Joel's  book recommendations, reviews, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists

Considering Changing to Textbooks Approach

confusedMengikuti kurikulum MFW 1stgrade, kami behind schedule. Dari 180 hari yang dijadwalkan, kami baru menyelesaikan 40%-nya. Bukan prestasi yang membanggakan :) namun apa mau dikata, bayi Chloe hadir dan mengobrak-abrik seluruh hidup kami pada masa awal kedatangannya di dunia. :p

Setelah hampir dua tahun bersama MFW, saya mulai agak jenuh. Agak capek juga karena banyak kegiatan hands-on yang membuat saya lumayan putar otak menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan. Gampang jika ada kendaraan yang bisa dipakai sewaktu-waktu, gampang jika ada asisten yang bisa disuruh-suruh atau bisa menjaga si bayi saat kita belajar bersama anak yang lebih besar. Akhirnya sering aktivitas yang disarankan itu tidak kami lakukan. :(

Nah, jauh dari idealisme, saya sedang mempertimbangkan kurikulum model textbook, workbook. Harapan saya, Joel bisa mengerjakan sendiri tugas-tugasnya tanpa banyak tergantung kehadiran saya.

Setelah mencari-cari; biasanya kurikulum-kurikulum besar dan mapan, yang sangat berbau sekolah; seperti ACE, A Beka, BJU, saya kesampingkan dulu, saya ketemu dan suka dengan McRuffy Press. *hahaha, saya langsung membayangkan teman-teman sesama ortu HS yang akan mengomentari kecenderungan saya memilih kurikulum-kurikulum aneh di luar mainstream, seperti pilihan MFW sebelumnya.

Bukan karena matematika dan science-nya yang sangat hands-on, tapi karena kurikulum ini minim persiapan, bisa dikata semuanya sudah disiapkan oleh mereka. Memang yang kayak gini yang saya cari. Saya cukup capek selama beberapa bulan ini harus keluar rumah (tunggu hubby pulang dari kantor sekitar jam 7-8 malam) untuk mencari benda-benda pernik seperti: balon, kacang lentil, kawat, dll.

Harganya juga cukup reasonable. Untuk tiga mata pelajaran (Bahasa Inggris — reading, handwriting, spelling– Matematika, IPA) berikut buku manual, 34 buku bacaan produk sendiri, math kit, science kit, dan resource pack harganya masih belum sampai $300.

Tapi saya masih belum yakin, karena selain ini program sekuler; beda jauh dengan MFW kami yang Bible-integrated; ini juga berarti akan ada tiga buku manual sementara dengan MFW saya cukup pegang satu buku manual.

Program sekuler juga berarti saya harus mempertimbangkan perlu tidaknya saya membeli/membuat sendiri program bible study-nya. Atau cukup mengandalkan Sekolah Minggu? Sejauh ini, beberapa kali saya mendapati dia asik membaca sendiri Alkitabnya, tiap kami mengcover satu topik di MFW 1stgrade.

Karena alasan ini juga akhirnya saya mempertimbangkan Heart of Dakota (HOD) yang sama dengan MFW, berangkat dari akar metode Charlotte Mason, programnya sangat gentle, tidak terlalu berasa seperti sedang belajar. Dibanding MFW HOD lebih gentle, lebih CM, tidak terlalu butuh banyak persiapan, dan Bible study-nya lebih ke arah karakter sementara MFW arahnya ke pekerjaan misi. Sayang HOD sangat American-focus.

Tapiii.. jika dipikir-pikir lagi, kira-kira kenapa Joel begitu tertarik dengan geografi, sejarah, bahkan sampai hafal ke-44 presiden Amerika jika saya tidak pernah terbuka wawasannya bahwa yang namanya belajar itu bukan melulu Matematika, IPA, dan Bahasa? Bahwa ada kurikulum yang backbonenya adalah sejarah, lebih ideal lagi sejarahnya didasarkan pada sebuah kitab yang kami percaya adalah kebenaran mutlak. Bahwa sejarah, geografi dan itu sangat menarik dan menyenangkan, apalagi dengan bantuan teknologi semacam Google Earth yang membuat Joel asik keliling dunia secara virtual, masuk ke dalam Colosseum di Roma yang dibangun tahun 80 M, pergi ke kota tua Sana’a di Yaman.

