Joel's  book recommendations, reviews, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists

sidenote

Homeschool, Mengapa?

Homeschool memang lagi booming. (Maaf, saya belum menemukan padanan yang paling tepat untuk kata homeschool, jadi untuk sementara kita anggap saja itu kata serapan ya).

Di mana-mana orang ramai membicarakannya. Di media massa mulai banyak diangkat topik ini. Apalagi dengan banyaknya para pesohor (baca: selebriti/selebritas) usia sekolah yang mengambil langkah ini agar sementara berkarir, sekolah jalan terus.

Seminar ini dan itu juga digelar. Kadang bahkan mematok harga yang cukup tinggi untuk sebuah topik semisal: “Peran Orangtua dalam Pendidikan”, yang menurut saya harusnya semua orangtua bisa dapatkan informasi ini tanpa harus bayar mahal.

Lembaga-lembaga penyelenggara homeschool juga mulai bermunculan. Tak heran jika ini dilirik sebagai peluang bisnis. Ada lembaga yang mematok biaya tertentu, uang pangkal, lengkap dengan absen, ujian, tak ada bedanya dengan sekolah biasa. Sehingga saya sendiri mulai bingung, apalagi orang-orang yang baru mau menjajaki homeschool.

Bagi saya, homeschool adalah sebuah pilihan pribadi, yang harusnya adalah keputusan pribadi tanpa terpengaruh pihak luar. Homeschool yang saya jalani saat ini adalah menyediakan diri mengakomodasi kebutuhan anak saya untuk belajar dan terus belajar hal yang baru.

Sebenarnya, proses homeschool sudah dimulai dari bayi. Bernyanyi buat dia, membacakan teks kitab suci, mengajari makan, berjalan, pipis di toilet sampai sukses tidak mengompol adalah ‘pelajaran’ awal dalam hidup si anak. Lalu proses itu berlanjut.

Jika sebagian besar orangtua mengirim anaknya ke sekolah untuk proses lanjutan, ada sebagian kecil yang memilih tetap menjadikan rumah sebagai basis belajar, walau tidak berarti lingkungannya hanya terbatas di rumah. Itulah sebabnya istilah sekolah rumah kurang tepat menggambarkan tentang homeschool.

Sekarang mari bicara dari sisi pandang konsumen. Di jaman ini konsumen mulai mengadakan riset sebelum membeli barang, misal dengan membaca review, tidak percaya begitu saja dengan produser.

Begitu juga saya, ketika belum mantap dengan homeschool, saya mencari sekolah terbaik, yang paling cocok dengan saya. Belum, sampai hari ini belum ada yang benar-benar sreg di hati. Sekolah alam pun yang paling dekat dengan pilihan saya, masih terasa mengganjal karena ada perbedaan prinsip. Sekolah yang agak mendekati prinsip saya, mematok harga yang bikin mata melotot. Lalu, sebagai konsumen, saya putuskan “mengusahakan sendiri”. Ibaratnya, orang yang memilih memasak rendang dengan bumbu bikinan sendiri ketimbang beli jadi atau pakai bumbu instan. Repot, ya, bisa salah, ya, puas, ya.

Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah salah satu cita pendiri republik ini. Jika saya belum dapat sekolah yang ideal, boleh kan saya buat sendiri dengan usaha sendiri? Menghabiskan berjam-jam di depan komputer, berusaha memperkaya diri dengan pengetahuan baru. Nongkrong di toko buku sambil membawa anak tiga tahun yang tidak bisa diam tanya ini tanya itu di setiap buku yang dia baca…. Saya belajar, dia belajar. Kami berdua (bertiga dengan bapaknya, berempat dengan adiknya) terus belajar.

Mmmm… sudah tahu kalau tidak semua ular bertelur? ;)

DIY – Book (Bikin Buku Sendiri)

Kurikulum yang saya pakai menggunakan metode Charlotte Masson, yang menggunakan buku beneran, bukan buku teks. Untuk itu mereka memberikan daftar bacaan yang bisa dengan mudah diakses oleh warga negara maju di perpustakaan tanpa mengeluarkan biaya tambahan (sudah dicover oleh pajak kan?).

Namun, bagi warga negara republik ini mendapatkan buku2 ini (berbahasa Inggris) jelas bukan pekerjaan yang mudah dan murah. Seperti kita tahu perpustakaan umum tidak mudah dijangkau, kelengkapan koleksi bacaan untuk anak usia dini juga agak saya ragukan. Selain itu saya juga agak ragu tempatnya bersahabat untuk anak-anak kecil.

