Joel's  book recommendations, reviews, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists

Pertanyaan-pertanyaan Joel yang Tak Kenal Waktu dan Tempat

Hobi baru Joel adalah memberikan tebakan atau kuis kepada kami, ortunya, tentang topik apa saja yang sudah dipelajarinya.

Misal: ‘Siapa orang tertua di dunia?’ atau ‘Siapa nama Presiden Amerika ke-25?’ atau ‘Mozart meninggal umur berapa?” Kira-kira seperti itu.

Masalahnya, terkadang dia tidak lihat-lihat situasi dan kondisi dulu. Seringkali dia memberikan pertanyaan bertubi-tubi ketika saya sedang tidak mood meladeninya. Atau saat saya sedang asyik melakukan hal yang butuh konsentrasi (saya kurang bagus dalam multitasking). Kalau sudah begini, kadang saya jadi kesal.

Untung sudah baca buku tentang berkomunikasi dengan anak tulisan Adele Faber – Elaine Mazlish (baca ya.. bukunya bagus banget), jadi saya bisa bilang begini sama Joel, “Joel, Mama lagi capek. Kalau lagi capek, Mama cepat marah. Mama ga mau gara-gara capek terus Mama jadi marahin Joel. Ntar aja ya, kalau Mama sudah ga capek, Joel boleh tanya lagi. Nanti kamu tanya dulu ya, Mama masih capek ga. Ok?”

Joel biasanya memahami maksud saya dan menghormati hak saya untuk tidak ditanyai (memang ada ya hak kayak gini, hihihi). Memang itu kan tujuan komunikasi, membuat maksud kita dipahami oleh orang lain?

Pernah, Joel ikut saya ke rumah Tante saya yang berjualan susu kedelai buatan rumah sendiri. Di sana, Joel nampak sangat tertarik mengikuti proses pembuatan susu dari mulai memecahkan kulit kedelai sampai memasak hasil penyaringannya. Joel yang tadinya sudah mulai merengek minta pulang, langsung lupa akan niat semula begitu saya bawa ke area produksi susu di dapur belakang, bahkan tidak mau pulang sebelum susu matang.

Sepanjang pembuatan susu itu, Joel berdiri terus dan tidak melepaskan sedikit pun pandangan dari gerak-gerik si Mpok asisten Tante saya itu. Lalu, mulailah dia melontarkan pertanyaan-pertanyaan. Si Mpok dengan sabar meladeninya. Kemudian gantian Om saya yang dia tanyai.

Tak lama, Om saya keluar.

“Duh,” katanya sambil menggelengkan kepala. “Tidak sanggup aku melayani pertanyaan-pertanyaan anakmu.”

Ah, Om tidak tahu, bagaimana penderitaan saya tiap hari.

Hari ini, rupanya Joel menemukan korban baru, Bu Narni, pembantu harian kami yang berada di rumah kami sekitar dua jam tiap harinya.

“Tahu ga ini siapa?”

“Waduh, siapa, Ibu ga tahu.”

Joel memperlihatkan judul bukunya, Wolfgang Amadeus Mozart.

Lalu mulai bertanya lagi, “Hayo, Mozart yang mana.”

Dan seterusnya, membuat Bu Narni yang sedang menjemur baju kewalahan.

Hmmmm.. Saya bisa istirahat sebentar.

Inspiration from Thomas A. Edison’s Mom

Jumat lalu, seusai kegiatan belajar bersama beberapa homeschooler lain, dan sesudahnya melewatkan almost 4 hours of quality time with Ibu Stasia and kids, ada suatu impresi yang kudapat.

Melihat antusiasme anak-anak (khususnya kelas yang kupegang, usia 9 tahun ke atas — karena hampir dua jam aku menemani mereka belajar), melihat mama-mama yang dengan segenap hati mendampingi putra-putrinya, aku jadi berpikir, anak-anak ini suatu hari nanti tidak mustahil akan jadi orang-orang yang memberi dampak buat lingkungannya.

Aku teringat Thomas Alva Edison & mamanya.

Seringkali ibu sebagai orangtua yang paling banyak berada di dekat anak homeschool-nya, dalam beberapa hal merasa terbentur dengan keterbatasannya. Merasa tidak mampu, belum lagi jika ketambahan beban finansial. “Apakah dengan budget segini, anakku akan mampu bersaing dengan anak-anak yang uang sekolahnya sampai jutaan sebulan?”

