Joel's  book recommendations, reviews, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists

sidenote

Teacher vs Tutor

Tutor[1]Ketika masih kuliah, saat libur semester saya pernah mencoba kerja menjadi guru pengganti di sebuah sekolah. Tidak lama, hanya beberapa kali saja.

Saya juga pernah menjadi guru les (tutor) untuk beberapa anak dari usia SD-SMP. Yang ini saya jalani lebih rutin dan lebih lama. Pemasukan yang saya dapat dari pekerjaan ini membuat saya punya uang saku ekstra dan bisa bernafas lebih lega karena uang kiriman ortu dulu tidaklah berlebihan.

Sekarang setelah saya punya anak, dan meng-HS-kan anak sendiri, terasa sekali peran saya lebih seperti seorang tutor, bukan guru. Lebih sering saya mengikuti irama Joel, saya tidak diburu oleh jam pelajaran, tidak harus disetir oleh kurikulum. Kadang saya lompati bagian2 yang menurut saya dan Joel tidak penting, atau tidak menarik. Dan tidak ada yang akan memecat saya karena ‘pelanggaran’ itu. :p

Tulisan di sini* makin meneguhkan pendapat saya tadi.

*Tulisannya dibuat oleh staf Home Life Academy, sebuah lembaga yang memberikan jasa grading+transcript, counselling & record keeping untuk homeschooler.

Ini saya kutipkan di bawah ini….

I’ve done two years of teaching; and I’ve done a lot of tutoring. They are very different.

The teacher must make the student conform to the schedule.
The tutor may conform the schedule to the student.

The teacher must follow the set curriculum.
The tutor may adapt the curriculum as needed.

The teacher must apply one curriculum to an entire group.
The tutor can custom tailor the curriculum for the individual.

The teacher has limited time to get to know the student.
The tutor gets to know his or her students intimately.

The teacher receives an evaluation from superiors.
The tutor receives an evaluation from the student.

The teacher is viewed by the student as an enforcer of rules.
The tutor is viewed by the student as a resource for further understanding.

The teacher’s job and success is completely measured by the final grades (and now, the standardized tests).
The tutor’s job and success is measured by interaction with the student (through conversation, relaxed projects, field trips, writing and re-writing, etc.).

The teacher’s student is primarily concerned about making the teacher happy.
The tutor’s student is primarily concerned about satisfying their curiosity and desire to learn.

The teacher must keep moving in order to “cover” all the material.
The tutor may take as long as needed for the material to cover itself.

If I could have my way I would change all our correspondance with parents, and all our information on the website, from calling parents “teachers” to calling them “tutors.” It seems to make a great deal of difference.

What a Little Boy Can Do

jo-foto

Little boy can do many things.

Five years old can give Mom helping hands in lots of things.

He helps Mom in the kitchen, his specialty is cooking rice with rice cooker. He also can peel carrot, potato with little help. His initiative to help is the most relieving.

He is also a great friend to his sister. Read to her, keep her a company, play with her.. he is a fun and loving brother. Never did he hit her sister intentionally.

Thanks God, You created a little boy.

Why God Created Little Boys

God made a world out of His dreams
of majestic mountains, oceans and streams,
prairies and plains and wooded land,
then paused and thought…

“I need someone to stand
on top of the mountains, to conquer the seas,
explore the plains and climb the trees.
Someone to start out small
and grow sturdy and strong like a tree,”
and so…

He created boys, full of spirit and fun,
to explore and conquer, to romp and run,
with dirty faces and banged up chins,
with courteous hearts and boyish grins.

When He had completed the task He’d begun,
He surely said, “That’s a job well done.”

Curriculum Review: Math U See

Website: http://www.mathusee.com/

Ini adalah tahun kedua kami dengan Math U See. Dimulai dari level Primer, saat ini Joel sudah berada di lesson 16 level Alpha. Setiap level ada 30 pelajaran.

