Joel's  book recommendations, reviews, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists

Preschool Days

Mengisi Hari-hari si Preschooler

Beberapa kali saya ditanya tentang bagaimana memulai homeschool. Dan, bagaimana untuk preschooler?

Kalau saya, pertama saya google semua informasi yang bisa saya dapatkan dari net. Lalu saya juga menghubungi para provider kurikulum meminta dikirimi katalog2 gratis. Setelah itu saya pelajari satu per satu sambil mencocokkan dengan budget.

Untuk preschool sebenarnya banyak bahan gratis di internet, bahkan untuk tingkat yang lebih tinggi sekali pun. Sebelumnya ortu harus tahu parameter/scope & sequence/skill list untuk anak2 usia ini. Tapi, tentu saja tiap anak berbeda, parameter itu hanya jadi semacam panduan. Daftar kemampuan apa saja yang sudah harus dicapai anak ini bisa didapat antara lain di buku yang memuat daftar : Slow and Steady Get Me Ready, terbitan Primamedia Pustaka (grup Gramedia), atau di internet, banyak kok.

Sebelum mulai menggunakan kurikulum jadi (tidak perlu bikin lesson plan, ada teacher manualnya), saya bisa menghabiskan waktu sampai 3-4 jam tiap malam, mencari bahan-bahan gratisan. Masukkan keyword ini di Google untuk mencari: (free) printable worksheet. Situs2 yang sering saya kunjungi:
- http://www.enchantedlearning.com/
- http://www.kidzone.ws/
- http://www.abcteach.com/
- http://www.tlsbooks.com/
dan banyak lagi…. silakan klik sendiri, aaand… have fun :)

Atau kalau ada budget, boleh juga beli buku2 lembar kerja yang banyak tersedia di toko buku. Saya punya beberapa dari Grasindo. Erlangga for Kids kayaknya juga lumayan, tapi harganya tidak murah :)

Dua situs di bawah ini menyediakan kurikulum gratis yang cukup lengkap. Tentunya usaha yang diperlukan lebih besar ketimbang yang berbayar. Paling tidak kita harus keluar kertas dan tinta printer sendiri.
1. http://www.letteroftheweek.com/
dibagi 5 kategori, dari Nursery – Primary :)
2. http://www.hubbardscupboard.org/
early childhood education – dari infant – kindergarten

Mau beli kurikulum tapi budget terbatas?
Di http://www.shirleys-preschool-activities.com/, seorang ibu bernama Shirley Erwee asal Afrika Selatan merancang sendiri kurikulum preschool ini, bisa dibeli dalam bentuk digital (ebook) US$22.00, atau cetakan (harga sama + ongkos kirim). Di webnya ada juga bbrp bahan yg bisa didownload gratis.

Ide ini mungkin bisa ditiru, patungan membeli kurikulum preschool lalu memperbanyaknya dengan fotokopi/scanner.

Untuk anak yang suka pelajaran interaktif, ada sebuah kurikulum online – menggunakan internet- dengan biaya terjangkau, http://www.time4learning.com/, mulai dari preschool, biaya $19.95 /bulan dengan tambahan biaya internet tentunya.

FYI, web satu ini juga memuat informasi yang cukup komprehensif untuk yang ingin memulai homeschool bersama anak-anak usia dini: http://www.early-years-homeschool.com, milik Indira Genowati, orang Indonesia yang tinggal di Amrik dan menghomeschool anaknya yang masih kecil2.

Semoga bermanfaat.

Preschool/Playgroup: Perlukah? (Versi Kontra)

Di Asia, Indonesia khususnya (karena saya tinggal di sini) memasukkan anak sedini mungkin ke sekolah dianggap sebagai solusi terbaik agar anak bisa ‘belajar’ dari dunia luar. Saya bahkan kenal beberapa orang yang menyekolahkan bayinya yang bahkan belum lancar merangkak. Motivasi para orangtua ini macam-macam,

1. Daripada ditinggal sama pembantu, lebih baik mendapat ‘pendidikan’ atau main dengan terarah di lembaga-lembaga yang biasanya menetapkan tarif tidak murah.

2. Anak perlu bersosialisasi, bergaul dengan teman seusianya/

3. Merasa anaknya berbakat, lebih cerdas dari rata-rata usianya. Sepertinya semua orangtua merasa anaknya berbakat, bukan? :D

3. Ingin anaknya pintar, cepat berbahasa Inggris, Mandarin, dll.

Ketiga alasan yang disebut di atas ini, kemungkinan disebabkan karena dua faktor, orangtua tidak punya cukup waktu – bekerja misalnya, atau orangtua tidak cukup percaya diri mengajar anaknya.

Saya akan mengutip sebuah situs web di AS –  yang dengan cukup radikal mengemukakan beberapa alasan mengapa seharusnya kita tidak perlu mengirim anak kita ke Preschool/Playgroup (PG)/Kelompok Bermain (KB). Saya tambahkan komentar  dalam cetak miring.
1. Ketidakkonsistenan dalam penerapan disiplin. Anak akan terbelah antara sekolah dan rumah. Disiplin dilakukan sekolah biasanya agar tidak terjadi kericuhan, semua senang, semua tenang – paling tidak untuk sementara waktu. Sementara disiplin di rumah dilakukan ortu untuk membentuk kepribadian si anak. Kecuali semua peraturan di sekolah sama persis dengan di rumah.