Phewwww… Intinya saya lagi kebingungan sendiri sebaiknya bagaimana. Entahlah. Mungkin harus berdoa lagi minta bimbingan Tuhan dalam menentukan kurikulum untuk level berikut.

Timeline Kami

Sejarah yang kami pelajari diambil secara kronologis dari Alkitab. Mulai dari Penciptaan sampai masa sekarang.

Saat ini kami baru sampai di kisah Yakub, sekitar 1800 SM. Tentu akan lebih menarik jika dibuatkan timeline-nya seperti ini.

timeline

Seperti ini timeline kami jika direntangkan semua.

timeline1

Timeline ini pasti akan panjang sekali nanti kalau sudah selesai. :) Semoga kartonnya muat.

Menara Babel

towerofbabel

Homeschool bisa dilakukan bersama Papa (dan adik kecil!) juga di akhir pekan. Seperti di sini, kami sedang sampai sebuah kisah terkenal di Perjanjian Lama: Menara Babel.

Dengan dough bikinan sendiri, Joel dan Papa mencoba membuat menara dari korek api. Jika ada marshmallow (mashimaro kata orang Jepang) lebih asyik, karena selain lebih besar, marshmallow juga lebih ringan, jadi menaranya bisa lebih tinggi.

Mengapa Kaki Unta Besoar dan Lebar?

Jaman dulu, waktu mobil dan kendaraan bermotor belum ditemukan, orang-orang bepergian dengan berjalan kaki atau mengendarai binatang yang cukup kuat berjalan jauh.

Unta misalnya. Makhluk satu ini sangat tangguh di medan berat seperti gurun. Bisa puasa makan dan minum berhari-hari berkat punuknya yang istimewa, dan bulu mata tebal nan lentik yang melindungi matanya dari debu-debu pasir. Selain itu, kakinya juga istimewa.

camel-foot

Lihat perbandingannya dengan kaki manusia dewasa di samping ini. Kaki unta besar sekali ya? *foto diambil dari sini*

Bentuk kaki seperti ini sangat menolong bagi saat berjalan di gurun pasir. Jika tidak begitu, kaki unta akan terus menerus terbenam dalam lautan pasir dan pasti sangat sulit berjalan dengan kondisi seperti itu.

Kami melakukan eksperimen kecil untuk melihat hal ini.

unta-kakikecil

Jika kaki unta kecil, maka kira-kira yang terjadi adalah seperti yang dialami pensil ini. Begitu dimasukkan ke dalam pasir, langsung terbenam ke dalam pasir yang lembut.

Namun berkat kaki lebarnya, unta bisa berjalan dengan mudah seperti pensil yang sudah dipasangi koin seperti ini:

unta-percobaan

“And so Abraham’s servant took ten camels and piled them high with treasures from Abraham’s house. When all was ready he took his men and set out for the land where Abraham was born.”

Pelayan Abraham (Eliezer) harus menempuh perjalanan tiga hari dari Bersheba ke Haran untuk mencarikan jodoh untuk Ishak. Eliezer ditemani oleh sepuluh ekor unta. Wah, bayangkan betapa hausnya unta-unta itu dan berapa galon air yang harus mereka minum, dan betapa capeknya Rebeka menimba air untuk memberi minum Eliezer dan kesepuluh untanya.

*grin*

Photographic Memory?

Joel sedang terobsesi dengan para presiden Amerika Serikat. Bisa dibilang, tiap hari dia mengunjungi situs Whitehouse dan memandangi wajah-wajah orang yang pernah berada di pucuk pimpinan negara ini. Baca postingan sebelumnya tentang ketertarikannya pada orang-orang ini.

Jika sedang menyukai sesuatu, biasanya seseorang akan terus berbicara tentang hal itu. Demikian juga Joel. Hampir tiap hari saya diceritakan olehnya tentang presiden A yang hanya menjabat 1 bulan, kemudian meninggal, tentang Abraham Lincoln yang terpilih jadi senator di Illinois, atau dsbg, dsbg.

