Reading

Exciting Job: Book Reviewer

Sebulan lalu, berkat kebaikan teman baru saya Phoenix, saya dikirimin segepok buku terbitan Wortel Books, tepatnya 18 buah buku cerita anak. Tugas saya, mereview ke-18 buku ini, phew… :D

Untuk tugas yang menyenangkan ini, saya mendapat ke-18 buku ini for free. Asyik banget, kan? Pilihan bukunya jelas buku berkualitas, saya lihat cukup banyak dari Penguin, beberapa penulisnya juga adalah peraih award. Bukunya lucu2, ilustrasinya bagus2… gratis lagi. Oh ya, Wortel juga mulai menerbitkan buku karangan penulis Indonesia.

Tadinya saya tidak pernah dengar tentang penerbit satu ini. Kenalnya gara-gara adik saya Rita memberikan Joel hadiah sebuah buku berkertas karton tebal (board book) yang lucu sekali. Judulnya When The Elephant Walks, yang ditulis dan dibuat ilustrasinya oleh seorang Amerika keturunan Jepang Keiko Kasza. Berkesan sekali dengan buku itu karena sempat selama seminggu lebih saya dan Pampi harus bacain (atau nemanin dia baca) itu buku sehari dua kali, pengantar tidur siang dan malam. Berkat buku bilingual ini juga Joel jadi lebih pede baca buku berbahasa Inggris.

Ok, inilah foto buku2 yang sudah berhasil saya review, di sini hanya ada 15, masih ada 3 di kamar Joel.

wortelbooks

Thanks berat ya Nix.. makasih ya Wortel. Buku-buku ini sangat berharga untuk keluarga homeschooler seperti kami.

Aesop’s Fables: Free Download

Sebagian besar dari kita tentunya sudah tidak asing dengan dongeng-dongeng binatang seperti kura-kura yang mengalahkan kelinci di lomba lari, belalang yang malas, kura-kura yang diterbangkan bangau, angin utara dan matahari, dll.

Nah, dongeng-dongeng ini konon dituturkan oleh Aesop pronunciation (tulisan aslinya: Æsop), seorang budak yang hidup pada tahun 620–560 SM, jaman Yunani Kuno. *sumber dari Wikipedia*

Ciri khas dongeng-dongengnya adalah muatan moralnya. Mungkin dari sinilah muncul istilah: “Moral of the Story is….”. Pas googling, saya temukan blog berbahasa Indonesia yang menulis tentang Bapak Aesop ini: more about Aesop.

Dongeng-dongeng ini baik diceritakan kepada anak-anak, karena mereka bisa belajar tentang nilai-nilai kebaikan. Dengan catatan, sebagian cerita berlatar belakang mitologi Yunani, jadi jika hal ini menjadi pertimbangan, pilih-pilihlah ceritanya.

Beberapa waktu lalu saya mendownload teks-nya dari gutenberg. Lalu demi kenyamanan mata, kemudahan mencetak dan masalah ergonomis lainnya, saya pun menata kembali letaknya, kali ini pakai Microsoft Word saja, lalu dengan bantuan pdf converter seperti Primo PDF dijadikan sebuah file PDF.

Silakan jika ingin mendownload hasil kerja saya, harus dibuka dengan pdf reader (mis: Acrobat Reader). Ukurannya 2MB lebih. Demi menghindari pengkomersilan (padahal saya dapat teksnya gratis, saya bagi juga dengan gratis), maka saya membatasi akses file ini - tidak bisa copy-paste, hanya bisa diprint atau dibaca di monitor saja.

Download:
Aesopforchildren (screen)- 2MB
theaesopforchildren-printed - 3MB (resolusi cetak)

Jika ingin membaca online, beberapa website mendedikasikan diri untuk Aesop Fables ini.
1. http://aesopfables.com/
2. http://www.bartelby.org/17/1/
3. http://us.penguingroup.com/static/packages/us/yreaders/aesop/index.html
4. http://www.animatedaesopsfables.com/
5. http://www.gutenberg.org

DIY - Book for Readers (Bikin Buku Sendiri)

Kurikulum yang saya pakai menggunakan metode Charlotte Masson, yang menggunakan buku beneran, bukan buku teks. Untuk itu mereka memberikan daftar bacaan yang bisa dengan mudah diakses oleh warga negara maju di perpustakaan tanpa mengeluarkan biaya tambahan (sudah dicover oleh pajak kan?).