2. Merenggangkan ikatan emosional ortu-anak. Anak-anak butuh mengekpresikan dirinya secara verbal dalam hubungan satu-satu, dengan orang yang tulus mengasihi dirinya, yang memang berminat betul padanya – siapa lagi kalau bukan ortunya. Lebih baik ia mendapat pujian, peluk, cium dari ortunya bukan? Di sekolah biasanya ada anak emas. Yang sikapnya manis, rajin, dan good-looking (ini beneran lho!) pasti mendapat perhatian khusus dari guru, juga mereka yang ekstra aktif. Lalu bagaimana dengan model anak yang biasa-biasa saja? Apakah mereka lantas tidak dapat perhatian dari gurunya?

3. Merenggangkan hubungan antar saudara.
Nanti, waktu si anak sudah besar, kecil kemungkinan ia masih mengingat teman2 preschoolnya. Namun, hubungan saudara ini kekal. Kakak dan adiklah orang2 terdekat yang bisa memberikan pertolongan saat ada masalah. Familiar kan? Setiap kali ada masalah, kita lebih cari teman ketimbang ortu n saudara, karena hubungan ini tidak terbangun. Tapi, bagaimana dengan anak tunggal ya?

4. Tekad ibu untuk mendidik, mengajar anaknya sendiri bisa terdistorsi, bahkan untuk yang mau homeschool sekalipun. Dengan kepergian anak selama beberapa jam, ibu yang ada di rumah akan menganggur, dan mungkin akhirnya kembali bekerja. Lalu, ia mendapati anaknya sudah terlatih pipis sendiri, sudah kenal warna, angka, huruf, bahkan membaca. Betapa ringannya tugasnya sekarang… Padahal di sini lain, ibu jadi kehilangan keyakinan bahwa ia bisa mengajarkan hal2 dasar ini pada anaknya. Setelah mengajar sendiri anak saya, dan dia sekarang sudah mulai membaca kata2 pendek (2 suku kata) saya jadi pede sekali. Ternyata, tidak perlu sekolah guru untuk itu ya.

6. Anak yang masih kecil akan terekspos dengan sikap destruktif anak lain. Bahkan di sekolah berbasis agama, Kristen sekali pun, ada anak yang di rumahnya bebas menonton TV, terekspos dengan pornografi, biasa mendengarkan makian, dan hal2 lain yang kita tidak ingin anak kita tahu pada usia sedini ini. Saya pernah mendengar anak berusia 2-3 tahun berkata pada temannya, “Ada hantu. Hiyyy..”
Apa pendapat anda jika anak anda kemudian beberapa malam bermimpi buruk, ketakutani? Atau suatu hari anak KB anda berkata, “Sialan Mami! Bego Mami! atau lebih parah lagi: Mami, f*ck you.”
Sayang bukan, padahal kita sudah berusaha menciptakan lingkungan yang positif untuk anak kita. Tidakkah terlalu dini baginya, dia baru berumur errr… dua atau tiga tahun?

7. Sekolah memberikan diagnosis tidak akurat. Tiba-tiba sekarang banyak anak yang dicap ADHD dan berbagai label masa kini. KB bersama para pakar pendidikan memposisikan diri sebagai pihak yang berhak menghakimi anak anda. Lebih baik berikan dia dukungan emosional, kasih tak bersyarat. Jika anda punya bayi, batita, balita, andalah homeschooler. Proses ini sudah dimulai ketika bayi lahir dan akan terus berlanjut. Anda yang mengajarkan si bayi bernyanyi, membaca buku untuknya, bermain dengannya bukan? Atau… orang lain?

Tidak adil jika tidak memberikan versi pro-nya. Akan saya teruskan di posting berikut.

Hubungan Antara Membaca dan Menulis

tulisantangan

Membaca dan menulis ternyata memang sangat berkaitan erat. Saya buktikan teori ini pada Joel. Dari bayi kami sudah perkenalkan dia dengan buku. Lalu, saat dia sudah menguasai alfabet, saya mulai masuk dengan phonic – belajar baca lewat bunyi huruf.

Setelah bisa membaca (atau mengenali) beberapa kata, dia mulai ingin menirukannya lewat tulisan. Yang paling pertama saya ajari adalah mengenali namanya sendiri: Joel. Kemudian, papa, mama, opa, oma, pokoknya yang gampang-gampang. Lalu masuk ke nama-nama kesukaannya yaitu nama dan merk mobil, ia belajar menulis Toyota, Nissan, dll. Sedikit tips, untuk membuat anak lebih pede, dia bisa diajarkan ‘menulis’ di komputer. Ketika dia bisa memunculkan kata itu di layar komputer, tentu si anak akan merasa bangga, dan jadi lebih pede lagi.

Hanya butuh waktu beberapa hari saja, Joel bisa menulis namanya sendiri. Atas inisiatifnya sendiri. Huruf ‘e’-nya masih jauh dari sempurna, tapi tentunya usaha ini harus kita hargai, apalagi atas inisiatif sendiri. Lalu saya melatihnya untuk huruf e, kini dia bisa menulis namanya dengan baik dan cukup rapi.

Setelah mulai menulis, saya temukan terjadi peningkatan yang luar biasa dalam kemampuan membacanya. Kalau menurut teori yang saya baca, menulis membantu otak si kecil untuk encoding-decoding tulisan. Joel bahkan hari-hari ini tergila-gila menulis. Lalu apakah akan saya cegah? Tentu tidak, dia bebas menulis kapan saja di mana saja, asal di kertas. Jangan lupa melatih anak bertanya dulu, apakah kertas itu boleh dia pakai. Joel kami latih dari usia dini untuk tidak mencoreti benda selain kertas. Batasan ini sangat membantu kami ketika anak mulai senang menulis.

Sekali lagi saya ingatkan, jangan pernah memaksa anak. Jangan berambisi menjadikan anak kita anak ‘jenius’ yang bisa apa-apa lebih dulu dibanding teman seusianya. Ketika dewasa, kehebatan ini tidak akan berarti apa-apa. :)