Music & Art

artMusik dan seni itu juga penting lho. Jangan lupa berikan kesempatan anak untuk eksplor.

Sejak Desember 2007, Joel ikut les di Global Art. Lumayan, memberinya kesempatan berinteraksi dengan anak lain yang juga rata-rata tidak sebaya. Saya lihat perkembangan motorik halusnya banyak kemajuan. Mewarnai sudah jauh lebih rapi, bisa kontrol pensil dengan lebih baik waktu menulis.

masterpiece

Suatu hari di rumah, dia ingin ‘melukis’. Dan inilah hasil karyanya, a masterpiece from a 3 years old.

Musik juga perlu dan penting, mengingat di Indonesia apresiasi seni masih amat kurang. Buktinya ya, pengalaman saya sendiri selama bersekolah.. pelajaran kesenian itu masuk kategori ‘tidak penting dan tidak menentukan’. Tidak ada kurikulum serius tentang seni di negara kita. Kalau mau belajar tentang seni, harus les. Sementara di kurikulum homeschool yang saya pakai, dari usia TK sudah diberikan pengenalan musik klasik, juga teknik2 menggambar yang semuanya akan mulai diseriusi pas kelas 1/grade 1.

musicNah, inilah Joel bersama keyboard Yamaha PSR-350 kami yang sudah uzur. Saya sendiri belajar otodidak waktu SMP - seperti dapat enlightment waktu itu. Karena tidak pernah kursus musik sama sekali, ya akhirnya pasti mentok, dan saya ingin nanti Joel bisa belajar di tempat kursus musik yang baik - alat musik apa saja, dari piano - drum. Sekarang yang bisa saya lakukan hanya mengajarinya peka musik, buktinya dia selalu bisa menyanyi tanpa meleset dari tonenya alias tidak fals.

Yuk nyanyi!

Matematika

Matematika yang jadi momok buat sebagian orang (baca: anak) sebenarnya bisa dipelajari secara natural dan terintegrasi dengan hal-hal lain.

Bayangkan hidup tanpa memiliki dasar-dasar matematika. Pasti bakal sering dibohongi orang lain, karena tidak bisa berhitung. Berpikir logis pun jadi sulit.

Kami (Joel dan mama) melakukan kegiatan matematika secara alami saja. Awalnya yang diperkenalkan adalah konsep klasifikasi. Juga mengenali pola. Juga tentang kuantitas: besar, kecil, banyak, sedikit, dan seterusnya.

Untuk anak prasekolah, berdasarkan pengalaman pribadi, lebih mudah mengajaknya memahami matematika melalui kegiatan sehari-hari.

Saya memulainya dengan bagian tubuhnya. Ada berapa mata Joel? Berapa hidung Joel? Ada berapa jari tanganmu, dll. Kami juga belajar matematika dengan lagu: Ten Little Indian Boys, One Two Buckle Your Shoes, Nama-nama Hari, Satu Dua Tiga Empat, dst.

Konsep penjumlahan, pengurangan sederhana, lebih mudah diajarkan dengan menggunakan ‘alat peraga’, bisa dengan biskuit yang dia makan, tusuk gigi, dll. Tabel juga bisa membantu anak belajar secara visual tentang konsep puluhan/ratusan.

Hampir tiap hari Joel mengisi tanggal di kalender ‘blank’-nya. Saya mendownloadnya dari sini, dan memodifikasinya sendiri, dihias dengan gambar-gambar lucu. Lebih mudah baginya belajar tentang tanggal dengan cara ini. Kadang dia lebih ingat dari saya tanggal berapa hari ini :).

Lalu, kalau selesai ‘belajar’ Joel mengisi juga 100 chart-nya. Tabel ini membantu untuk pengenalan konsep desimal. Tabel ini bisa dibuat sendiri dengan spreadsheet/word processor apa saja, atau digambar sendiri. Buat tabel 10×10, cukup besar untuk ditulisi. Anak bisa mengisinya setiap belajar. Tiap mengisi, dia akan dapat hadiah, sebuah sedotan/sendok es krim/atau apa saja yang kalau sudah berjumlah sepuluh, akan diikat.