Math U See (MUS) adalah sebuah kurikulum matematika yang menggunakan pendekatan mastery. Sebelum sebuah topik dikuasai, pelajaran akan terus berkutat di situ. Beda dengan spiral approach yang memperkenalkan sebuah topik kemudian lanjut ke topik berikut dan nanti topik yang sudah diperkenalkan tadi akan dibahas lebih lanjut dalam pelajaran-pelajaran mendatang.

MUS, Math U See, matematika yang bisa kaulihat, mengajak anak melihat melalui balok-balok peraga bagaimana apa yang terjadi saat sebuah operasi matematika dilakukan.

Tingkatan-tingakatan dalam MUS: Primer – Alpha – Beta – Gamma- Delta, dst. Sesuai spirit homeschooling, MUS tidak membuat tingkatannya berdasarkan usia/kelas berapa, karena tiap anak punya kemampuan sendiri-sendiri.

Mengapa saya tertarik dengan MUS?
MUS menekankan pentingnya memahami konsep. Saya ingin anak saya memahami, tidak sekedar menghafal hitungan.

Sebagai contoh, murid-murid seringkali diajar untuk menghafal penjumlahan ini 1+1=2. Tapi dari mana angka 2 itu berasal tidak selalu dipahami oleh mereka.

Juga jika diberikan soal cerita, anak sering kebingungan apa yang harus dia lakukan dengan informasi-informasi yang ada. Dengan dipahaminya sebuah konsep matematika oleh anak, dia akan dengan mudah memutuskan langkah apa yang harus dia ambil.

Selain itu, MUS adalah kurikulum yang dibuat oleh seorang ayah yang juga meng-homeschool-kan anak-anaknya. Steve Demme adalah mantan guru matematika yang berpengalaman mengajar anak-anak dari berbagai usia. Anak Steve yang paling kecil adalah penderita Down Syndrome, sebab itu Steve berani mengatakan bahwa MUS cukup efektif digunakan oleh anak-anak berkebutuhan khusus.

Manipulatives
Terdiri dari 80-piece balok warna-warni. Setiap warna mewakili suatu angka tertentu. Seratus diwaikili balok besar merah yang terdiri dari 100 unit balok kecil. Balok langsing panjang warna biru adalah puluhan yang terdiri dari 10 unit balok kecil. Sementara itu untuk angka 1-9 punya warna masing-masing. Jelasnya lihat di sini: http://www.mathusee.com/manipulatives.html

Saat sudah familiar dengan balok warna, Joel bisa melihat bahwa balok kuning (3) jika digabungkan dengan balok ungu (5) hasilnya sama panjang dengan balok coklat (8). Dengan memahami ini, anak tentu juga akan paham bahwa 5+3 sama dengan 3+5, komposisinya sama, hanya beda letak saja.

Teacher Pack
Terdiri dari Teacher Manual (TM) dan DVD. DVD ini sangaaat membantu jika saya sedang tidak punya ide bagaimana membuat Joel memahami maksud saya. :)

Sebagai contoh adalah topik membaca jam. Kesulitan yang sering dialami biasanya membaca jarum penunjuk jam yang posisinya tidak tepat menunjuk angkanya. Misal: pk 09.40, pada waktu ini, jarum jam sudah bergeser banyak dari angka 9 tetapi belum pas menunjuk angka 10. Steve memberi perumpamaan yang rasanya akan sangat dipahami oleh semua anak di dunia.

“Joel ingat ga waktu mau ulang tahun ke-5? Berapa usiamu waktu itu? Tentu masih 4. Waktu tanggal 29 April malam(Joel lahir tanggal 30 April) berapa umurmu? Sudah 5 tahun blom? Masih 4 kan? Nah, sama, jam juga seperti itu. Sebelum jarum menit menunjuk angka 12, jamnya masih sama,” kira-kira seperti itu.

Juga cara Mr. Demme menjelaskan tentang penempatan nilai (place value). Mr. Demme menganalogikan bahwa angka-angka itu tinggal di sebuah jalan yang bernama Jalan Desimal, dan tiap angka sesuai dengan nilainya tinggal di rumah masing-masing. Rumah di ujung paling kiri adalah rumah unit (satuan), di sebelahnya persis adalah rumah tens (puluhan) dan selanjutnya. Tiap angka sesuai nilainya hanya boleh menempati rumahnya sendiri.