Seperti hari ini, saat makan siang, dia mulai lagi dengan ceritanya tentang beliau-beliau tadi. Maka, saya pun iseng bertanya padanya, mulai dari presiden AS pertama sampai ke-44 (kecuali no.31 sempat terlupa) dia bisa sebut semua! WHAT?!

Maka saya pun minta dia mendiktekan pada saya nama-nama tadi. Sekali-sekali dia sebut tahun jabatannya. Kadang dia ikut memeriksa jika saya salah tulis; misal: “Roosevelt, o-nya dua, ya.” atau “Jefferson f-nya dua.” Fiuhhh… satu per satu dia sebut, dan saya yang dengerin tiba-tiba merasa sangat lelah.

Saat dia menyebut nama-nama itu tanpa melupakan inisial nama tengahnya, misal: S pada Ulysses S. Grant, M pada Richard M. Nixon, saya cukup yakin bahwa Joel memiliki photographic memory yang sangat baik pada usia ini. Dia pasti mengingatnya karena melihat nama itu di monitor komputer.

Saya jadi teringat waktu dia berusia dua tahunan, Joel bisa menyebut lebih dari 50 nama mobil dan usia 3 tahun dia sudah hafal luar kepala lebih dari 100 jenis mobil.

Dan, sekarang presiden Amerika.

USPresidents-Joel

catatan:

  • tanda * berarti presiden tersebut terbunuh.
  • tanda + orang tersebut meninggal karena faktor alami (tua, penyakit, dll)
  • ini adalah kertas kedua–jadi nyaris tidak ada kesalahan tulis; kertas pertama dicorat-coret hingga tak terbaca oleh adiknya.

Belajar Berhitung Bersama Presiden Amerika

Sepertinya tidak ada hubungannya ya… Tapi, untuk Joel, presiden-presiden Amerika telah turut membantunya belajar berhitung, selain belajar bahasa Inggris dan sejarah tentunya.

Bermula dari ketertarikannya akan presiden-presiden Indonesia, dan mulai banyak ‘berisik’ bertanya-tanya tentang Soekarno dan penerusnya, ia pun melibatkan Google dalam proses belajarnya.

Lalu, ia mulai sedikit kecewa karena presiden Indonesia kok sedikit amat, sedangkan Amerika Serikat sudah sampai urutan ke-44. Maka, terdamparlah dia ke website White House. Seperti tersihir, dia bisa melewatkan waktu sampai satu jam di depan monitor melihat satu per satu profil para pria-pria terhormat ini, dari Washington sampai Obama.

us+presidents

Aneh rasanya melihat anak laki-laki umur 5 tahun yang sedemikian tertariknya dengan presiden-presiden Amerika. Namun, yah, tiap orang itu unik, punya ketertarikan yang berbeda-beda. *Dia sempat melongok presiden-presiden negara lain seperti Perancis, namun akhirnya dia kembali ke White House, karena jumlah presidennya tidak sebanyak yang di AS.

Berkat Joel saya jadi ikutan lihat-lihat isi situs White House juga. Ternyata Megawati Sukarnoputri punya teman di AS, dua orang presiden AS, John Quincy Adams dan George W. Bush adalah dua orang presiden AS yang merupakan anak presiden yang pernah menjabat sebelumnya. Saya juga jadi tahu bahwa Grover Cleveland adalah presiden AS ke-22 sekaligus yang ke-24. Cleveland kalah dari Benjamin Harrison yang menjadi presiden ke-23 dan empat tahun kemudian gantian dia yang mengalahkan Harison.

“Lima tambah berapa, Ma, supaya jadi sembilan?”
“Empat,” jawab saya.

Tak berapa lama kemudian, “Delapan supaya jadi tigabelas harus tambah berapa, Ma?” dan beberapa pertanyaan sejenis.

Tahu tidak mengapa dia menanyakan ini? Karena di foto/lukisan tiap presiden itu, tertera periode jabatannya dari tahun berapa hingga tahun berapa. Ini bukan satu-satunya, dia masih banyak menanyakan pertanyaan-pertanyaan serupa. Pertamanya masih saya kasih jawabannya, berikutnya saya minta dia memikirkan jawabannya sendiri.