Lalu saya mencoba mencari versi bekasnya lewat eBay. Tapi kemudian saya menyerah, karena buku2 tersebut harganya memang sangat murah tapi ongkos kirimnya luar biasa, dan tidak berada di satu tangan. Seandainya saja ada satu sumber yang menjual semuanya:)

Kemudian saya teringat sebuah project bernama gutenberg. Di sini kita bisa download buku-buku yang masa copyrightnya sudah habis di US, biasanya buku-buku klasik. Buku-buku karya Beatrix Potter misalnya. Saya mendownload semua dari Mrs Potter. Sayangnya mereka tidak menyediakan format PDF, hanya ada versi txt dan html. Saya memilih yang HTML, dan membuat sendiri versi PDFnya.

Misalnya untuk buku The Tale of Peter Rabbit:
1. Buka yang formatnya html dengan size 40KB. Halaman browser akan membuka file ini lengkap dengan gambar2nya. Bisa langsung disimpan atau diprint. Kalau saya memilih menyimpannya dalam bentuk PDF. Untuk ini harus punya PDF converter. Saya menggunakan Primo PDF, gratis.
2. Simpan dalam bentuk PDF. Dari browser pilih File-Print, ubah pilihan printer menjadi Primo PDF.
3. Kalau mau mengubah layoutnya agar sesuai dengan keinginan, gunakan Microsoft Word atau software untuk melayout buku. Saya sendiri menggunakan Adobe InDesign. Setelah selesai proses pewajahannya (layout), tinggal cetak. InDesign memungkinkan saya mencetaknya dalam bentuk bundel.
4. Buku selesai, tinggal dijilid sesuai keinginan.

Semoga bermanfaat

Preschool/Playgroup: Perlukah? (Pro Version)

Catatan: Preschool yang dimaksudkan di sini adalah lembaga bernama sekolah, bukan pendidikan usia dini itu sendiri.

Seorang ahli berpendapat bahwa manfaat terbesar preschool yang tidak didapat anak dari rumah adalah kesempatan berinteraksi dengan anak lain (baca: sosialisasi). Selain itu anak belajar mengatasi anxiety of separation dengan ibu/pengasuhnya dan belajar survive without parents.

Juga dikatakan, dengan melihat bagaimana anak lain melakukan hal-hal yang menantang, akan lebih memotivasi si kecil bahwa dia juga bisa.

Di beberapa negara bagian Amerika Serikat saat ini sudah mulai banyak universal preschool, yaitu preschool gratis untuk semua kalangan. Dikatakan bahwa yang memetik manfaat terbesar dari program ini adalah anak-anak yang dikategorikan beresiko, seperti anak dengan orangtua remaja, atau anak dari lingkungan berbahaya. Dengan catatan, preschoolnya adalah yang memiliki kualifikasi baik, kalau tidak akan memperparah kondisi si anak.

Sementara untuk urusan akademis, sebuah studi dari University of California menyebutkan, di kelas tiga SD, tidak ada perbedaan untuk anak yang bersekolah dari preschool maupun tidak, walaupun anak yang mengenyam pendidikan lebih awal ini lebih dulu bisa membaca ketimbang temannya.

Jika sudah diputuskan untuk menyekolahkan anak pada usia ini, pastikan mutu sekolah – mutu guru – jangan semata-mata karena kurikulumnya. Manfaatkan free-trialnya, seperti yang pernah saya lakukan. Ada anak yang lebih favorit. Sementara seorang anak laki-laki yang sedikit-sedikit menangis mendapat limpahan emosi ketidaksabaran gurunya: “No crying! I’ve told you so many times.” Very discouraging.

Jangan pernah kirim anak ke sebuah preschool karena tetangga juga begitu.

Pandangan saya pribadi, banyak hal yg preschool tawarkan, bisa diusahakan sendiri oleh orangtua. Stimulasi, kecintaan akan belajar, perilaku baik, budi pekerti, dan juga basic lifeskill. Kita tahu sendiri betapa tinggi preschool2 di Indonesia mematok biaya. Dan, kadang kita tidak puas dengan apa yang mereka berikan.

And remember, there are a lot of good choices, not just one.

