Kurikulum

Biaya Pabean yang Membingungkan

Minggu lalu ada surat dari kantor pos. Aku harus mengambil paket dan di situ tertera, biaya total Rp 69ribu-an dengan bea masuk 63ribu-an sisanya biaya bungkus dan admin.

Coba mengingat-ingat.. aku order apa sih, ampe kena biaya semahal ini? Kalo ga salah untuk barang di bawah 50US$ bebas fee. Soalnya dulu pernah pesen kurikulum dari US yang lebih dari 130US$ dan untuk ini aku cuma bayar 7rb.

Akhirnya, Sabtu lalu kita pergi deh ke Kantor Pos Tangerang. Ternyata itu kiriman kurikulum matematika Math-U-See dari Singapore yang harganya jauh di bawah kurikulum dari US.

Kenapa bisa begitu ya? Apa karena yang dari Singapore ini dituliskan secara detil tentang valuenya dan keterangannya adalah commercial sample + DVD (educational) sementara yang dari US hanya diberikan keterangan educational material?

Bingung…

My Catalogs Collection

To today, I still keep my obsession of collecting HS curriculum provider catalog from all over the world.

catalog

View my collection. There’re ten printed catalogs in this picture, but actually I have 14 from 8 providers, not including from Bob Jones University which have been shipped a week ago from US.

The very first catalog I received is Sonlight. ABeka came after, and the last to arrive is from Winter Promise Publishing which I adore so much for its beautiful vintage (or classic?) design.

I’ve got 2 copies of ABeka’s, 3 of AOP’s, 5 of MFW’s and 1 copy for each of the rest. The most informative I found, was ABeka. 1st edition of Sonlight’s I got, left me confuse and dizzier as a HS beginner, but in the last edition they had redesign the way they present information, much-much better now.

There are four other catalogs more, from Laurel Springs, Griggs (Adventist/LDS), Australian Christian Academy (ACE schooling service from Austalia) and from Math-U-See. They’re just not available when picture was taken :).

Note: Math-U-See is a great math curriculum. I order this catalog directly from their representation in Australia, a very interesting demo CD was included.

To Pick-up the Curriculum (Menjemput Kurikulum)

An order has been placed. I have made my mind, put my hope on MFW Kindergarten curriculum.

Through email correspondence, the staff suggested I better start the K curriculum at 5. This curr. was designed for a 5 yo, or as young as an mature 4-yo. But, I was too curious, couldn’t wait any longer. I was so thirsty :D

No, it’s not true, I’m not that thirsty, I was just tired with browsing, downloading, collecting, and sorting all the files I got from the net. Yes, there are tons of free (say it again F-R-E-E) resources.  But, in fact, in my case, the freebies would possibly bring headache. Everything seemed so interesting and important, like the big sale in a mall. After the long hours I spent in front of my computer, I found that I just can’t use some of the files and should erase it from my harddisk drive.
Well, back to the MFW K. The transaction cost me $131 (including shipping). Waiting about 2 weeks, then, I got a ticket from Indonesia Post Office. It was said that I should pick it up @Tangerang Post Office,  from 8-12 am; without any notice where the Office is. No addresses, no phone numbers, let alone email address/website. Err, sound so Indonesia, right? :)

So I googled the net. Found some links from domain name www.posindonesia.co.id. Too bad, the domain name was expired that time. (the web now is back alive to the cyberworld.) Thank God, thanks to Google, the information was cached in their server. Got the address, got the number. Another question came, where the Daan Mogot 11, Tangerang would be?

Trying our luck, we drove along Daan Mogot without any result. After many turns & U-turns, we decided to call the number. Now we were heading to the city of Tangerang, and successful this time, we parked our car in front of a public school, next to the Post Office. It was 11.50 am. Regarding how ‘good’ the state officer reputation is, I was almost convinced that our 2-hrs trip would be a waste.

God is good. The curriculum, without any complicated process, was handed to us by exchange it with Rp 7.000.  Not worth it, really, but the trip itself was so adventurous.

I will post my review on this K Curriculum later (later means can be next week or.. next year). Hahaha. God bless you!