Tanpa TM, workbook hanyalah sekumpulan soal-soal yang membosankan. Sesungguhnya, workbook hanya ‘alat’ untuk melihat apakah anak sudah mengerti apa yang kita jelaskan.

Student Kit
Student Kit terdiri dari 1 workbook dan 1 test booklet.

Ada 30 pelajaran (lesson) dalam tiap tingkatan. Anak diharuskan mengerjakan soal-soal yang ada di dalam workbook. Tidak semua harus dikerjakan, kita bahkan boleh saja skip soal-soal yang ada jika yakin anak sudah mengerti. Di akhir lesson ada systematic review yang berisi soal-soal pelajaran yang sedang dipelajari dan pelajaran yang lalu. Mulai level Alpha ke atas, ketambahan satu bahan test lagi yang disebut Test Booklet (1 lembar per lesson).

Sejauh ini saya cukup puas dengan hasil yang sudah Joel capai. Saya senang dia tahu beberapa cara menjumlahkan. Misalnya untuk soal penjumlahan 8+7, Joel akan menjumlahkan dengan cara yang paling mudah menurutnya.

Yang MUS ajarkan:

  1. Bisa dengan mengambil 2 dari angka 7 — karena 8 ingin sekali menjadi 10– sehingga menjadi 10+5 = 15
  2. Sebaliknya bisa juga 7 yang mengambil 3 dari 8 — karena 7 juga ingin jadi 10 — sehingga tersisi 5+10 = 15. 7 mengambil 3 ini tidak diajarkan khusus, tapi Joel mendapat sendiri logika ini.
  3. Atau bisa juga karena Joel ingat 8+8 = 16, sementara 7 itu kurangnya 1 dari 8, berarti tinggal dikurangi 1 saja — 16-1 = 15

Hal-hal seperti inilah yang membuat saya menyukai MUS, anak jadi berlogika, bukan menghafal, walaupun menghafal juga adalah hal yang dianjurkan oleh MUS.

Selain menggunakan workbook, pengajar juga sangat dianjurkan mengajak anak bermain math game yang termuat juga dalam TM, seperti bermain domino, membangun tembok dari balok-balok, main perang angka, dsbg.

Yang tidak saya sukai
Baik TM, workbook, test book, semuanya hitam putih. :) Jadi kadang terasa membosankan. Jika pernah menggunakan kurikulum matematika yang lain yang penuh gambar dan warna, MUS terlihat begitu membosankan.

Saya sempat kuatir jika Joel mengalami ketergantungan pada balok-balok pembantu ini. Namun kekuatiran saya ternyata tidak terbukti. Dia oke-oke saja, mungkin karena sudah terekam, kadang dia tinggal membayangkan. Mungkin seperti ini juga program sempoa?

MUS tidak banyak drilling, soal pun hanya sekitar 10 per lembarnya. Untungnya disediakan online helps di webnya, dari drill, worksheet generator, loan calculator tersedia di sini.

Saya sedang berpikir untuk memadukan MUS dengan Singapore Math, karena Joel suka mengerjakan worksheet. Dia merasa bangga jika bisa memecahkan soal-soalnya, khususnya soal cerita. Saya cukup heran mengapa dia suka soal cerita. Steve Demme berkata, tujuan matematika sebenarnya adalah supaya kita bisa mengerjakan soal cerita, memecahkan hal-hal yang terjadi dalam keseharian kita dengan matematika.

