschool sekalipun. Dengan kepergian anak selama beberapa jam, ibu yang ada di rumah akan menganggur, dan mungkin akhirnya kembali bekerja. Lalu, ia mendapati anaknya sudah terlatih pipis sendiri, sudah kenal warna, angka, huruf, bahkan membaca. Betapa ringannya tugasnya sekarang… Padahal di sini lain, ibu jadi kehilangan keyakinan bahwa ia bisa mengajarkan hal2 dasar ini pada anaknya. Setelah mengajar sendiri anak saya, dan dia sekarang sudah mulai membaca kata2 pendek (2 suku kata) saya jadi pede sekali. Ternyata, tidak perlu sekolah guru untuk itu ya.
6. Anak yang masih kecil akan terekspos dengan sikap destruktif anak lain. Bahkan di sekolah berbasis agama, Kristen sekali pun, ada anak yang di rumahnya bebas menonton TV, terekspos dengan pornografi, biasa mendengarkan makian, dan hal2 lain yang kita tidak ingin anak kita tahu pada usia sedini ini. Saya pernah mendengar anak berusia 2-3 tahun berkata pada temannya, “Ada hantu. Hiyyy..”
Apa pendapat anda jika anak anda kemudian beberapa malam bermimpi buruk, ketakutani? Atau suatu hari anak KB anda berkata, “Sialan Mami! Bego Mami! atau lebih parah lagi: Mami, f*ck you.”
Sayang bukan, padahal kita sudah berusaha menciptakan lingkungan yang positif untuk anak kita. Tidakkah terlalu dini baginya, dia baru berumur errr… dua atau tiga tahun?

7. Sekolah memberikan diagnosis tidak akurat. Tiba-tiba sekarang banyak anak yang dicap ADHD dan berbagai label masa kini. KB bersama para pakar pendidikan memposisikan diri sebagai pihak yang berhak menghakimi anak anda. Lebih baik berikan dia dukungan emosional, kasih tak bersyarat. Jika anda punya bayi, batita, balita, andalah homeschooler. Proses ini sudah dimulai ketika bayi lahir dan akan terus berlanjut. Anda yang mengajarkan si bayi bernyanyi, membaca buku untuknya, bermain dengannya bukan? Atau… orang lain?

Tidak adil jika tidak memberikan versi pro-nya. Akan saya teruskan di posting berikut.

Arti Homeschool Buat Saya

Seperti yang saya ceritakan di posting2 awal, saya memang sempat on-off-on-off dalam kepastian menghomeschool Joel. Namun setelah dijalani, benar kata teman saya, ada kasih karunia.

Tipe tidak sabaran? Tidak punya latar belakang pengajar? Takut anak kekurangan sosialisasi? dan alasan-alasan lain biasanya jadi dasar keraguannya.

Sebuah pertanyaan menjadi bahan perenungan saya. Mengapa orang yang sama, yang mengajar anak kita berdiri, tepuk tangan, toilet training, memegang sendok, harus meragukan kemampuannya untuk mengajar anaknya sendiri?

Guru, sehebat apa pun dia, tetap orang luar. Dia tidak berada di dalam rumah, sehingga dia tidak punya perspektif yang sama dengan kita. Saya tidak bilang sekolah itu buruk, tapi, maksud saya di sini homeschool pun tidak kalah kualitasnya. Apalagi si pendidik (biasanya ibu) pasti punya hati untuk memberi yang terbaik buat anaknya, dan nilai tambah lain, ibu bisa menyesuaikan gaya belajar anaknya tanpa mengganggu kepentingan umum.

Jika masalah akademis yang kita takutkan.. ada begitu banyak kurikulum di luar sana yang membuat kita bisa jadi ‘guru’. Pegangan ortu ini sangat akan sangat membantu, karena biasanya sudah ada lembar jawabannya. Nah, masalah bagaimana caranya anak menemukan sendiri jawabannya, itu yang jadi tantangan.

Pernah tidak mengalami saat kita sudah sedewasa ini, ketika kita punya sebuah pertanyaan yang tak terjawab dan kita mencoba mencari tahu. Seperti saya jika ada kata yang tidak saya mengerti, saya akan panggil Mr. Google, atau tanya2 orang. Itulah yang disebut proses menemukan jawaban. Itu, yang ingin saya ajarkan kepada anak saya.. punyalah rasa ingin tahu, dan mama akan bantu kamu mencari jawabannya dengan menyediakan fasilitas2 spt buku, internet, dll. Si mama sendiri tentu harus tak henti2nya memperkaya diri agar tidak ketinggalan dengan anaknya. :)

Homeschool selain membuat saya tambah ‘pintar’, membuat Joel bisa tetap mengajukan 101 pertanyaan, bisa main dengan mobil2annya, bisa istirahat jika capek, bisa lari sana lari sini sambil bawa pensil warnanya, dst.