My Father’s World The Curriculum

Brand: My Father’s World

Creator: David & Marie Hazell - mereka adalah misionaris, pernah tinggal lama di Rusia

Metode: Menggabungkan Charlotte Mason dan sistem pendidikan klasik dari sudut pandang Alkitab (Kristen).

Akreditasi: Tidak

Biasa disingkat MFW. Webnya bisa diakses di sini. Merupakan unit studies, sehingga bisa dipakai bersama-sama oleh anak dengan usia berbeda (multi-age).

Perjumpaan saya dengan MFW adalah karena saya tertarik dengan kurikulum Sonlight, namun harganya sangat memberatkan kantong. Lagipula buku-buku yang disertakan Sonlight ini sangat banyak, saya pasti akan kebingungan menaruhnya di mana. MFW punya pendekatan yang mirip Sonlight (literatur), tapi tidak perlu membeli bukunya, manfaatkan saja perpustakaan, yang sayangnya di Indonesia jauh dari memadai.

Yang saya sukai dari kurikulum ini adalah, mengajarkan anak untuk berwawasan dunia. Walaupun belum pernah melihat dan memegang bahan-bahan pelajarannya, tapi dari forum diskusi yang ada di situs MFW, saya bisa menarik kesimpulan itu. Saya ingin anak saya belajar tentang hati misi lewat MFW. Sebagian keuntungan diberikan untuk pekerjaan Tuhan di Rusia.

Programnya juga diberi nama berbau petualangan, kelas 2-8: Adventures in MFW, yang dibagi lagi menjadi Exploring Countries and Cultures, Creation to the Greeks, dst.

Harganya terjangkau. Untuk Preschool, enam mainan edukatif mereka tawarkan dengan harga $90. Untuk Kindergarten, cukup mengeluarkan S $105 untuk student material, teacher’s manual dan materi pendukungnya. Saya berencana untuk membeli kurikulum K ini tahun depan, waktu Joel usia 4, walau pasangan Hazell menyarankan foreign children menggunakan K pada usia 5 tahun.

Khusus matematika, mulai kelas 2 SD, mereka menyarankan Singapore Math. Di bawah usia itu, MFW menyediakan sendiri kurikulum matematikanya.

Buku-buku bacaan yang mereka sarankan bersifat optional. Saya sudah menanyakan ke mereka, jika memang fasilitas perpus sulit, bahan dari mereka sudah memadai.

Pembayaran bisa dilakukan dengan kartu kredit (belum bisa Pay-pal). Ongkos kirim ke Indonesia adalah 25% dari harga produk.

Sudah Waktunya Belanja?

 

Sekarang tentang kurikulum, yang tadinya saya pikir adalah segalanya :D.

Kurikulum ready-to-use memang lebih meringankan beban ortu. Tanpa ini, kita harus mendesain sendiri lesson plannya. Hari ini belajar apa saja, tentang apa, dll, bahan pelajaran pun kerap harus kita cari sendiri. Persis seperti yang saya lakukan saat ini untuk preschool-nya Joel. Tapi, memang ada orang yang lebih memilih mendesain sendiri, karena alasan budget atau karena memang senang melakukannya.

Banyak sekali provider kurikulum homeschool. Memang kebanyakan Christian-based, karena dasar gerakan homeschool ini salah satunya adalah keresahan para ortu kristen di negara-negara maju atas kemunduran nilai-nilai moral dan kristiani di public school di negara mereka. Tetapi setahu saya cukup banyak juga pilihan kurikulum non-Christian. Walau demikian, menurut seorang teman yang muslim, Christian-based curriculum ini bisa dimodifikasi sesuai kepercayaan yang dianut keluarga.