Kalo ngomongin soal ‘learning’, sebaiknya kita mengambil sikap bahwa: sky is my limit. Dalam keterbatasan kita ini, kita bisa tetap membentuk kecintaan akan belajar untuk si pembelajar cilik kita.. seperti yang Nancy Edison lakukan untuk Al.

Bisa dibilang karena Nancy Edison-lah, Thomas Alva Edison (Al) menjadi seseorang yang kita kenal saat ini, seorang penemu yang memegang 1.093 hak paten atas penemuan-penemuannya.

Saat berumur 7 tahun, Al dipulangkan dari sekolah setelah sekolah sekitar 3 bulan, karena dianggap bingungan, ga bisa fokus (familiar dengan istilah ini? mungkin sekarang yang disebut ADD/ADHD, dll – devi), bodoh, lambat, lemot (mo yung :p – devi), terlalu banyak bertanya; selain itu Al juga benci matematika.

Nancy segera menemui kepala sekolah anaknya Pendeta G.B Engle. Pertemuan itu tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan Nancy. Pihak sekolah bersikeras bahwa Al tidak bakal bisa diajari.

Nancy Edison yang marah, segera menarik anaknya dari sekolah (dan mungkin sempat mencoba beberapa sekolah lagi) dan mengambil keputusan untuk mendidiknya sendiri di rumah.

Thomas Alva Edison, bisa jadi memperoleh mutu pendidikan yang jauh lebih baik ketimbang anak-anak pada jamannya, bahkan mungkin lebih baik dari kita sekali pun. Bukan karena ibunya punya kualifikasi khusus. Nancy Edison memang pernah jadi guru, tapi tak lama.

Kunci keberhasilan Al adalah dedikasi seorang Nancy Edison yang melebihi semua guru yang paling berdedikasi sekalipun, karena dia punya keleluasan untuk mencoba berbagai macam cara untuk memenuhi kebutuhan love of learning anak bungsunya yang tidak bisa duduk diam.

ednancy

Nancy tidak pernah memaksa anaknya untuk harus begini dan begitu, ia selalu berusaha untuk menemukan minat anaknya dengan membacakannya buku-buku literatur dan sejarah yang bermutu yang memang dia (Nancy) sukai. Nancy adalah seorang yang suka membaca. Demikian yang ditulis oleh Matthew Josephson, penulis biografi Thomas A. Edison.

Thomas Edison selalu dikelilingi buku-buku berkualitas. Umur 12 tahun Al sudah membaca Shakespeare, Dickens, Edward Gibbon’s Decline and Fall of the Roman Empire, David Hume’s History of England, dan banyak lagi. Nancy yang penuh dedikasi menemukan cara sederhana untuk memenuhi rasa ingin tahu anaknya yang selalu ingin tahu tentang apa saja. Dia mengamati bahwa Al menyukai science, dan membelikannya buku School of Natural Philoshopy, RG Parker, yang di dalamnya berisi cara-cara melakukan percobaan kimia di rumah. Inilah buku science pertama yang Al baca. Dan, banyak lagi buku science yang Al baca, yang semakin menarik perhatiannya kepada kimia.

Al membelanjakan seluruh uang sakunya untuk membeli peralatan2 untuk melakukan percobaan. Tak lama, dia pun membuat sendiri laboratorium bawah tanahnya. Ayahnya yang kurang setuju dengan kegiatan Al, sering memberikan uang supaya Al tidak melakukan percobaan2 di lab-nya. Al menggunakan uang ini untuk membeli peralatan lain. :) Josephson menulis, “Nancy telah menyelesaikan tugas yang hanya dapat dilakukan oleh guru-guru hebat. Nancy membawa anaknya kepada tahap lebih lanjut: belajar untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain, mengejar minatnya dan Nancy selalu memberikan dorongan bagi Al untuk terus maju. Itulah hal terbaik yang diberikan Nancy kepada Al.”

Nancy Edison boleh berbangga karena anaknya yang tadinya sudah dihakimi sebagai orang yang tidak punya potensi itu telah memberikan kontribusi yang besar untuk peradaban modern. Lebih bangga lagi jika jerih payahnya di awal diakui oleh anaknya, “My mother was the making of me. She was so true, so sure of me, and I felt I had some one to live for, some one I must not disappoint.”