Metode ini terbukti lebih efektif, ada proses visual (melihat tabel & hadiahnya), proses kinetik (menulis). Waktu menulis angka 7, Joel dengan mudah tahu - dari tabel yang masih kosong, agar sedotan2nya bisa diikat, dia harus menambah tiga sedotan lagi. Juga dia tahu satu ikatan (10) ditambah lima sedotan - kondisi saat ini- adalah lima belas.

Saya kurang tahu apakah proses berpikir logis yang dia dapat dari pelajaran2 sederhana ini yang membuatnya berkata kepada saya, “Ma, nanti kalau bulan Juni, gusi Mama tidak berdarah lagi, ya?”

Mau tahu kenapa dia bilang begitu? Karena dia melihat kalau saya gosok gigi, hampir selalu gusi saya berdarah; saya sedang hamil dan akan melahirkan adiknya bulan Juni nanti. Jadi, begitulah dia berpikir. Cukup logis kan?

Homeschooling dan Ibu Bekerja

Barusan saya ditanya tentang mungkinkah melakukan homeschool, sementara ibu tetap bekerja.

Jawabannya susah-susah gampang menurut saya. Tapi mari melihat kondisi saya sehari-hari.

Setelah antar Papa ke kantor, kami akan belajar bersama (tergantung Mama ada kerjaan mendesak atau tidak). Dia tidak pernah menolak, bahkan inisiatif ini kebanyakan datang dari dia. “Yuk, belajar, Ma!” karena kadang-kadang terus terang saya masih ngantuk karena tidur kemalaman - biasanya karena lagi ada proyek.

Tapi pagi ini, Joel ingin nonton VCD karaoke Kevin&Karyn yang sudah lebih dari tiga bulan tidak dia tonton. Padahal, semalam saya sudah siapin untuk bahan hari ini - saat ini kami sedang di unit Apple; kami menggunakan My Father’s World Kindergarten sebagai pedoman kegiatan belajar. Ya sudah, ‘belajar’nya nanti sore aja, deh.

Sambil nonton tidak berarti dia tidak belajar. Kebetulan di videonya, Kevin&Karyn (those lucky children), pergi ke negara2 lain-Cina, Singapore, Italia, dll. Latar belakangnya kebanyakan musim dingin/semi. Waktu Kevin sedang nyanyi di Greatwall, Joel langsung komen, “Lagi musim dingin, ya.” Saya tanya kenapa dia bilang gitu, dia jawab karena pohon2nya kering, tidak ada daun. Saya bilang, mungkin lagi musim dingin, mungkin juga lagi musim gugur. Lalu saya ceritakan pengalaman saya waktu ke Beijing, dan ke Greatwall pada musim dingin. Dan, dia pun tanya, kenapa dia tidak diajak… hehehehee. Dia sangat ingin melihat salju.. padahal saya juga belum pernah lihat salju secara langsung.

Hari-hari ini Joel sangat tertarik dengan negara2 lain. Inflattable globe (berbentuk mainan bola), peta yang ada di agenda2, selalu menarik perhatiannya saat ini. Dia sangat tertarik dengan konsep 4 musim di negara subtropis, dia sangat ingin tahu apa yang terjadi di kutub utara dan kutub selatan, apakah waktu musim semi di kutub selatan pinguinnya merasa senang - karena saya cerita, orang2 di negara 4 musim sangat senang dengan datangnya musim semi, bahkan ada perayaannya, dll.

Ada juga masa2 dia sangat terobsesi pada USA. Beberapa minggu lalu dia minta saya perlihatkan (setengah memaksa) gambar2 Greenland, Canada, Brazil, Hawaii, dll. Maka, saya pun harus memangku dia dan minta bantuan Google mencarikan gambar2 negara2 ini buat dia. Dia juga minta diperlihatkan benderanya. Belum lagi dia ingin melihat foto orang Eskimo (Innuit) dan igloo-nya.