Umumnya masa jabatan presiden AS adalah kelipatan 4 tahun, maksimal 8 tahun. Namun beberapa orang tidak menyelesaikan masa 4 atau 8 tahunnya, ada yang meninggal (sakit atau dibunuh), ada juga yang mengundurkan diri.

Haha. Siapa yang mengira, berhitung bisa juga dipelajari bersama presiden Amerika. :)

The Sinking Boat

joel-experiment

Setelah melakukan eksperimen seru bersama dua bocah kecil ini, bocah yang paling mungil terus melanjutkan eksperimen karangannya sendiri. Mengaduk-aduk air di ember dengan spatula, meremas-remas aluminum foil, dan seterusnya. She’s so engaged.

Rapor, Transkrip Nilai & Ijazah

report card[1]

Tiga hal yang saya sebut di atas bagi sebagian institusi (juga orang-orang tertentu) adalah segala-galanya.

Seringkali ortu mundur dari keinginan untuk melakukan homeschool karena bayang-bayang kekuatiran akan ketiadaan ijasah anaknya. Apakah anak saya bisa diterima di univ? Bagaimana jika sewaktu-waktu kami ingin kembali ke sekolah? Tanpa adanya rapor dan ijazah sepertinya agak mustahil ya?

Untuk masalah ijazah, kita bisa memanfaatkan pilihan ujian paket A/B/C yang diselenggarakan oleh pemerintah kita. Selain itu ada juga ujian berskala internasional seperti yang diadakan oleh lembaga terhormat dari Inggris University of Cambridge International Examinations (CIE), atau ujian ala USA yaitu SAT reasoning, dan lain-lain. CIE, SAT punya perwakilan di Indonesia, jadi ujiannya bisa dilakukan di sini. Ya, kira-kira seperti TOEFL atau IELTS.

Ujian paket mewajikan adanya ijazah dari jenjang sebelumnya untuk mengambil ujian jenjang berikut, misal untuk ikut ujian paket B, harus ada ijazah SD, demikian seterusnya. Selain itu juga ada batasan umur minimum. Berbeda dengan ujian standarisasi internasional yang bisa diambil kapan saja, usia berapa saja. Biaya ujian bisa dilihat di website masing-masing. Yang pasti, jauh lebih terjangkau daripada menyekolahkan anak di sekolah internasional atau sekolah nasional plus atau swasta sekali pun.

Bagaimana dengan rapor?

Rapor sebenarnya hanya dibutuhkan jika HS bubar di tengah jalan :) . Tidak tertutup kemungkinan juga ada sekolah yang mau menerima anak HS tanpa rapor asal lulus tes yang mereka adakan.

Namun, untuk ketenangan batin, sebagian orangtua merasa lebih afdol jika anaknya punya rapor, ada pihak lain yang menilai hasil pekerjaan anaknya — walaupun harusnya orangtua HS inilah yang paling tahu seberapa jauh pemahaman anaknya akan sebuah subyek.

Beberapa ortu memilih opsi distance learning (sekolah jarak jauh) yang akan memberikan layanan konsultasi, kurikulum, assigned teacher, grading service, dll. Semua aman terkendali karena ada korespondensi, ortu wajib melaporkan perkembangan anaknya ke pihak sekolah di tempat yang nun jauh di sana. Nanti pihak sekolah akan mengeluarkan transkrip nilai dan diploma (ijazah). Biayanya cukup tinggi, jutaan sampai puluh juta, karena sudah termasuk materi ajar.

Nah, saya menemukan setidaknya dua lembaga di USA yang bisa memberikan grading service, record maintaining, bahkan counseling dengan harga sangat terjangkau ($50-75/thn).

Homelife Academy dan Crossroads Christian School dua-duanya berspirit kristiani, memberikan layanan juga untuk keluarga yang tinggal di luar US. Saya duga ini karena awalnya cukup banyak pelaku HS yang adalah misionaris atau bekerja di sektor militer, mereka ingin anak mereka mendapat pendidikan model US namun tidak mungkin didapatkan di negara tempat mereka ditugaskan. Namun, baik HLA maupun CCS melayani juga keluarga-keluarga yang bukan warga negara Amerika Serikat.