Belajar Lagi

Salah satu manfaat homeschool bagi si pendidik (atau home educator) adalah dia bisa belajar lagi.

Setelah lama tamat dari sekolah, banyak sekali pelajaran yang sudah saya lupakan, dan otak jadi mulai tumpul. Nah, benar juga kata Andrias Harefa , STTB itu benar-benar sebuah kutukan. Kutukan untuk tamat belajar :D

Saat lulus dari sekolahnya, pelajar-pelajar kita punya tradisi meluapkan sukacitanya dengan corat-coret seragam. Beberapa mungkin lega luar biasa karena tidak perlu belajar lagi. Seperti saya, yang luar biasa senangnya tidak perlu menghapal rumus-rumus kimia. I hate chemistry, till now.

Juga ketika dinyatakan lulus sebagai sarjana komputer dari sebuah universitas di Jakarta… Bahagianya tidak bertemu pelajaran-pelajaran nan rumit yang bikin otak saya melilit.

Lucu ya kalau dipikir-pikir. Kita kan bayar untuk sekolah dan biayanya tidak sedikit. Tapi, walau tidak merasa senang dengan apa yang kita beli, dan tidak semuanya bermanfaat, kita tidak berbuat apa-apa selain menjalani dengan terpaksa. Mungkin karena selembar kertas bernama sertifikat, ya si STTB itu.

Back to topic :D, toh tidak akan mengubah apa-apa dengan mengeluh seperti ini.

Untuk mengajar Joel hal-hal dasar, saya mengunjungi banyak situs. Luar biasa, ternyata sangat banyak resource di dunia maya ini. Yang gratis pun tak terkira banyaknya. Tugas saya hanya mengumpulkan dan memilah-milahnya.

Yang pertama, membaca. Saya bukan jenis orangtua yang ingin anaknya bisa ini bisa itu di usia muda. Tapi, hendaknya kita juga bijak mengenali kebutuhan anak kita. Untuk kasus saya, Joel sudah sangat mature untuk diajari membaca. Dari usia dua tahun dia sudah hapal alfabet, dan sangat ingin membaca semua tulisan yang dia lihat, khususnya yang berhubungan dengan mobil.

Saya pun googling bagaimana mengajar anak membaca dengan metode phonic. Sempat takut dan gentar. Mengajar membaca apalagi bahasa Inggris, jelas bukan pekerjaan mudah. Apalagi untuk orang yang tidak punya latar belakang mengajar seperti saya. O ya, alasan saya mengajarnya membaca dalam bahasa Inggris karena nanti saya akan menggunakan kurikulum berbahasa Inggris, jadi Joel setidaknya harus bisa bahasa Inggris pasif. Butuh usaha dari saya.

Kedua, matematika. Jangan bayangkan matematika yang susah-susah ya. Yang dimaksud matematika untuk anak playgroup/preschool itu adalah konsep matematika sederhana. Membandingkan, berhitung dalam urutan, berhitung mundur, menghitung jumlah, sampai penjumlahan sederhana.

Ketiga, mencari aktivitas yang menyenangkan dan dapat menstimulasi si preschooler . Untuk membuatnya sibuk, berarti saya harus mempelajari tahap-tahap perkembangan si anak, sejauh mana motorik kasar, motorik halus, mental dan intelektualnya telah berkembang.

Lihat, saya belajar banyak hal yang tidak saya ketahui sebelum ini. Menjadi ibu yang ada di rumah (baca: Ibu Rumah Tangga) tidak berarti kita jadi orang yang terhenti pengetahuannya kan? Justru sekarang saya punya kesempatan belajar yang buanyak. Jika dulu hanya bisa baca headline dan beberapa artikel pilihan, sekarang saya bisa baca koran sampai habis, termasuk cerita bersambungnya, hehehe. Pendek kata, saya terus memperkaya diri tiap hari.

Anak usia preschool sedang mengembangkan kecintaannya akan belajar, mereka menyerap hal baru setiap saat, dan sangat bergairah olehnya. Tugas saya adalah tidak mematikan hasrat belajarnya ini, salah satunya dengan mengakomodasi semua pertanyaan yang aneh-aneh.