Pernah juga dia bertanya tentang hantu, ttg kematian - katanya anak umur 4 tahun sangat tertarik dengan hal ini- juga bertanya tentang Tuhannya, tentang Yusuf, tentang Ayub, tentang 10 perintah Allah, dll.

Kadang, Joel minta belajar setelah bangun sore. Kadang menjelang tidur minta ‘belajar’, mau tulis-tulis, mau mewarnai, dll.

Jadi… kalau seorang ibu bekerja dari pukul 08.00-17.00; yang berarti meninggalkan rumah minimal satu jam sebelumnya dan berada di rumah paling cepat satu jam sesudahnya, apakah pemfasilitasan memenuhi rasa ingin tahu si kecil ini bisa tetap jalan? Kalau bisa.. tentunya homeschool bisa jalan dengan sukses.

Kadang saya punya tugas yang harus dikerjakan, kadang saya juga mengambil freelance project, yang untungnya bisa dikerjakan dari rumah. Jika si kecil merasa agak tersisihkan, dia akan berdemo minta perhatian dan mengacau konsentrasi mamanya. Tapi, bisa saya pastikan, semua rasa ingin tahunya, kecintaannya akan belajar, tidak jadi padam karena dibatasi oleh orang dewasa.

Jadi, bisakah ibu bekerja sambil menghomeschool anaknya. Rasanya sih bisa. Saya yakin, tiap pilihan ada konsekuensinya, ada kesulitannya masing-masing. Dan, mungkin untuk anak-anak mulai usia pra-remaja, ibu bisa bekerja sepenuh waktu tanpa kesulitan yang cukup berarti, asal anak sudah dilatih untuk mencapai target, dan ada kesepakatan bersama tentunya.

Bulan depan Joel akan berumur 4 tahun, dan ia sangat excited menunggu datangnya tanggal 30 April. Dengan sukacita ia berkata, “Sebentar lagi Joel umur 4.” Tapi, hampir setiap pagi setelah bangun, ia melihat kalendernya dan bertanya, “Masih Maret ya, Ma?” lalu dia mengeluh, “Kok lama sih Aprilnya.”

Lagi-lagi Mama harus pintar-pintar menjawab.

Bermain (Sambil Belajar) Dengan Globe

joel&globeBeberapa waktu lalu saya sibuk cari globe. Tiap kali ke Gramedia atau toko buku saya sempetin liat harganya. Harganya cukup menyesakkan dada, yang ukuran mini Rp 75.000. Padahal seingat saya, dulu waktu masih sering ngebis, pernah ada penjual asongan yang menawarkan bola bentuk globe2 dengan harga berkisar 5.000-10.000. Di Tangerang sini saya belum pernah lihat. Ada teman yang menyarankan pake Google Earth, namun… kuota internet yang mepet membuat proses ini tidak akan ekonomis.

Kenapa saya jadi sibuk cari globe gara2nya pada suatu waktu Joel begitu terobsesi sama yang namanya Amerika. Bangun tidur tanya saya, “Ma, Amerika biasanya di mana ya?” Atau… “Di Amerika sudah malam belum?” Dia bisa tanya begini2 karena dia tahu sedikit fakta tentang pagi dan malam. Bahwa jika matahari lagi ‘mampir’ di Indonesia pada pagi hari, berarti di Eropa masih gelap, di Amerika sudah mulai malam.. gitu2 deh… Waktu itu saya belum terlalu menjelaskan tentang bumi yang berevolusi dan berotasi. Masih penjelasan ala kadarnya. Lalu, dua sepupunya yang tinggal di US, Joshua dan Josiah datang berkunjung ke rumah. Wah, Joel tambah pengen tahu tentang Amerika.

Kemudian, pas kurikulum yang kita pake juga mempelajari tentang matahari dan bulan; yang menganjurkan kita bereksperimen dengan globe. Akhirnya saya mulai menegakan hati untuk rela membeli globe seharga lebih dari Rp 250.000.

