Joel's  book recommendations, reviews, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists

Bible Notebooking

Salah satu metode belajar ala Charlotte Mason (CM), adalah narasi. Jadi anak ‘menceritakan’ kembali kepada kita apa yang sudah dia pelajari. Bentuk cerita ini bisa lisan atau tertulis. Dengan adanya narasi, yang disebut PR tidak perlu lagi, sebab biasanya apa yang dipelajari pasti lebih susah dilupakan.

Notebooking, lapbooking adalah contoh narasi dalam bentuk tertulis.

biblenotebook-cover

MFW yang memang banyak dapat pengaruh CM, mulai mengenalkan notebooking di kurikulum 1stGrade-nya. Setelah saya bacakan cerita Alkitab, giliran dia yang bacakan saya cerita Alkitab dari Bible Reader MFW-nya. Habis itu dia akan membuat versinya sendiri.

bible notebook page1

Ooohh.. betapa ogah-ogahannya dia di awal. Sebenarnya ini salah saya juga. Waktu dia lebih muda dari sekarang.. saya cenderung melarang dia ini dan itu. Betapa salahnya saya membatasi kreativas anak! Joel jadi takut melakukan kesalahan, menganggap dia tidak bisa menggambar, dsbg.

Saya harus kerja keras menumbuhkan rasa percaya diri dia lagi. Pelan-pelan saya ajari menggambar orang (di Alkitab kan banyak cerita tentang tokoh dan peristiwa, jadi pasti harus banyak menggambar orang). Pendek kata, saya berusaha jadi orangtua yang suportif untuk Joel.

A Sad Day

Beberapa hari ini saya lebih lega, karena Joel dengan senang hati menghias  halaman-halaman dalam notebooknya. Lebih lega lagi waktu dia langsung berinisiatif menulis ceritanya sendiri dalam bahasa Inggris, sambil sesekali minta bantuan.  Memang begini cara MFW memperkenalkan composition/menulis/mengarang untuk anak-anak, so gentle, eh?.*

Moses

Ruth

Tambah lega lagi waktu dia bilang, dia mulai suka menggambar (lagi). Thank God.

Let kids learn at their own pace.

Joel Jadi Arkeolog

Arkeolog adalah seseorang yang berusaha mencari tahu seperti apakah kehidupan di masa silam dengan cara meneliti sisa-sisa peninggalan dari masa itu, berupa fosil atau artefak.

Kali ini Joel akan mencoba menemukan ‘harta’ yang terpendam selama 500 tahun lebih di dalam tanah depan rumah. Konon, orang yang mengubur harta ini berkata, barang siapa yang menemukannya boleh menikmati harta itu dan tidak boleh lupa berbagi dengan saudara.

Seperti apa ya daerah sini 500 tahun yang lalu? Hmm… pasti rumah ini belum dibangun, sepertinya masih hutan, belum ada kamera, belum ada kulkas, dan masih panjang lagi daftar yang Joel sebut. :)

Berbekal peta, Joel mulai menggali.

archeolog

Gali yang dalam ya, Nak.
Nah.. ini nampaknya ada sesuatu nih, sekopnya mulai membentur benda keras.

mulaiketemu

nahinidia

Hahaha. Ketemu! Asyik! Apa ini ya? Wah, sebuah artefak! Toples kecil berisi benda-benda kecil.

semprot

Karena sudah terkubur ’500 tahun’, benda ini kotor sekali. Harus dibersihkan tentunya. Arkeolog kecil langsung mencuci benda temuannya. Disemprot dulu supaya tanah yang melekat rontok.

cucisabut

Apa isinya, ya?

harta

Wah! Isinya ternyata ada beberapa macam permen, satu pensil yang sudah patah, satu gantungan kunci, dan mainan gasing yang sudah patah.

Tentu Joel tidak lupa membagi harta temuannya dengan adiknya yang lucu, Chloe.

sharing

Hebatnya, permennya belum kadaluarsa lho! :)

Setelah melakukan kegiatan ini, Joel mengaku ingin jadi arkeolog. Haha!

Website ini bagus sekali untuk memperkenalkan tentang arkeologi pada anak-anak. Bisa juga ditambahkan dari sini. Christian parents, this website is also good for the grownup.

Timeline Kami

Sejarah yang kami pelajari diambil secara kronologis dari Alkitab. Mulai dari Penciptaan sampai masa sekarang.