Review-review yang lain bisa lihat di sini:
http://www.homeschoolmath.net/curriculum_reviews/math_u_see.php atau http://www.homeschoolreviews.com/reviews/curriculum/reviews.aspx?id=158

Beli di mana
Saya membeli MUS ini lewat representatif mereka yang ada di Singapore.
Wong Ching Jenny jenny70@singnet.com.sg
837 Bukit Timah Road
#01-08, Royalville
Singapore 279889
65-6464-6931

Harganya bisa lihat di sini: http://www.mathusee.com/pdfs/singaporeprice.pdf

Versi yang kami peroleh adalah Singapore Edition tentunya. Nanti kalau sudah sampai pelajaran tentang uang, tentu saya harus berikan versi rupiahnya :D . Versi Singapore saya pilih karena menggunakan sistem metrik.

Useful Links
Untuk mengetahui kira-kira ada di mana level murid kita, bisa coba gunakan tes penempatan di web mereka: http://www.mathusee.com/placement.html

O ya, MUS akan mengirimkan DVD demo gratis jika kita memintanya. Atau bisa juga lihat di sini: http://www.mathusee.com/demo.html

Untuk bergabung dengan support groupnya, klik http://groups.yahoo.com/group/mus-users/join

Semoga berguna.

The Stolen Hen

Sudah beberapa hari ini, Joel diperkenalkan (singkat saja) satu kitab baru dari Perjanjian Lama. Hari ini kami sampai ke kitab Hakim-Hakim (Judges).

Kitab ini bercerita tentang peralihan pucuk pimpinan bangsa Israel yang baru saja kembali ke tanah perjanjian saat Joshua meninggal. Kini seorang hakimlah yang ditunjuk untuk menjadi pemimpin mereka, Israel belum punya raja waktu itu.

Nah, sekalian saya jelaskan tentang hakim & pengadilan (ini kosa kata baru buat Joel). Kebetulan minggu depan kami berencana mengajak Joel ke KidZania. Di KidZania ada simulasi pengadilan.

image12

Saya pun berusaha mereka sebuah kasus untuknya. Tentang seorang pencuri ayam yang tertangkap dan diadili di ruang sidang. Sekalian saya bercerita sedikit tentang yang namanya jaksa dan pembela (kosa kata baru juga).

“Hakim nanti yang harus pikirin orang ini salah atau tidak dan berapa lama dia harus dihukum.”

Tambah saya lagi, “Hakim lalu memutuskan orang itu harus masuk penjara satu bulan.”

Joel tampak tercenung. Sepertinya ada beban di hatinya.

“Terus…. ayamnya ikut masuk penjara ga?”

Hmmfff.. Wakakakakakakkaka. Joeeeellll!!! Haduhh. Joel ini benar-benar ada-ada saja.

“Ayamnya mungkin sudah masuk perut si pencuri, Joel.”

Wakakakakaka. Senang ya punya ‘badut’ kecil seperti ini.

*gambar diambil dari sini.*

Sensitivity

Kami sedang berada di area parkir bawah tanah Mal Serpong, ketika Joel bertanya,
“Basement itu bawah tanah, ya.”
“Ya,” jawab saya.
“Terus binatang-binatangnya ke mana kalau bawah tanahnya buat parkir?”

Good question, Joel! Terus terang, saya tidak pernah kepikiran hal semacam ini.

“Binatang-binatangnya pindah, Joel,” jawab saya. Ketika dia bertanya lagi pindah ke mana, Papanya menjawab, “Pindah ke tempat lain, ke bawah tanah juga.”

Pertanyaan ini menyentuh saya.

Sebelum ini dia pernah bertanya, apakah daging yang dia makan binatangnya itu dibunuh. Akhir-akhir ini dia juga hampir selalu memastikan apakah daging yang ada di piringnya itu, binatangnya sudah mati.

Tentu, saya harus pintar menjelaskannya padanya. “Memang ada binatang yang dipelihara untuk diambil dagingnya. Ada juga yang diambil susunya, ada juga yang diambil telurnya, bulunya, dst. Ada juga binatang peliharaan (pet) yang dipelihara untuk dijadikan teman bermain atau untuk jaga rumah, dst.”