Tapi Tuhan baik.. Dia tahu.. untuk belajar tidak perlu mahal, pintar tidak harus mahal. Saya menemukan sebuah globe di tumpukan mainan bola di Carrefour. Bentuknya jelas bola, bisa membal. Harganya 10rb-an… dan ternyata sampai di kasir dapet potongan lagi hingga harganya tinggal 8rb-an saja. Kualitas bola cukup baik lho, kulitnya tebal… pasti lebih baik dr yang dijual abang2 asongan. Ada tulisan buatan China dalam tiga bahasa, Inggris, Spanyol dan Prancis. :)

joel&chinaMaka bola ini pun jadi salah satu alat bantu belajar Joel. Karena sifat membalnya, saya jadi punya ide mengajaknya main lempar tangkap bola dan menyebutkan nama negara yang dia lihat pas dia menangkap bola. Senang rasanya pas mulut kecilnya menjawab: “Brazil!” atau “Indonesia” atau “China” - seperti foto ini- setelah dia berhasil menangkap bolanya. Motorik kasar dilatih, kemampuan baca terasah, geografi juga dapet :)

Memang belajar ga perlu mahal kok ya….

Unit Studies: Belajar Art, Language, Math, Science, Bible Sekaligus

Hai.

Setelah Introduction: Creation, dan unit 1: Sun, sekarang kita masuk unit ke-2: Moon.

Sejauh ini saya masih melakukannya dengan longgar, karena lagi banyak kerjaan. Pelajaran yang harusnya kelar 2 minggu, udah 1 1/2 bulan dijalani :D. Tapi tidak berarti tidak belajar setiap hari. Sambil Mama kerja di depan komputer, Joel mewarnai atau bolak-balik buku aktivitas matahari & bulan, sambil sekali-kali (banyak kali ding) menyela, “Ma, ini gimana?” “Ma, ini apa?” Atau kalau dia dah bosen, ya dia kembali lagi dengan mobil2an diecast kesayangannya.

Menurut saya, pendekatan unit study ini menarik sekali. Membuat anak (dan ortu) bisa memahami sesuatu dengan lebih menyeluruh. Seperti saat kami belajar matahari (pelajaran 1), selain belajar tentang fakta2 matahari, kita juga belajar bahasa (huruf S-Sun), sound discrimination (semua benda yang huruf depannya pake S), matematika sambil belajar gambar dan mewarnai. Asyik sekali.

Untuk science, kita bikin raisin. Sayang matahari lagi malu-malu, sembunyi di balik awan terus. Udah beberapa minggu ini belum kering2 juga anggurnya :D hheheheeh.

Harusnya saya dulu juga belajar pake model gini yaaaa… :D Jadi iri ama anak-anak sekarang.

Untuk science, saya mencatat: harus berhati-hati dalam memilih fakta yang ingin kita sampaikan ke anak balita. Jika kita menganut Penciptaan.. tentunya kita akan menghindari teori Big Bang, Darwin, dll (menunggu fondasinya mantap). Begitu juga sebaliknya. Beberapa sumber seperti Disney adalah pro-Darwinian - ada gambar manusia purba (gambarnya monyet banget), saya katakan kepada dia, ini gambar monyet besar. Sungguh tidak baik mengkhianati pengertiannya bahwa Tuhan menciptakan manusia pada hari ke-6 serupa gambaranNya :). Mmm… dia hapal lho urut2an penciptaan… luar biasa memang memori anak kecil.

Mengisi Hari-hari si Preschooler

Beberapa kali saya ditanya tentang bagaimana memulai homeschool. Dan, bagaimana untuk preschooler?

Kalau saya, pertama saya google semua informasi yang bisa saya dapatkan dari net. Lalu saya juga menghubungi para provider kurikulum meminta dikirimi katalog2 gratis. Setelah itu saya pelajari satu per satu sambil mencocokkan dengan budget.