Saat ini kami baru sampai di kisah Yakub, sekitar 1800 SM. Tentu akan lebih menarik jika dibuatkan timeline-nya seperti ini.

timeline

Seperti ini timeline kami jika direntangkan semua.

timeline1

Timeline ini pasti akan panjang sekali nanti kalau sudah selesai. :) Semoga kartonnya muat.

Menara Babel

towerofbabel

Homeschool bisa dilakukan bersama Papa (dan adik kecil!) juga di akhir pekan. Seperti di sini, kami sedang sampai sebuah kisah terkenal di Perjanjian Lama: Menara Babel.

Dengan dough bikinan sendiri, Joel dan Papa mencoba membuat menara dari korek api. Jika ada marshmallow (mashimaro kata orang Jepang) lebih asyik, karena selain lebih besar, marshmallow juga lebih ringan, jadi menaranya bisa lebih tinggi.

Photographic Memory?

Joel sedang terobsesi dengan para presiden Amerika Serikat. Bisa dibilang, tiap hari dia mengunjungi situs Whitehouse dan memandangi wajah-wajah orang yang pernah berada di pucuk pimpinan negara ini. Baca postingan sebelumnya tentang ketertarikannya pada orang-orang ini.

Jika sedang menyukai sesuatu, biasanya seseorang akan terus berbicara tentang hal itu. Demikian juga Joel. Hampir tiap hari saya diceritakan olehnya tentang presiden A yang hanya menjabat 1 bulan, kemudian meninggal, tentang Abraham Lincoln yang terpilih jadi senator di Illinois, atau dsbg, dsbg.

Seperti hari ini, saat makan siang, dia mulai lagi dengan ceritanya tentang beliau-beliau tadi. Maka, saya pun iseng bertanya padanya, mulai dari presiden AS pertama sampai ke-44 (kecuali no.31 sempat terlupa) dia bisa sebut semua! WHAT?!

Maka saya pun minta dia mendiktekan pada saya nama-nama tadi. Sekali-sekali dia sebut tahun jabatannya. Kadang dia ikut memeriksa jika saya salah tulis; misal: “Roosevelt, o-nya dua, ya.” atau “Jefferson f-nya dua.” Fiuhhh… satu per satu dia sebut, dan saya yang dengerin tiba-tiba merasa sangat lelah.

Saat dia menyebut nama-nama itu tanpa melupakan inisial nama tengahnya, misal: S pada Ulysses S. Grant, M pada Richard M. Nixon, saya cukup yakin bahwa Joel memiliki photographic memory yang sangat baik pada usia ini. Dia pasti mengingatnya karena melihat nama itu di monitor komputer.

Saya jadi teringat waktu dia berusia dua tahunan, Joel bisa menyebut lebih dari 50 nama mobil dan usia 3 tahun dia sudah hafal luar kepala lebih dari 100 jenis mobil.

Dan, sekarang presiden Amerika.

USPresidents-Joel

catatan:

  • tanda * berarti presiden tersebut terbunuh.
  • tanda + orang tersebut meninggal karena faktor alami (tua, penyakit, dll)
  • ini adalah kertas kedua–jadi nyaris tidak ada kesalahan tulis; kertas pertama dicorat-coret hingga tak terbaca oleh adiknya.

Belajar Berhitung Bersama Presiden Amerika

Sepertinya tidak ada hubungannya ya… Tapi, untuk Joel, presiden-presiden Amerika telah turut membantunya belajar berhitung, selain belajar bahasa Inggris dan sejarah tentunya.

Bermula dari ketertarikannya akan presiden-presiden Indonesia, dan mulai banyak ‘berisik’ bertanya-tanya tentang Soekarno dan penerusnya, ia pun melibatkan Google dalam proses belajarnya.

Lalu, ia mulai sedikit kecewa karena presiden Indonesia kok sedikit amat, sedangkan Amerika Serikat sudah sampai urutan ke-44. Maka, terdamparlah dia ke website White House. Seperti tersihir, dia bisa melewatkan waktu sampai satu jam di depan monitor melihat satu per satu profil para pria-pria terhormat ini, dari Washington sampai Obama.

us+presidents

Aneh rasanya melihat anak laki-laki umur 5 tahun yang sedemikian tertariknya dengan presiden-presiden Amerika. Namun, yah, tiap orang itu unik, punya ketertarikan yang berbeda-beda. *Dia sempat melongok presiden-presiden negara lain seperti Perancis, namun akhirnya dia kembali ke White House, karena jumlah presidennya tidak sebanyak yang di AS.