Saya bukan vegan, walaupun tidak terlalu menyukai daging merah (read meat, daging dari binatang berkaki 4), namun saya ajarkan padanya untuk menghargai semua ciptaan Tuhan. Bahwa semua yang Tuhan ciptakan itu ada tujuannya, ada gunanya. Bahwa Tuhan sudah tetapkan binatang A akan menjadi makanan binatang B, tumbuhan akan jadi makanan binatang C, dan semuanya harus seimbang. Jika keseimbangan terganggu, hal yang buruk akan terjadi.

Contoh:
“Nyamuk buat apa sih, Ma?” tanyanya sambil menggaruk-garuk kakinya yang penuh dengan gigitan nyamuk.
“Nyamuk itu kan makanan cicak, kodok. Kalau tidak ada nyamuk, cicak dan kodok makanannya jadi berkurang, deh.”

Juga keheranannya tentang tumbuhan,
“Memangnya tumbuhan itu makhluk hidup?”
“Iya dong. Makhluk hidup itu artinya dia bisa bernafas, bisa besar, tumbuh seperti kamu tambah hari tambah besar.”
“Ow. Joel baru tau. Kirain semua yang ga ada mata, hidung, itu bukan makhluk hidup.”
“Lho, kerang kan juga ga punya mata, tapi dia makhluk hidup.”
“Oh, iya ya!”

Kepekaan bisa diajarkan sejak dini pada anak. Kepekaan bahwa dirinya adalah salah satu makhluk hidup yang diciptakan Tuhan untuk hidup berdampingan dengan makhluk lain, belajar menghargai binatang, juga tumbuhan. Peka bahwa dia sebagai makhluk Allah punya peran menjaga keseimbangan, sekecil apa pun peranannya.

Beberapa hal kecil yang bisa dilakukan tangan-tangan kecil ini:
- Tidak mengasari binatang dan tanaman. –> mereka juga mahkluk hidup, teman dan saudara juga tidak boleh dikasari ya… :)
- Membuang sampah pada tempatnya. —> sungai yang dipenuhi sampah membuat air tidak mengalir lancar, banjir bisa terjadi.
- Menggunakan listrik seperlunya. –> pemanasan global bisa mengakibatkan es di kutub mencair, beruang kutub dan penguin bisa kehilangan tempat tinggal.

Hal kecil tapi pasti punya dampak besar buat mereka kelak.

Seperti pertanyaan Joel kemarin, setelah puas menggilas rumput taman seberang rumah dengan roda sepedanya, “Rumput kalo diinjak-injak bisa mati ya, Ma?”

Pleasant Words are a Honeycomb

joel-madu

Nyam..nyam.. madunya enak sekali, Ma. Manis banget…

“Kalo mangkok yang isinya sisa sayuran dari tong sampah gimana?”

Hiiyyy.. ga mau… jijik…

Begitulah hari ini Joel belajar dengan mengalami sendiri ayat dari Amsal 16:24 ini:
Perkataan yang menyenangkan seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang.
Pleasant words are a honeycomb, sweet to the soul and healing to the bones.

Ya. Kata-kata menyenangkan itu seperti madu yang kamu makan tadi.. manis, enak, (dan minta tambah lagi). Tapi sampah tadi.. hiyyy… tempat yang paling cocok adalah tempat sampah. Jadi ingatlah mulai hari ini, kata-katamu yang tidak menyenangkan sama seperti sampah tadi, tidak enak dan bisa membuat orang sakit.

Yuk, kita buang sampahnya.

MFW First Grade

Dua kali ke kantor pos untuk menjemput kiriman kurikulum dari Amrik ini.. akhirnya MFW First Grade sampe di rumah.

Agak kesal juga karena harus membayar hampir 400ribu untuk menebusnya.. sigh.. tapi mau bilang apa, walaupun ini dikategorikan sebagai educational material, saya tetap dianggap sebagai importir. O ya, untuk MFW yang Kindergarten, saya hanya bayar 7rb lho. Selisih harganya padahal hanya 40 $.

OK, ini foto set kurikulumnya:

mfw1stgrade

Isinya:
- Teacher’s Manual
- Student Workbook
- Bible Reader by Marie Hazell
- Bible Notebook
- Student Sheets
- tiga buku science dari Usborne (free)

Kesan pertama… melihat banyaknya item, rasanya lebih value for money ketimbang yang Kindergarten dengan selisih harga hanya 40$.