Untuk preschool sebenarnya banyak bahan gratis di internet, bahkan untuk tingkat yang lebih tinggi sekali pun. Sebelumnya ortu harus tahu parameter/scope & sequence/skill list untuk anak2 usia ini. Tapi, tentu saja tiap anak berbeda, parameter itu hanya jadi semacam panduan. Daftar kemampuan apa saja yang sudah harus dicapai anak ini bisa didapat antara lain di buku yang memuat daftar : Slow and Steady Get Me Ready, terbitan Primamedia Pustaka (grup Gramedia), atau di internet, banyak kok.

Sebelum mulai menggunakan kurikulum jadi (tidak perlu bikin lesson plan, ada teacher manualnya), saya bisa menghabiskan waktu sampai 3-4 jam tiap malam, mencari bahan-bahan gratisan. Masukkan keyword ini di Google untuk mencari: (free) printable worksheet. Situs2 yang sering saya kunjungi:
- http://www.enchantedlearning.com/
- http://www.kidzone.ws/
- http://www.abcteach.com/
- http://www.tlsbooks.com/
dan banyak lagi…. silakan klik sendiri, aaand… have fun :)

Atau kalau ada budget, boleh juga beli buku2 lembar kerja yang banyak tersedia di toko buku. Saya punya beberapa dari Grasindo. Erlangga for Kids kayaknya juga lumayan, tapi harganya tidak murah :)

Dua situs di bawah ini menyediakan kurikulum gratis yang cukup lengkap. Tentunya usaha yang diperlukan lebih besar ketimbang yang berbayar. Paling tidak kita harus keluar kertas dan tinta printer sendiri.
1. http://www.letteroftheweek.com/
dibagi 5 kategori, dari Nursery - Primary :)
2. http://www.hubbardscupboard.org/
early childhood education - dari infant - kindergarten

Mau beli kurikulum tapi budget terbatas?
Di http://www.shirleys-preschool-activities.com/, seorang ibu bernama Shirley Erwee asal Afrika Selatan merancang sendiri kurikulum preschool ini, bisa dibeli dalam bentuk digital (ebook) US$22.00, atau cetakan (harga sama + ongkos kirim). Di webnya ada juga bbrp bahan yg bisa didownload gratis.

Ide ini mungkin bisa ditiru, patungan membeli kurikulum preschool lalu memperbanyaknya dengan fotokopi/scanner.

Untuk anak yang suka pelajaran interaktif, ada sebuah kurikulum online - menggunakan internet- dengan biaya terjangkau, http://www.time4learning.com/, mulai dari preschool, biaya $19.95 /bulan dengan tambahan biaya internet tentunya.

FYI, web satu ini juga memuat informasi yang cukup komprehensif untuk yang ingin memulai homeschool bersama anak-anak usia dini: http://www.early-years-homeschool.com, milik Indira Genowati, orang Indonesia yang tinggal di Amrik dan menghomeschool anaknya yang masih kecil2.

Semoga bermanfaat.

Creation Project

Habis liburan panjang ke Jawa Tengah (Salatiga-Solo-Yogya), akhirnya kembalilah kita ke Gading Serpong, ke rumah tercinta.

Sekarang, kurikulum MFW-nya sudah bisa dipakai. Sebelum libur, saya sudah mempersiapkan bahan/materi untuk proyek pertama.

Sebagai pendahuluan atas ke-26 pelajaran lain, MFW Kindergarten ini mengajak belajar tentang Penciptaan (Creation) yang diambil dari .. Alkitab (satu-satunya sumber yang kami percaya, hehehe). Jadi, selama 7 hari kami melakukan kegiatan yang berhubungan dengan itu.

Yang hendak dicapai dalam pelajaran ini adalah konsep urutan: pertama, kedua, ketiga, dst. Ada pelajaran membaca juga, yaitu pengenalan alfabet, yang dilakukan sambil menyanyikan lagu ABC dan game sederhana.

Sayangnya hari ke-2 Joel sudah bosan dengan pelajaran ABC-nya.. karena dia sudah bisa membaca sambil mengeja (phonic). Jadinya, kami hanya menuntaskan Creation Project saja, membuat poster dan buku.