Preschool/Playgroup: Perlukah? (Versi Kontra)

Di Asia, Indonesia khususnya (karena saya tinggal di sini) memasukkan anak sedini mungkin ke sekolah dianggap sebagai solusi terbaik agar anak bisa ‘belajar’ dari dunia luar. Saya bahkan kenal beberapa orang yang menyekolahkan bayinya yang bahkan belum lancar merangkak. Motivasi para orangtua ini macam-macam,

1. Daripada ditinggal sama pembantu, lebih baik mendapat ‘pendidikan’ atau main dengan terarah di lembaga-lembaga yang biasanya menetapkan tarif tidak murah.

2. Anak perlu bersosialisasi, bergaul dengan teman seusianya/

3. Merasa anaknya berbakat, lebih cerdas dari rata-rata usianya. Sepertinya semua orangtua merasa anaknya berbakat, bukan? :D

3. Ingin anaknya pintar, cepat berbahasa Inggris, Mandarin, dll.

Ketiga alasan yang disebut di atas ini, kemungkinan disebabkan karena dua faktor, orangtua tidak punya cukup waktu – bekerja misalnya, atau orangtua tidak cukup percaya diri mengajar anaknya.

Saya akan mengutip sebuah situs web di AS –  yang dengan cukup radikal mengemukakan beberapa alasan mengapa seharusnya kita tidak perlu mengirim anak kita ke Preschool/Playgroup (PG)/Kelompok Bermain (KB). Saya tambahkan komentar  dalam cetak miring.
1. Ketidakkonsistenan dalam penerapan disiplin. Anak akan terbelah antara sekolah dan rumah. Disiplin dilakukan sekolah biasanya agar tidak terjadi kericuhan, semua senang, semua tenang – paling tidak untuk sementara waktu. Sementara disiplin di rumah dilakukan ortu untuk membentuk kepribadian si anak. Kecuali semua peraturan di sekolah sama persis dengan di rumah.

2. Merenggangkan ikatan emosional ortu-anak. Anak-anak butuh mengekpresikan dirinya secara verbal dalam hubungan satu-satu, dengan orang yang tulus mengasihi dirinya, yang memang berminat betul padanya – siapa lagi kalau bukan ortunya. Lebih baik ia mendapat pujian, peluk, cium dari ortunya bukan? Di sekolah biasanya ada anak emas. Yang sikapnya manis, rajin, dan good-looking (ini beneran lho!) pasti mendapat perhatian khusus dari guru, juga mereka yang ekstra aktif. Lalu bagaimana dengan model anak yang biasa-biasa saja? Apakah mereka lantas tidak dapat perhatian dari gurunya?

3. Merenggangkan hubungan antar saudara.
Nanti, waktu si anak sudah besar, kecil kemungkinan ia masih mengingat teman2 preschoolnya. Namun, hubungan saudara ini kekal. Kakak dan adiklah orang2 terdekat yang bisa memberikan pertolongan saat ada masalah. Familiar kan? Setiap kali ada masalah, kita lebih cari teman ketimbang ortu n saudara, karena hubungan ini tidak terbangun. Tapi, bagaimana dengan anak tunggal ya?

4. Tekad ibu untuk mendidik, mengajar anaknya sendiri bisa terdistorsi, bahkan untuk yang mau homeschool sekalipun. Dengan kepergian anak selama beberapa jam, ibu yang ada di rumah akan menganggur, dan mungkin akhirnya kembali bekerja. Lalu, ia mendapati anaknya sudah terlatih pipis sendiri, sudah kenal warna, angka, huruf, bahkan membaca. Betapa ringannya tugasnya sekarang… Padahal di sini lain, ibu jadi kehilangan keyakinan bahwa ia bisa mengajarkan hal2 dasar ini pada anaknya. Setelah mengajar sendiri anak saya, dan dia sekarang sudah mulai membaca kata2 pendek (2 suku kata) saya jadi pede sekali. Ternyata, tidak perlu sekolah guru untuk itu ya.

6. Anak yang masih kecil akan terekspos dengan sikap destruktif anak lain. Bahkan di sekolah berbasis agama, Kristen sekali pun, ada anak yang di rumahnya bebas menonton TV, terekspos dengan pornografi, biasa mendengarkan makian, dan hal2 lain yang kita tidak ingin anak kita tahu pada usia sedini ini. Saya pernah mendengar anak berusia 2-3 tahun berkata pada temannya, “Ada hantu. Hiyyy..”
Apa pendapat anda jika anak anda kemudian beberapa malam bermimpi buruk, ketakutani? Atau suatu hari anak KB anda berkata, “Sialan Mami! Bego Mami! atau lebih parah lagi: Mami, f*ck you.”
Sayang bukan, padahal kita sudah berusaha menciptakan lingkungan yang positif untuk anak kita. Tidakkah terlalu dini baginya, dia baru berumur errr… dua atau tiga tahun?