Kesan kedua.. setelah dibaca2 sekilas, wah… dijamin saya sendiri pasti akan belajar banyak dari kurikulum kelas satu ini. Sekali lagi, MFW memang layak dipujiken atas konsistensinya dalam mengintegrasikan The Bible ke dalam materi. Bayangkan, anak akan menggunakan cerita yang diambil dari Alkitab untuk belajar membaca. Marie Hazell menulis ulang cerita Alkitab – dengan porsi 75% untuk Perjanjian Lama- sesuai dengan metode phonic.

Aktivitasnya pun berkisar pada apa yang anak baca. Saya sempat baca sekilas: membuat kalender ala Yahudi, mempraktekkan pelaksanaan Sabat di rumah :) , dll. Waks :D

Tidak memulai pelajarannya dari jaman prasejarah, di MFW sejarah diajarkan mengikuti timeline Alkitab, dimulai dari hari pertama penciptaan.

Science didasarkan pada buku2 Usborne, sementara Art menggunakan buku dari Mona Brooke: Drawing with Children. Thank God karena MFW menulis lesson plan untuk penggunaan buku bagus yang sudah saya beli dari tahun lalu ini – kalo enggak agak pusing juga karena masih awam.

Suggested reading listnya sangat menarik, khususnya untuk Math. Asyik sekali belajar Math dengan buku2 cerita; MFW mengadaptasi pendekatan Charlotte Mason. Sayangnya harus mimpi dulu baru bisa mendapatkan buku2 ini, terlalu mahal tentunya kalo harus dibeli satu-satu.

O ya, kecuali buku2 Usborne, semua bahan terbitan MFW adalah hitam putih. Jelas tidak semenarik kurikulum dari provider lain seperti: A Beka, Accelerated Christian Education, etc.

Kosakata-kosakata: Joel Jatuh Hati

Dua malam lalu, Joel bilang sama Papa, “Pa, Joel kalo liat tulang ikan, langsung jatuh hati, lho!”

Papa & Mama geli setengah mati mendengar komentarnya.

“Jatuh hati apaan sih, Joel?” tanya Mama.

“Ga tau,” jawab si little boy.

Nah, ini Joel sedang praktek menggunakan kosakata baru yang dia temui di mana-mana. Koran, tivi, majalah, brosur, spanduk, dll. Mama menduga yang Joel maksudkan adalah “ilfil”, bukannya jatuh hati beneran.

Beneran deh, Mama tanya, “Kalo liat tulang ikan Joel jadi seneng banget sama tulang ikannya? Jatuh hati itu artinya sukaaa sekali.”

“O… salah berarti. Bukan. Ralat, deh.”

Maksud Joel ternyata kalo liat tulang ikan dia jadi ga suka. Gitu deh kira-kira. Darimana dia dapatkan kata ini? Hanya Tuhan yang tahu.

ps: sejak mahir baca kosakatanya memang bertambah dengan luar biasa dahsyat dan mencengangkan. Yang agak membingungkan adalah menjelaskan kata: ‘disemayamkan’ yang dia temui di bagian obituari Kompas. Duh.

Our HS’ First Anniversary

Dah setahun kami berhomeschool.

Saya ingin mengenang sedikit. Setelah maju mundur berkali-kali, akhirnya saya kasih kesempatan juga untuk pilihan pendidikan yang bergenre alternatif ini. Kalau tidak pernah mencoba ya tidak tahu kan?

Setelah melalui proses screening, baca review sana-sini, akhirnya saya menjatuhkan pilihan sebuah kurikulum taman kanak-kanak My Father’s World Kindergarten, yang sepertinya pas dengan kepribadian keluarga kami. Untuk pendidikan usia dini, sebenarnya kurikulum ready-made seperti ini tidak 100% dibutuhkan, tapi sebagai pemula rasanya lebih percaya diri jika ada tuntunan. (sebelumnya saya menggunakan bahan dari sana-sini untuk bahan prasekolahnya)

Ok, kurikulum sudah di tangan, maka Januari 2008 kami memulai sebuah awal dari rangkaian panjang petualangan belajar kami.