Materi:
- Alkitab, saya tambahkan juga dari Kabar Ceria terbitan LAI yang penuh dengan ilustrasi dan bahasa Indonesia yang mudah dimengerti anak-anak
- kertas HVS - lebih tebal lebih baik
- kertas asturo
- kertas bufallo warna warni
- kertas origami warna warni
- gunting, lem
- pensil warna

poster-creation-projectTugas anak menggunting angka-angka di lembar kerja dan mewarnai gambar2 di dalamnya. Lalu menempelnya di sebuah kertas.

Hari ke-7 kosong, karena Tuhan selesai mencipta dan beristirahat pada hari itu. Joel sangat terkesan dengan hari ke-7 yang kosong ini, dia selalu mengulang-ulang, “Tuhan kasih tahu, kita harus istirahat.”

book-creation-project

Waktunya berkreasi bebas. Tiap hari satu karya seni ini dibuat :) Selesai berkarya, diberi caption. Nanti ke-7 gambar ini dijilid, dibuat semacam buku. Saya sangat excited dan antusias menyiapkan gambar2 untuk ditempel ini. Menyenangkan juga bekerja dengan tangan lagi, maklum selama ini selalu bekerja dengan komputer :)

Saya juga jadi hafal urutan2 penciptaan. Hehehe…

Free Planner

Sebuah planner/organizer akan sangat membantu buat ortu dalam menjalankan homeschool.

Jika kita meng-google kata: “calendar generator”, seabrek pilihan akan muncul. Dari yang benar-benar gratis (langsung keluar 12 bulan sekaligus) atau yang gratisnya untuk bulan itu saja.

Ada tiga link yang saya coba:
1. Incompetech –> totally free, file PDF, bisa tampilkan urutan minggu dan urutan hari, ada credit title di bawah
2. Calendars That Work –> gratis terbatas, file DOC, event2 bisa dikustomisasi
3. Somacon –> free, file PDF, bisa kasih event juga

Homeschool, Mengapa?

Homeschool memang lagi booming. (Maaf, saya belum menemukan padanan yang paling tepat untuk kata homeschool, jadi untuk sementara kita anggap saja itu kata serapan ya).

Di mana-mana orang ramai membicarakannya. Di media massa mulai banyak diangkat topik ini. Apalagi dengan banyaknya para pesohor (baca: selebriti/selebritas) usia sekolah yang mengambil langkah ini agar sementara berkarir, sekolah jalan terus.

Seminar ini dan itu juga digelar. Kadang bahkan mematok harga yang cukup tinggi untuk sebuah topik semisal: “Peran Orangtua dalam Pendidikan”, yang menurut saya harusnya semua orangtua bisa dapatkan informasi ini tanpa harus bayar mahal.

Lembaga-lembaga penyelenggara homeschool juga mulai bermunculan. Tak heran jika ini dilirik sebagai peluang bisnis. Ada lembaga yang mematok biaya tertentu, uang pangkal, lengkap dengan absen, ujian, tak ada bedanya dengan sekolah biasa. Sehingga saya sendiri mulai bingung, apalagi orang-orang yang baru mau menjajaki homeschool.

Bagi saya, homeschool adalah sebuah pilihan pribadi, yang harusnya adalah keputusan pribadi tanpa terpengaruh pihak luar. Homeschool yang saya jalani saat ini adalah menyediakan diri mengakomodasi kebutuhan anak saya untuk belajar dan terus belajar hal yang baru.

Sebenarnya, proses homeschool sudah dimulai dari bayi. Bernyanyi buat dia, membacakan teks kitab suci, mengajari makan, berjalan, pipis di toilet sampai sukses tidak mengompol adalah ‘pelajaran’ awal dalam hidup si anak. Lalu proses itu berlanjut.

Jika sebagian besar orangtua mengirim anaknya ke sekolah untuk proses lanjutan, ada sebagian kecil yang memilih tetap menjadikan rumah sebagai basis belajar, walau tidak berarti lingkungannya hanya terbatas di rumah. Itulah sebabnya istilah sekolah rumah kurang tepat menggambarkan tentang homeschool.