7. Sekolah memberikan diagnosis tidak akurat. Tiba-tiba sekarang banyak anak yang dicap ADHD dan berbagai label masa kini. KB bersama para pakar pendidikan memposisikan diri sebagai pihak yang berhak menghakimi anak anda. Lebih baik berikan dia dukungan emosional, kasih tak bersyarat. Jika anda punya bayi, batita, balita, andalah homeschooler. Proses ini sudah dimulai ketika bayi lahir dan akan terus berlanjut. Anda yang mengajarkan si bayi bernyanyi, membaca buku untuknya, bermain dengannya bukan? Atau… orang lain?

Tidak adil jika tidak memberikan versi pro-nya. Akan saya teruskan di posting berikut.

To Pick-up the Curriculum (Menjemput Kurikulum)

An order has been placed. I have made my mind, put my hope on MFW Kindergarten curriculum.

Through email correspondence, the staff suggested I better start the K curriculum at 5. This curr. was designed for a 5 yo, or as young as an mature 4-yo. But, I was too curious, couldn’t wait any longer. I was so thirsty :D

No, it’s not true, I’m not that thirsty, I was just tired with browsing, downloading, collecting, and sorting all the files I got from the net. Yes, there are tons of free (say it again F-R-E-E) resources.  But, in fact, in my case, the freebies would possibly bring headache. Everything seemed so interesting and important, like the big sale in a mall. After the long hours I spent in front of my computer, I found that I just can’t use some of the files and should erase it from my harddisk drive.
Well, back to the MFW K. The transaction cost me $131 (including shipping). Waiting about 2 weeks, then, I got a ticket from Indonesia Post Office. It was said that I should pick it up @Tangerang Post Office,  from 8-12 am; without any notice where the Office is. No addresses, no phone numbers, let alone email address/website. Err, sound so Indonesia, right? :)

So I googled the net. Found some links from domain name www.posindonesia.co.id. Too bad, the domain name was expired that time. (the web now is back alive to the cyberworld.) Thank God, thanks to Google, the information was cached in their server. Got the address, got the number. Another question came, where the Daan Mogot 11, Tangerang would be?

Trying our luck, we drove along Daan Mogot without any result. After many turns & U-turns, we decided to call the number. Now we were heading to the city of Tangerang, and successful this time, we parked our car in front of a public school, next to the Post Office. It was 11.50 am. Regarding how ‘good’ the state officer reputation is, I was almost convinced that our 2-hrs trip would be a waste.

God is good. The curriculum, without any complicated process, was handed to us by exchange it with Rp 7.000.  Not worth it, really, but the trip itself was so adventurous.

I will post my review on this K Curriculum later (later means can be next week or.. next year). Hahaha. God bless you!

Arti Homeschool Buat Saya

Seperti yang saya ceritakan di posting2 awal, saya memang sempat on-off-on-off dalam kepastian menghomeschool Joel. Namun setelah dijalani, benar kata teman saya, ada kasih karunia.

Tipe tidak sabaran? Tidak punya latar belakang pengajar? Takut anak kekurangan sosialisasi? dan alasan-alasan lain biasanya jadi dasar keraguannya.

Sebuah pertanyaan menjadi bahan perenungan saya. Mengapa orang yang sama, yang mengajar anak kita berdiri, tepuk tangan, toilet training, memegang sendok, harus meragukan kemampuannya untuk mengajar anaknya sendiri?

Guru, sehebat apa pun dia, tetap orang luar. Dia tidak berada di dalam rumah, sehingga dia tidak punya perspektif yang sama dengan kita. Saya tidak bilang sekolah itu buruk, tapi, maksud saya di sini homeschool pun tidak kalah kualitasnya. Apalagi si pendidik (biasanya ibu) pasti punya hati untuk memberi yang terbaik buat anaknya, dan nilai tambah lain, ibu bisa menyesuaikan gaya belajar anaknya tanpa mengganggu kepentingan umum.

Jika masalah akademis yang kita takutkan.. ada begitu banyak kurikulum di luar sana yang membuat kita bisa jadi ‘guru’. Pegangan ortu ini sangat akan sangat membantu, karena biasanya sudah ada lembar jawabannya. Nah, masalah bagaimana caranya anak menemukan sendiri jawabannya, itu yang jadi tantangan.