Berkat Joel saya jadi ikutan lihat-lihat isi situs White House juga. Ternyata Megawati Sukarnoputri punya teman di AS, dua orang presiden AS, John Quincy Adams dan George W. Bush adalah dua orang presiden AS yang merupakan anak presiden yang pernah menjabat sebelumnya. Saya juga jadi tahu bahwa Grover Cleveland adalah presiden AS ke-22 sekaligus yang ke-24. Cleveland kalah dari Benjamin Harrison yang menjadi presiden ke-23 dan empat tahun kemudian gantian dia yang mengalahkan Harison.

“Lima tambah berapa, Ma, supaya jadi sembilan?”
“Empat,” jawab saya.

Tak berapa lama kemudian, “Delapan supaya jadi tigabelas harus tambah berapa, Ma?” dan beberapa pertanyaan sejenis.

Tahu tidak mengapa dia menanyakan ini? Karena di foto/lukisan tiap presiden itu, tertera periode jabatannya dari tahun berapa hingga tahun berapa. Ini bukan satu-satunya, dia masih banyak menanyakan pertanyaan-pertanyaan serupa. Pertamanya masih saya kasih jawabannya, berikutnya saya minta dia memikirkan jawabannya sendiri.

Umumnya masa jabatan presiden AS adalah kelipatan 4 tahun, maksimal 8 tahun. Namun beberapa orang tidak menyelesaikan masa 4 atau 8 tahunnya, ada yang meninggal (sakit atau dibunuh), ada juga yang mengundurkan diri.

Haha. Siapa yang mengira, berhitung bisa juga dipelajari bersama presiden Amerika. :)

Field Trip with Sekolah Rumah: Istana Negara

Harusnya field trip pertama bersama teman-teman dari milis Sekolah Rumah ini jadi acara yang seru banget… Sayang, acara ini terpaksa kita tinggalkan di tengah penantian tak jelas karena sistem antrian semau gue yang diterapkan oleh pihak Istana.

Sayang sebenernya, tapi tak bijaklah ya jika kita harus memaksa bayi-bayi (baby Kayla & baby Chloe) menunggu di tempat yang tidak nyaman dan panas ini – pekarangan parkir SetNeg.

Baby Kayla - Baby Chloe

Sayang juga karena sudah begitu antusias, berbatik-batik ria, bersepatu tutup dan berbingung-bingung siapin makanan yang bisa tahan lama buat Chloe.

Supaya tidak terlalu kecewa, rencananya kita akan mampir ke Museum Nasional – tapi lagi-lagi harus kecewa karena ga dapat tempat parkir. Masuk aja ga bisa.

Begitulah, mau ngunjungin tempat-tempat bangsa sendiri kok susah gini, sistem antri ga jelas – prosedurnya sangat tergantung dengan mood petugas, serba subyektif. Petugasnya malah ada yang berusaha memasarkan produknya: suvenir istana dengan harga lebih miring.

Karena beberapa istana di negara lain menetapkan tarif tertentu untuk dikunjungi, saya pikir karena gratislah yang menyebabkan antrian super dodol begini. Tapi, bukankah Petronas juga menggratiskan Twin Towernya untuk dikunjungi? Dan, bukankah mereka mengelolanya secara profesional? Ruang tunggu yang nyaman dan yang paling penting: sistem antriannya jelas.

Joel & Evan tempelin visa di paspor Field Trip

 

Sedih juga mengecewakan para pembelajar cilik kami yang ingin mengenal negaranya sendiri. Evan bahkan berkomentar, “Jangan ke sini lagi ya. Jangan ke Istana Negara lagi.”

O ya, kami menunggu dua jam lebih dalam ketidakjelasan.

suasana-setnegMakasih banget untuk teman-teman dari milis Sekolah Rumah yang sudah dengan penuh cinta mengkoordinasi acara ini. Sayang ya negara kita masih perlu banyak berbenah diri.

Tapi saya ga kapok lho. Masih penasaran pengen liat Istana Negara :) Apalagi denger cerita temen-temen Sekolah Rumah yang setia menunggu. Katanya tempatnya asyik dan jauh lebih ramah anak ketimbang tempat tunggunya.

Buat yang pengen baca cerita ngunjungin Istana Negara di Jalan Merdeka, baca di sini.

Tahu tidak ke mana kami akhirnya? Ke Grand Indonesia… hohoho.