Sekarang mari bicara dari sisi pandang konsumen. Di jaman ini konsumen mulai mengadakan riset sebelum membeli barang, misal dengan membaca review, tidak percaya begitu saja dengan produser.

Begitu juga saya, ketika belum mantap dengan homeschool, saya mencari sekolah terbaik, yang paling cocok dengan saya. Belum, sampai hari ini belum ada yang benar-benar sreg di hati. Sekolah alam pun yang paling dekat dengan pilihan saya, masih terasa mengganjal karena ada perbedaan prinsip. Sekolah yang agak mendekati prinsip saya, mematok harga yang bikin mata melotot. Lalu, sebagai konsumen, saya putuskan “mengusahakan sendiri”. Ibaratnya, orang yang memilih memasak rendang dengan bumbu bikinan sendiri ketimbang beli jadi atau pakai bumbu instan. Repot, ya, bisa salah, ya, puas, ya.

Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah salah satu cita pendiri republik ini. Jika saya belum dapat sekolah yang ideal, boleh kan saya buat sendiri dengan usaha sendiri? Menghabiskan berjam-jam di depan komputer, berusaha memperkaya diri dengan pengetahuan baru. Nongkrong di toko buku sambil membawa anak tiga tahun yang tidak bisa diam tanya ini tanya itu di setiap buku yang dia baca…. Saya belajar, dia belajar. Kami berdua (bertiga dengan bapaknya, berempat dengan adiknya) terus belajar.

Mmmm… sudah tahu kalau tidak semua ular bertelur? ;)

DIY - Book for Readers (Bikin Buku Sendiri)

Kurikulum yang saya pakai menggunakan metode Charlotte Masson, yang menggunakan buku beneran, bukan buku teks. Untuk itu mereka memberikan daftar bacaan yang bisa dengan mudah diakses oleh warga negara maju di perpustakaan tanpa mengeluarkan biaya tambahan (sudah dicover oleh pajak kan?).

Namun, bagi warga negara republik ini mendapatkan buku2 ini (berbahasa Inggris) jelas bukan pekerjaan yang mudah dan murah. Seperti kita tahu perpustakaan umum tidak mudah dijangkau, kelengkapan koleksi bacaan untuk anak usia dini juga agak saya ragukan. Selain itu saya juga agak ragu tempatnya bersahabat untuk anak-anak kecil.

Lalu saya mencoba mencari versi bekasnya lewat eBay. Tapi kemudian saya menyerah, karena buku2 tersebut harganya memang sangat murah tapi ongkos kirimnya luar biasa, dan tidak berada di satu tangan. Seandainya saja ada satu sumber yang menjual semuanya:)

Kemudian saya teringat sebuah project bernama gutenberg. Di sini kita bisa download buku-buku yang masa copyrightnya sudah habis di US, biasanya buku-buku klasik. Buku-buku karya Beatrix Potter misalnya. Saya mendownload semua dari Mrs Potter. Sayangnya mereka tidak menyediakan format PDF, hanya ada versi txt dan html. Saya memilih yang HTML, dan membuat sendiri versi PDFnya.

Misalnya untuk buku The Tale of Peter Rabbit:
1. Buka yang formatnya html dengan size 40KB. Halaman browser akan membuka file ini lengkap dengan gambar2nya. Bisa langsung disimpan atau diprint. Kalau saya memilih menyimpannya dalam bentuk PDF. Untuk ini harus punya PDF converter. Saya menggunakan Primo PDF, gratis.
2. Simpan dalam bentuk PDF. Dari browser pilih File-Print, ubah pilihan printer menjadi Primo PDF.
3. Kalau mau mengubah layoutnya agar sesuai dengan keinginan, gunakan Microsoft Word atau software untuk melayout buku. Saya sendiri menggunakan Adobe InDesign. Setelah selesai proses pewajahannya (layout), tinggal cetak. InDesign memungkinkan saya mencetaknya dalam bentuk bundel.
4. Buku selesai, tinggal dijilid sesuai keinginan.

Semoga bermanfaat