Pernah tidak mengalami saat kita sudah sedewasa ini, ketika kita punya sebuah pertanyaan yang tak terjawab dan kita mencoba mencari tahu. Seperti saya jika ada kata yang tidak saya mengerti, saya akan panggil Mr. Google, atau tanya2 orang. Itulah yang disebut proses menemukan jawaban. Itu, yang ingin saya ajarkan kepada anak saya.. punyalah rasa ingin tahu, dan mama akan bantu kamu mencari jawabannya dengan menyediakan fasilitas2 spt buku, internet, dll. Si mama sendiri tentu harus tak henti2nya memperkaya diri agar tidak ketinggalan dengan anaknya. :)

Homeschool selain membuat saya tambah ‘pintar’, membuat Joel bisa tetap mengajukan 101 pertanyaan, bisa main dengan mobil2annya, bisa istirahat jika capek, bisa lari sana lari sini sambil bawa pensil warnanya, dst.

Belajar Lagi

Salah satu manfaat homeschool bagi si pendidik (atau home educator) adalah dia bisa belajar lagi.

Setelah lama tamat dari sekolah, banyak sekali pelajaran yang sudah saya lupakan, dan otak jadi mulai tumpul. Nah, benar juga kata Andrias Harefa , STTB itu benar-benar sebuah kutukan. Kutukan untuk tamat belajar :D

Saat lulus dari sekolahnya, pelajar-pelajar kita punya tradisi meluapkan sukacitanya dengan corat-coret seragam. Beberapa mungkin lega luar biasa karena tidak perlu belajar lagi. Seperti saya, yang luar biasa senangnya tidak perlu menghapal rumus-rumus kimia. I hate chemistry, till now.

Juga ketika dinyatakan lulus sebagai sarjana komputer dari sebuah universitas di Jakarta… Bahagianya tidak bertemu pelajaran-pelajaran nan rumit yang bikin otak saya melilit.

Lucu ya kalau dipikir-pikir. Kita kan bayar untuk sekolah dan biayanya tidak sedikit. Tapi, walau tidak merasa senang dengan apa yang kita beli, dan tidak semuanya bermanfaat, kita tidak berbuat apa-apa selain menjalani dengan terpaksa. Mungkin karena selembar kertas bernama sertifikat, ya si STTB itu.

Back to topic :D , toh tidak akan mengubah apa-apa dengan mengeluh seperti ini.

Untuk mengajar Joel hal-hal dasar, saya mengunjungi banyak situs. Luar biasa, ternyata sangat banyak resource di dunia maya ini. Yang gratis pun tak terkira banyaknya. Tugas saya hanya mengumpulkan dan memilah-milahnya.

Yang pertama, membaca. Saya bukan jenis orangtua yang ingin anaknya bisa ini bisa itu di usia muda. Tapi, hendaknya kita juga bijak mengenali kebutuhan anak kita. Untuk kasus saya, Joel sudah sangat mature untuk diajari membaca. Dari usia dua tahun dia sudah hapal alfabet, dan sangat ingin membaca semua tulisan yang dia lihat, khususnya yang berhubungan dengan mobil.

Saya pun googling bagaimana mengajar anak membaca dengan metode phonic. Sempat takut dan gentar. Mengajar membaca apalagi bahasa Inggris, jelas bukan pekerjaan mudah. Apalagi untuk orang yang tidak punya latar belakang mengajar seperti saya. O ya, alasan saya mengajarnya membaca dalam bahasa Inggris karena nanti saya akan menggunakan kurikulum berbahasa Inggris, jadi Joel setidaknya harus bisa bahasa Inggris pasif. Butuh usaha dari saya.

Kedua, matematika. Jangan bayangkan matematika yang susah-susah ya. Yang dimaksud matematika untuk anak playgroup/preschool itu adalah konsep matematika sederhana. Membandingkan, berhitung dalam urutan, berhitung mundur, menghitung jumlah, sampai penjumlahan sederhana.

Ketiga, mencari aktivitas yang menyenangkan dan dapat menstimulasi si preschooler . Untuk membuatnya sibuk, berarti saya harus mempelajari tahap-tahap perkembangan si anak, sejauh mana motorik kasar, motorik halus, mental dan intelektualnya telah berkembang.