Orangtua bebas memilih kurikulum apa pun yang dia suka, mau dicampur juga boleh, unschooling pun monggo. Ada sedikit paperwork, orangtua diharapkan bisa memberikan laporan pekerjaan anaknya minimal dua kali setahun.

Saya berencana mendaftar di Homelife Academy untuk tahun ajaran mendatang, walau sebenarnya kami tidak ikut tahun ajaran mana-mana. Semoga saya bisa lebih tenang dalam berHS.

GBU.

Teacher vs Tutor

Tutor[1]Ketika masih kuliah, saat libur semester saya pernah mencoba kerja menjadi guru pengganti di sebuah sekolah. Tidak lama, hanya beberapa kali saja.

Saya juga pernah menjadi guru les (tutor) untuk beberapa anak dari usia SD-SMP. Yang ini saya jalani lebih rutin dan lebih lama. Pemasukan yang saya dapat dari pekerjaan ini membuat saya punya uang saku ekstra dan bisa bernafas lebih lega karena uang kiriman ortu dulu tidaklah berlebihan.

Sekarang setelah saya punya anak, dan meng-HS-kan anak sendiri, terasa sekali peran saya lebih seperti seorang tutor, bukan guru. Lebih sering saya mengikuti irama Joel, saya tidak diburu oleh jam pelajaran, tidak harus disetir oleh kurikulum. Kadang saya lompati bagian2 yang menurut saya dan Joel tidak penting, atau tidak menarik. Dan tidak ada yang akan memecat saya karena ‘pelanggaran’ itu. :p

Tulisan di sini* makin meneguhkan pendapat saya tadi.

*Tulisannya dibuat oleh staf Home Life Academy, sebuah lembaga yang memberikan jasa grading+transcript, counselling & record keeping untuk homeschooler.

Ini saya kutipkan di bawah ini….

I’ve done two years of teaching; and I’ve done a lot of tutoring. They are very different.

The teacher must make the student conform to the schedule.
The tutor may conform the schedule to the student.

The teacher must follow the set curriculum.
The tutor may adapt the curriculum as needed.

The teacher must apply one curriculum to an entire group.
The tutor can custom tailor the curriculum for the individual.

The teacher has limited time to get to know the student.
The tutor gets to know his or her students intimately.

The teacher receives an evaluation from superiors.
The tutor receives an evaluation from the student.

The teacher is viewed by the student as an enforcer of rules.
The tutor is viewed by the student as a resource for further understanding.

The teacher’s job and success is completely measured by the final grades (and now, the standardized tests).
The tutor’s job and success is measured by interaction with the student (through conversation, relaxed projects, field trips, writing and re-writing, etc.).

The teacher’s student is primarily concerned about making the teacher happy.
The tutor’s student is primarily concerned about satisfying their curiosity and desire to learn.

The teacher must keep moving in order to “cover” all the material.
The tutor may take as long as needed for the material to cover itself.

If I could have my way I would change all our correspondance with parents, and all our information on the website, from calling parents “teachers” to calling them “tutors.” It seems to make a great deal of difference.

What a Little Boy Can Do

jo-foto

Little boy can do many things.

Five years old can give Mom helping hands in lots of things.

He helps Mom in the kitchen, his specialty is cooking rice with rice cooker. He also can peel carrot, potato with little help. His initiative to help is the most relieving.

He is also a great friend to his sister. Read to her, keep her a company, play with her.. he is a fun and loving brother. Never did he hit her sister intentionally.

Thanks God, You created a little boy.

Why God Created Little Boys

God made a world out of His dreams
of majestic mountains, oceans and streams,
prairies and plains and wooded land,
then paused and thought…

“I need someone to stand
on top of the mountains, to conquer the seas,
explore the plains and climb the trees.
Someone to start out small
and grow sturdy and strong like a tree,”
and so…

He created boys, full of spirit and fun,
to explore and conquer, to romp and run,
with dirty faces and banged up chins,
with courteous hearts and boyish grins.

When He had completed the task He’d begun,
He surely said, “That’s a job well done.”