Harapan saya, Joel akan terus ’suka’ belajar, tidak seperti saya dulu yang belajar hanya kalau ada ulangan. Dan, rumah adalah tempat terbaik untuk memulai kecintaan akan belajar ini.

The Home(pre)school Begins

Sekarang Joel umur tiga tahun. Hampir semua orang bertanya dia sekolah di mana. Terus terang saya agak risih dengan pertanyaan itu dan capek juga menjawabnya, walaupun kebanyakan pertanyaan itu adalah basa-basi.

Saya dan Pampi dari dulu sudah mempertimbangkan yang namanya homeschool. Maka saya pun mencari berbagai informasi tentang ini, termasuk bergabung dalam milis homeschool. Di rumah pun ada beberapa katalog curriculum provider, semuanya Christian-based dan dari US. Ada yang model sekolah jarak jauh, jadi ortu melakukan korespondensi dengan si sekolah/akademi itu, ada juga yang sepenuhnya dikelola oleh si ortu sendiri, dari record keeping sampai evaluasi. Tentang kurikulum ini akan saya tuliskan di posting berikut.

Awalnya saya masih on-off tekad homeschoolnya. Yang agak saya kuatirkan adalah bisakah saya mengajarinya membaca, menulis. Lalu bagaimana akreditasinya selain juga sedikit masalah kekuatiran sosialisasi. Saya sempat survei ke beberapa playgroup, namun langsung mengurungkan niat begitu melihat suasana sekolah atau mendengar biaya yang mereka pasang. Dengan anak satu, sebenarnya kami bisa saja mengusahakan uang sekolah yang berkisar 500-800 ribu itu (belum termasuk uang pangkal 3jt-12jt sampai lulus TK). Tapi kalau dipikir-pikir, sebanding tidak pengeluaran kita dengan apa yang kita dapat. Lagipula saya tidak mau Joel dijejali pelajaran-pelajaran yang tidak perlu di usia bermainnya ini.

Pertengahan Juli lalu, saya memantapkan tekad, memulai home(pre)school ini dengan lebih teratur. Tadinya kami tidak punya waktu belajar tetap. Tujuan waktu belajar terjadwal ini tidak lain hanya agar Joel mengerti tentang rutinitas. Di luar jam belajar tetapnya ini, tentu saja dia boleh belajar kapan saja. Harap diingat, anak preschool itu hidupnya adalah untuk belajar, dia belajar apa saja, kapan saja, di mana saja.

Saya menggunakan buku Slow & Steady Get Me Ready (Grasindo), buku-buku aktivitas terbitan Grasindo lain yang saya beli pas sale; bahan pengenalan matematika dari US Education Dept - untuk preschool tentu; lembar kerja gratisan (tinggal print) dari beberapa situs. Beberapa di antaranya: firstschool, AtoZ Kids Stuff dan banyak lagi. Saya juga download beberapa lesson plan, Core Knowledge dan Fun Lesson Plans; ini beberapa yang saya jadikan acuan. Tidak lupa saya cari Bible activities juga, kebanyakan gambar-gambar untuk diwarnai. Juga beberapa minibook untuk dijadikan bahan bacaan.

Itu hanya beberapa yang saya pakai. Memang agak repot, mencari, mengumpulkan, mensortir, mencetak, mengemasnya supaya lebih cantik, tapi sejauh ini saya nikmati kerepotan ini. Menjadi seorang ibu dan pendidik tentunya harus mau repot, kan bukan single lagi. :)

Setelah berjalan beberapa waktu ini, rasanya saya tidak akan mundur lagi. Joel yang aktif ini, terlihat sangat menikmati learning-with-mommy ini. Dia berdoa sebelum waktu rutin dimulai. Lalu dengan semangat mengerjakan ‘tugas-tugas’nya. Saya melihat perkembangan yang sangat berarti buat saya. Dia mulai membaca, juga sekarang sudah bisa menulis namanya sendiri. Siapa yang mengajar? Mama. Ternyata selain mewarnai dan menyanyi (yg saya lebih PeDe ngajarnya) saya bisa mengajar Joel baca, bisa mengajar Joel menulis. Bukan apa yang dia capai yang terpenting, tapi perkembangannya itu yang menambah ke-PeDe-an saya. Whoa, now I know what a mom can do :d. Dengan confident saya bisa bilang, home is the place to nurture this young mind.