Lihat, saya belajar banyak hal yang tidak saya ketahui sebelum ini. Menjadi ibu yang ada di rumah (baca: Ibu Rumah Tangga) tidak berarti kita jadi orang yang terhenti pengetahuannya kan? Justru sekarang saya punya kesempatan belajar yang buanyak. Jika dulu hanya bisa baca headline dan beberapa artikel pilihan, sekarang saya bisa baca koran sampai habis, termasuk cerita bersambungnya, hehehe. Pendek kata, saya terus memperkaya diri tiap hari.

Anak usia preschool sedang mengembangkan kecintaannya akan belajar, mereka menyerap hal baru setiap saat, dan sangat bergairah olehnya. Tugas saya adalah tidak mematikan hasrat belajarnya ini, salah satunya dengan mengakomodasi semua pertanyaan yang aneh-aneh.

Harapan saya, Joel akan terus ‘suka’ belajar, tidak seperti saya dulu yang belajar hanya kalau ada ulangan. Dan, rumah adalah tempat terbaik untuk memulai kecintaan akan belajar ini.

My Father’s World The Curriculum

Brand: My Father’s World

Creator: David & Marie Hazell – mereka adalah misionaris, pernah tinggal lama di Rusia

Metode: Menggabungkan Charlotte Mason dan sistem pendidikan klasik dari sudut pandang Alkitab (Kristen).

Akreditasi: Tidak

Biasa disingkat MFW. Webnya bisa diakses di sini. Merupakan unit studies, sehingga bisa dipakai bersama-sama oleh anak dengan usia berbeda (multi-age).

Perjumpaan saya dengan MFW adalah karena saya tertarik dengan kurikulum Sonlight, namun harganya sangat memberatkan kantong. Lagipula buku-buku yang disertakan Sonlight ini sangat banyak, saya pasti akan kebingungan menaruhnya di mana. MFW punya pendekatan yang mirip Sonlight (literatur), tapi tidak perlu membeli bukunya, manfaatkan saja perpustakaan, yang sayangnya di Indonesia jauh dari memadai.

Yang saya sukai dari kurikulum ini adalah, mengajarkan anak untuk berwawasan dunia. Walaupun belum pernah melihat dan memegang bahan-bahan pelajarannya, tapi dari forum diskusi yang ada di situs MFW, saya bisa menarik kesimpulan itu. Saya ingin anak saya belajar tentang hati misi lewat MFW. Sebagian keuntungan diberikan untuk pekerjaan Tuhan di Rusia.

Programnya juga diberi nama berbau petualangan, kelas 2-8: Adventures in MFW, yang dibagi lagi menjadi Exploring Countries and Cultures, Creation to the Greeks, dst.

Harganya terjangkau. Untuk Preschool, enam mainan edukatif mereka tawarkan dengan harga $90. Untuk Kindergarten, cukup mengeluarkan S $105 untuk student material, teacher’s manual dan materi pendukungnya. Saya berencana untuk membeli kurikulum K ini tahun depan, waktu Joel usia 4, walau pasangan Hazell menyarankan foreign children menggunakan K pada usia 5 tahun.

Khusus matematika, mulai kelas 2 SD, mereka menyarankan Singapore Math. Di bawah usia itu, MFW menyediakan sendiri kurikulum matematikanya.

Buku-buku bacaan yang mereka sarankan bersifat optional. Saya sudah menanyakan ke mereka, jika memang fasilitas perpus sulit, bahan dari mereka sudah memadai.

Pembayaran bisa dilakukan dengan kartu kredit (belum bisa Pay-pal). Ongkos kirim ke Indonesia adalah 25% dari harga produk.

Sudah Waktunya Belanja?

Sekarang tentang kurikulum, yang tadinya saya pikir adalah segalanya :D .

Kurikulum ready-to-use memang lebih meringankan beban ortu. Tanpa ini, kita harus mendesain sendiri lesson plannya. Hari ini belajar apa saja, tentang apa, dll, bahan pelajaran pun kerap harus kita cari sendiri. Persis seperti yang saya lakukan saat ini untuk preschool-nya Joel. Tapi, memang ada orang yang lebih memilih mendesain sendiri, karena alasan budget atau karena memang senang melakukannya.

Banyak sekali provider kurikulum homeschool. Memang kebanyakan Christian-based, karena dasar gerakan homeschool ini salah satunya adalah keresahan para ortu kristen di negara-negara maju atas kemunduran nilai-nilai moral dan kristiani di public school di negara mereka. Tetapi setahu saya cukup banyak juga pilihan kurikulum non-Christian. Walau demikian, menurut seorang teman yang muslim, Christian-based curriculum ini bisa dimodifikasi sesuai kepercayaan yang dianut keluarga.