Seru. Menyenangkan, terutama buat saya. Rasanya mendapat energi untuk menjalani hidup saya sebagai seorang stay at home mom. Rasanya tidak sia-sia memutuskan resign dari kantor setahun lalu. Sepertinya saya belajar lebih banyak ketimbang Joel.

Tapi… perjalanan ini juga penuh dengan ujian kesabaran :) Hidup bersama seorang balita (dan ditambah seorang bayi sekarang)… 24 jam sehari, 7 hari seminggu… tentu membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang ruarr biasa. Saya sendiri menyadari perubahan yang terjadi pada saya dalam setahun belakangan ini. Banyak hal yang ‘bukan gua banget’ sekarang menjadi ‘gua banget’. Anak-anak telah mengajari saya menjadi ibu yang lebih sabar, lebih trampil, lebih fleksibel, lebih banyak pengetahuan, dll.

Dalam satu tahun ini, saya mendapat reward yang sangat besar. Bukan sekedar membuat Joel melek aksara atau bisa menulis dengan baik, atau bisa menggunakan komputer… tapi lebih dari itu, kebanggaan saya, dia suka membaca, dia tau menggunakan komputer untuk hal yang tepat. Satu lagi pada usia menjelang 5 tahun ini, dia terlihat semakin mudah mengaplikasikan kebebasan dengan batasan-batasan yang saya berikan. Dia tahu kapan dia harus berhenti nonton acara televisi kesukaannya, dia tahu kapan harus mematikan komputer tanpa harus diingatkan lagi — cukup lihat jam dinding, yang kemampuan baca jam-nya juga dia pelajari dari kami.

But, he’s no 100% angel. Surely he is a real boy. Dia juga sering bertingkah, sama dengan anak-anak pada umumnya. Tapi saya bahagia karena saya mengikuti secara dekat setiap proses yang dia alami, saya bisa jadi coach buatnya dalam menghadapi tantangan yang dia hadapi. setiap kekesalannya, kemarahannya, kerewelannya juga mendewasakan saya sebagai orangtua yang juga terus belajar menjadi orangtua yang baik.

Homeschooling memang begitu sederhana dan terintegrasi dengan keseharian kami. tidak ada hal yang terlalu besar, tapi juga tidak ada hal yang terlalu kecil, semuanya terjadi tanpa perlu dibuat-buat.

Akhirnya, saya ingin memberi semangat untuk setiap keluarga pelaku homeschooling… keep up the good work!

Belajar Memberikan Bukti

Beberapa waktu lalu Joel menginformasikan kepada kami bahwa ia melihat di kompleks kami ada mobil yang plat (nomor polisi)-nya ada tiga digit huruf di bagian belakang, NFA katanya. Dugaan kami waktu itu dia mengada-ada (yang punya huruf tiga digit di belakang kan sepeda motor?) Atau mungkin dia salah lihat. Tapi dia yakin sekali dia benar.

Beberapa hari yang lalu waktu jalan-jalan sore, Joel menunjukkan kepada saya.. “Ma, itu lho. Yang Joel bilang, di belakangnya ada tiga huruf. NFA.”

Saya hampir tidak percaya. Wah, ternyata nomor registrasi mobil di wilayah Jakarta sudah sampai tiga digit huruf-nya. Wah..wah. Ternyata Joel yang benar ya… maklum kami (Mamanya terutama) sudah jarang menginjak jalan-jalan Jakarta.

Lalu, saya minta Joel fotokan dengan kamera handphone saya, agar bisa diperlihatkan kepada Papa sebagai bukti atas perkataannya. Dan inilah hasilnya:

tigadigit-plat

Demi privasi si pemilik mobil, tentu harus diedit sedikit. Hayo, ada yang bisa tebak mobil apakah ini? ;)