Tadinya saya cuma tahu ACE (atau dikenal juga dengan SOT), karena sekolah punya gereja mengadopsi kurikulum ini, dan kebanyakan praktisi homeschool yang saya kenal menggunakan kurikulum ini. Namun, saya kurang suka dengan tampilannya yang jadul abis. Desain sampul, ilustrasi, semuanya kok terasa tidak kontekstual dengan masa kini. Mendapatkan katalognya juga sulit, dioper-oper ke sana ke sini, akhirnya saya disuruh download versi pdf-nya. Padahal saya minta hardcopynya jadi bisa saya bawa-bawa sambil diskusi dengan suami. Menurut beberapa orang materi sekolah dasarnya agak terlalu ‘gampang’, karena memang penekanannya adalah pada karakter si anak. ACE memiliki jasa sekolah jarak jauh, ortu berkorespondensi dengan lembaga yang mereka tunjuk, lalu ada tes/ulangan dan juga ada rapor dan sertifikat. ACE akan menyimpan hasil pencapaian si murid, seperti layaknya sekolah biasa. Untuk warga Indonesia bisa memilih ACA di Australia, Teach Asia di Singapore, untuk lembaga penyelenggara akreditasi ini. Oh ya, dengan begini, anak dianggap lulusan negara si penyelenggara.

Lalu saya pun mendengar tentang Sonlight. Menarik sekali karena mendapat banyak buku bacaan bagus. Pendekatan mereka adalah literatur seperti yang dianjurkan Charlotte Mason, seorang tokoh pendidik. Pendiri (pemilik) Sonlight mereview banyak buku yang dikirim oleh penerbit ke mereka dan buku-buku ini nanti yang akan mereka rekomendasikan sesuai kelompok usianya. Jika kita membeli kurikulum lengkap dari mereka, buku-buku ini termasuk di dalamnya. Harga kurikulum kindergartennya sekitar Rp 3jt-an, masih lebih murah ketimbang sekolah-sekolah ‘bermutu’ di Gading Serpong.

Harga kurikulum semakin mahal untuk kelas yang lebih tinggi. Sonlight tidak menyediakan jasa akreditasi, karena menurut mereka ortulah yang paling tahu kemampuan si anak, ketimbang review berdasarkan hasil tes.

Ada lagi Abekabook. Konon, sekolah Ipeka menggunakan kurikulum mereka. Kabarnya materi A Beka lebih ‘berat’. A Beka menggunakan sendiri buku-buku terbitan mereka di kurikulum mereka. Abeka juga menyediakan servis akreditasi distance-school.

Masih banyak lagi yang lain, makin banyak mencari makin bingung :). Saya sendiri saat ini memutuskan akan menggunakan kurikulum My Father’s World untuk program Kindergartennya. Sepertinya tidak populer di Indonesia, namun ini yang paling sreg di hati. Berbeda dengan kurikulum2 yang saya sebut di atas, MFW menggunakan model Unit Studies atau tematis, semua pelajaran saling terhubung satu sama lain.

Mengapa saya memilih MFW, akan saya bahas di posting berikut.

Untuk preschool, menurut saya harga kurikulum yang ada terlalu tinggi, itu pun belum tentu cocok. Kebanyakan kurikulum preschool adalah belajar alfabet, bentuk, dan angka, juga dasar-dasar phonic. Untuk semua ini, rasanya kita tidak perlu merogoh kocek sampai jutaan. Maka, saya pun memanfaatkan internet menjadi provider saya. Banyak situs menyediakan resource gratis -lembar kerja, art&craft, aktivitas- untuk homeschooler, termasuk usia preschool. Maka, saya jadi rajin download worksheet, artikel, dan bahan-bahan mengajar lain. Saya juga rajin mengintip buku-buku aktivitas di Gramedia. Kalau sedang ada sale, buku2 terbitan India, Malaysia, Singapore, hampir pasti ada yang masuk kantong belanja saya.

Untuk phonic, saya membeli buku seharga 30-an US $ di sebuah toko online di Singapore, ada free shipping untuk buku ini. Oh ya, saya memilih mengajari Joel membaca dengan basic bahasa Inggris. Lebih sulit dari bahasa Indonesia, tetapi karena nanti dia akan menggunakan kurikulum berbahasa Inggris, setidaknya dia harus bisa membaca dalam bahasa Inggris. Tingkat kesulitannya juga cukup tinggi, karena kami tidak menggunakan bahasa Inggris dalam keseharian. Menyadari hal itu, saya mulai banyak memberikan instruksi-intruksi sederhana berbahasa Inggris. Tingkat pencapaiannya menurut saya cukup baik. Anak-anak memang cepat belajar bahasa. Jika nanti bahasa Inggrisnya berlogat lucu.. ya maklumi saja, kita kan bukan native speaker. :)