Tadinya saya cuma tahu ACE (atau dikenal juga dengan SOT), karena sekolah punya gereja mengadopsi kurikulum ini, dan kebanyakan praktisi homeschool yang saya kenal menggunakan kurikulum ini. Namun, saya kurang suka dengan tampilannya yang jadul abis. Desain sampul, ilustrasi, semuanya kok terasa tidak kontekstual dengan masa kini. Mendapatkan katalognya juga sulit, dioper-oper ke sana ke sini, akhirnya saya disuruh download versi pdf-nya. Padahal saya minta hardcopynya jadi bisa saya bawa-bawa sambil diskusi dengan suami. Menurut beberapa orang materi sekolah dasarnya agak terlalu ‘gampang’, karena memang penekanannya adalah pada karakter si anak. ACE memiliki jasa sekolah jarak jauh, ortu berkorespondensi dengan lembaga yang mereka tunjuk, lalu ada tes/ulangan dan juga ada rapor dan sertifikat. ACE akan menyimpan hasil pencapaian si murid, seperti layaknya sekolah biasa. Untuk warga Indonesia bisa memilih ACA di Australia, Teach Asia di Singapore, untuk lembaga penyelenggara akreditasi ini. Oh ya, dengan begini, anak dianggap lulusan negara si penyelenggara.

Lalu saya pun mendengar tentang Sonlight. Menarik sekali karena mendapat banyak buku bacaan bagus. Pendekatan mereka adalah literatur seperti yang dianjurkan Charlotte Mason, seorang tokoh pendidik. Pendiri (pemilik) Sonlight mereview banyak buku yang dikirim oleh penerbit ke mereka dan buku-buku ini nanti yang akan mereka rekomendasikan sesuai kelompok usianya. Jika kita membeli kurikulum lengkap dari mereka, buku-buku ini termasuk di dalamnya. Harga kurikulum kindergartennya sekitar Rp 3jt-an, masih lebih murah ketimbang sekolah-sekolah ‘bermutu’ di Gading Serpong.

Harga kurikulum semakin mahal untuk kelas yang lebih tinggi. Sonlight tidak menyediakan jasa akreditasi, karena menurut mereka ortulah yang paling tahu kemampuan si anak, ketimbang review berdasarkan hasil tes.

Ada lagi Abekabook. Konon, sekolah Ipeka menggunakan kurikulum mereka. Kabarnya materi A Beka lebih ‘berat’. A Beka menggunakan sendiri buku-buku terbitan mereka di kurikulum mereka. Abeka juga menyediakan servis akreditasi distance-school.

Masih banyak lagi yang lain, makin banyak mencari makin bingung :) . Saya sendiri saat ini memutuskan akan menggunakan kurikulum My Father’s World untuk program Kindergartennya. Sepertinya tidak populer di Indonesia, namun ini yang paling sreg di hati. Berbeda dengan kurikulum2 yang saya sebut di atas, MFW menggunakan model Unit Studies atau tematis, semua pelajaran saling terhubung satu sama lain.

Mengapa saya memilih MFW, akan saya bahas di posting berikut.

Untuk preschool, menurut saya harga kurikulum yang ada terlalu tinggi, itu pun belum tentu cocok. Kebanyakan kurikulum preschool adalah belajar alfabet, bentuk, dan angka, juga dasar-dasar phonic. Untuk semua ini, rasanya kita tidak perlu merogoh kocek sampai jutaan. Maka, saya pun memanfaatkan internet menjadi provider saya. Banyak situs menyediakan resource gratis -lembar kerja, art&craft, aktivitas- untuk homeschooler, termasuk usia preschool. Maka, saya jadi rajin download worksheet, artikel, dan bahan-bahan mengajar lain. Saya juga rajin mengintip buku-buku aktivitas di Gramedia. Kalau sedang ada sale, buku2 terbitan India, Malaysia, Singapore, hampir pasti ada yang masuk kantong belanja saya.