Namun, bagi warga negara republik ini mendapatkan buku2 ini (berbahasa Inggris) jelas bukan pekerjaan yang mudah dan murah. Seperti kita tahu perpustakaan umum tidak mudah dijangkau, kelengkapan koleksi bacaan untuk anak usia dini juga agak saya ragukan. Selain itu saya juga agak ragu tempatnya bersahabat untuk anak-anak kecil.

Lalu saya mencoba mencari versi bekasnya lewat eBay. Tapi kemudian saya menyerah, karena buku2 tersebut harganya memang sangat murah tapi ongkos kirimnya luar biasa, dan tidak berada di satu tangan. Seandainya saja ada satu sumber yang menjual semuanya:)

Kemudian saya teringat sebuah project bernama gutenberg. Di sini kita bisa download buku-buku yang masa copyrightnya sudah habis di US, biasanya buku-buku klasik. Buku-buku karya Beatrix Potter misalnya. Saya mendownload semua dari Mrs Potter. Sayangnya mereka tidak menyediakan format PDF, hanya ada versi txt dan html. Saya memilih yang HTML, dan membuat sendiri versi PDFnya.

Misalnya untuk buku The Tale of Peter Rabbit:
1. Buka yang formatnya html dengan size 40KB. Halaman browser akan membuka file ini lengkap dengan gambar2nya. Bisa langsung disimpan atau diprint. Kalau saya memilih menyimpannya dalam bentuk PDF. Untuk ini harus punya PDF converter. Saya menggunakan Primo PDF, gratis.
2. Simpan dalam bentuk PDF. Dari browser pilih File-Print, ubah pilihan printer menjadi Primo PDF.
3. Kalau mau mengubah layoutnya agar sesuai dengan keinginan, gunakan Microsoft Word atau software untuk melayout buku. Saya sendiri menggunakan Adobe InDesign. Setelah selesai proses pewajahannya (layout), tinggal cetak. InDesign memungkinkan saya mencetaknya dalam bentuk bundel.
4. Buku selesai, tinggal dijilid sesuai keinginan.

Semoga bermanfaat

Hubungan Antara Membaca dan Menulis

tulisantangan

Membaca dan menulis ternyata memang sangat berkaitan erat. Saya buktikan teori ini pada Joel. Dari bayi kami sudah perkenalkan dia dengan buku. Lalu, saat dia sudah menguasai alfabet, saya mulai masuk dengan phonic - belajar baca lewat bunyi huruf.

Setelah bisa membaca (atau mengenali) beberapa kata, dia mulai ingin menirukannya lewat tulisan. Yang paling pertama saya ajari adalah mengenali namanya sendiri: Joel. Kemudian, papa, mama, opa, oma, pokoknya yang gampang-gampang. Lalu masuk ke nama-nama kesukaannya yaitu nama dan merk mobil, ia belajar menulis Toyota, Nissan, dll. Sedikit tips, untuk membuat anak lebih pede, dia bisa diajarkan ‘menulis’ di komputer. Ketika dia bisa memunculkan kata itu di layar komputer, tentu si anak akan merasa bangga, dan jadi lebih pede lagi.

Hanya butuh waktu beberapa hari saja, Joel bisa menulis namanya sendiri. Atas inisiatifnya sendiri. Huruf ‘e’-nya masih jauh dari sempurna, tapi tentunya usaha ini harus kita hargai, apalagi atas inisiatif sendiri. Lalu saya melatihnya untuk huruf e, kini dia bisa menulis namanya dengan baik dan cukup rapi.

Setelah mulai menulis, saya temukan terjadi peningkatan yang luar biasa dalam kemampuan membacanya. Kalau menurut teori yang saya baca, menulis membantu otak si kecil untuk encoding-decoding tulisan. Joel bahkan hari-hari ini tergila-gila menulis. Lalu apakah akan saya cegah? Tentu tidak, dia bebas menulis kapan saja di mana saja, asal di kertas. Jangan lupa melatih anak bertanya dulu, apakah kertas itu boleh dia pakai. Joel kami latih dari usia dini untuk tidak mencoreti benda selain kertas. Batasan ini sangat membantu kami ketika anak mulai senang menulis.

Sekali lagi saya ingatkan, jangan pernah memaksa anak. Jangan berambisi menjadikan anak kita anak ‘jenius’ yang bisa apa-apa lebih dulu dibanding teman seusianya. Ketika dewasa, kehebatan ini tidak akan berarti apa-apa. :)