Untuk phonic, saya membeli buku seharga 30-an US $ di sebuah toko online di Singapore, ada free shipping untuk buku ini. Oh ya, saya memilih mengajari Joel membaca dengan basic bahasa Inggris. Lebih sulit dari bahasa Indonesia, tetapi karena nanti dia akan menggunakan kurikulum berbahasa Inggris, setidaknya dia harus bisa membaca dalam bahasa Inggris. Tingkat kesulitannya juga cukup tinggi, karena kami tidak menggunakan bahasa Inggris dalam keseharian. Menyadari hal itu, saya mulai banyak memberikan instruksi-intruksi sederhana berbahasa Inggris. Tingkat pencapaiannya menurut saya cukup baik. Anak-anak memang cepat belajar bahasa. Jika nanti bahasa Inggrisnya berlogat lucu.. ya maklumi saja, kita kan bukan native speaker. :)

The Home(pre)school Begins

Sekarang Joel umur tiga tahun. Hampir semua orang bertanya dia sekolah di mana. Terus terang saya agak risih dengan pertanyaan itu dan capek juga menjawabnya, walaupun kebanyakan pertanyaan itu adalah basa-basi.

Saya dan Pampi dari dulu sudah mempertimbangkan yang namanya homeschool. Maka saya pun mencari berbagai informasi tentang ini, termasuk bergabung dalam milis homeschool. Di rumah pun ada beberapa katalog curriculum provider, semuanya Christian-based dan dari US. Ada yang model sekolah jarak jauh, jadi ortu melakukan korespondensi dengan si sekolah/akademi itu, ada juga yang sepenuhnya dikelola oleh si ortu sendiri, dari record keeping sampai evaluasi. Tentang kurikulum ini akan saya tuliskan di posting berikut.

Awalnya saya masih on-off tekad homeschoolnya. Yang agak saya kuatirkan adalah bisakah saya mengajarinya membaca, menulis. Lalu bagaimana akreditasinya selain juga sedikit masalah kekuatiran sosialisasi. Saya sempat survei ke beberapa playgroup, namun langsung mengurungkan niat begitu melihat suasana sekolah atau mendengar biaya yang mereka pasang. Dengan anak satu, sebenarnya kami bisa saja mengusahakan uang sekolah yang berkisar 500-800 ribu itu (belum termasuk uang pangkal 3jt-12jt sampai lulus TK). Tapi kalau dipikir-pikir, sebanding tidak pengeluaran kita dengan apa yang kita dapat. Lagipula saya tidak mau Joel dijejali pelajaran-pelajaran yang tidak perlu di usia bermainnya ini.

Pertengahan Juli lalu, saya memantapkan tekad, memulai home(pre)school ini dengan lebih teratur. Tadinya kami tidak punya waktu belajar tetap. Tujuan waktu belajar terjadwal ini tidak lain hanya agar Joel mengerti tentang rutinitas. Di luar jam belajar tetapnya ini, tentu saja dia boleh belajar kapan saja. Harap diingat, anak preschool itu hidupnya adalah untuk belajar, dia belajar apa saja, kapan saja, di mana saja.

Saya menggunakan buku Slow & Steady Get Me Ready (Grasindo), buku-buku aktivitas terbitan Grasindo lain yang saya beli pas sale; bahan pengenalan matematika dari US Education Dept – untuk preschool tentu; lembar kerja gratisan (tinggal print) dari beberapa situs. Beberapa di antaranya: firstschool, AtoZ Kids Stuff dan banyak lagi. Saya juga download beberapa lesson plan, Core Knowledge dan Fun Lesson Plans; ini beberapa yang saya jadikan acuan. Tidak lupa saya cari Bible activities juga, kebanyakan gambar-gambar untuk diwarnai. Juga beberapa minibook untuk dijadikan bahan bacaan.

Itu hanya beberapa yang saya pakai. Memang agak repot, mencari, mengumpulkan, mensortir, mencetak, mengemasnya supaya lebih cantik, tapi sejauh ini saya nikmati kerepotan ini. Menjadi seorang ibu dan pendidik tentunya harus mau repot, kan bukan single lagi. :)

Setelah berjalan beberapa waktu ini, rasanya saya tidak akan mundur lagi. Joel yang aktif ini, terlihat sangat menikmati learning-with-mommy ini. Dia berdoa sebelum waktu rutin dimulai. Lalu dengan semangat mengerjakan ‘tugas-tugas’nya. Saya melihat perkembangan yang sangat berarti buat saya. Dia mulai membaca, juga sekarang sudah bisa menulis namanya sendiri. Siapa yang mengajar? Mama. Ternyata selain mewarnai dan menyanyi (yg saya lebih PeDe ngajarnya) saya bisa mengajar Joel baca, bisa mengajar Joel menulis. Bukan apa yang dia capai yang terpenting, tapi perkembangannya itu yang menambah ke-PeDe-an saya. Whoa, now I know what a mom can do :d. Dengan confident saya bisa bilang, home is the place to nurture this young mind.