_____________________________

Aku yakin sekali Thomas A. Edison dengan kepercayaan dari ibunya yang begitu besar, segera menemukan potensinya, mengejar minatnya dalam bidang mekanik & kimia. Aku juga yakin banget, begitu Edison diberi kesempatan seluas2nya oleh ibunya, segera dia belajar sedemikian banyak sehingga pasti langsung melampaui pengetahuan ibunya.

Dari kisah ini kita bisa liat, seorang ibu rumah tangga yang tidak berlatar belakang kimia, apalagi mekanika, bisa mengantar anaknya menjadi seorang penemu besar. Ada karunia yang Tuhan beri untuk ibu yang memang dengan segenap hati mengasihi anaknya dan ingin menemukan potensi yang Tuhan telah berikan dalam hidup anak kita.

Suatu hari nanti, pasti habis apa yang bisa aku berikan kepada Joel. Aku ga suka kimia :D , ga demen Kalkulus, ga suka-suka amat dengan Fisika. Tapi jika aku berhasil mewariskan kecintaan akan belajar, bagaimana memperoleh informasi untuk pertanyaan-pertanyaan kita, aku yakin dia bisa ke tahap berikut dalam perjalanan seorang pembelajar: pembelajar mandiri. Dan akhirnya, dia akan jadi orang yang berdampak buat orang lain, buat masyarakat, buat bangsa dan mempermuliakan nama Tuhan.

So, jangan pernah meragukan kemampuanmu ya, mommies…. Pasti ada kasih karunia buat kita.

Heart of Dakota

Satu lagi kurikulum ‘Hah apa tu? Ga pernah denger..’ yang saya pertimbangkan buat Joel.

beyond-little-hearts1Heart Of Dakota (HOD) rada setipe dengan MFW, yaitu yang pelajarannya terintegrasi dalam satu buku manual, Bible, Reading, Spelling, Maths, Geography, Science, semua jadi satu, tidak dipisah-pisah menjadi beberapa mata pelajaran seperti umumnya di sekolah.

HOD melakukan pendekatan yang ‘gentle’ seperti metode Charlotte Mason, mengajak anak-anak untuk mencintai belajar, belajar karena cinta, bukan karena mau ulangan. Mereka belajar dari buku-buku cerita yang ditulis oleh seorang penulis yang memang menguasai bahannya, tidak sekedar comot sana comot sini + mengutip wikipedia (hehehehehe).

Akhirnya setelah menimbang-nimbang sejenak dan sangat terkesan dengan keramahan keluarga Austin (pemilik dan penulis kurikulum HOD), saya pun order kurikulum untuk anak umur 6-8 tahun: Beyond Little Hearts for His Glory. Mike and Carrie sangat cepat membalas email (di hari yang sama), benar-benar jempol untuk layanan customer servicenya. Hebat, karena mereka sendiri yang membalas email saya yang cukup panjang dan lebar menanyakan tentang kurikulum mereka

Karena buru-buru, saya ga cek lagi kalo pesanan Teacher Manual-nya dobel. Mike langsung hubungi saya, menanyakan apakah saya memang butuh dua, waktu saya bilang tidak, dia langsung refund ke kartu kredit kami, hari itu juga.

Dan, sekarang sudah ada email dari USPS bahwa barang kiriman dari keluarga Austin akan berangkat dari US hari ini — sekarang masih dini hari Selasa di sana. :p Wow, keren.

Pilihan HOD sebenernya agak konyol buat kami, karena kurikulum ini base-nya adalah sejarah Amerika Serikat. Namun mengingat Joel menyukai cerita-cerita dan kehebatan para penjelajah, menurut saya pilihan ini cukup aman. Saya tinggal memberikan semua pengetahuan saya tentang sejarah negara tercinta Indonesia sebanyak-banyaknya buat dia untuk melengkapi pengetahuannya. Nenek moyangku kan seorang pelaut juga.. hehehehe.

Ehm.. menurut saya Joel tahu cukup banyak lah tentang sejarah Indonesia untuk anak seumuran dia. Dia tahu kok tentang Soekarno, Suharto, Gus Dur & Megawati, juga sedikit tentang SBY. Saya cerita banyak tentang presiden-presiden RI ke dia, waktu Gus Dur meninggal dan beritanya cukup santer. Dia tahu kok Megawati ini anaknya Soekarno, dan tau juga bahwa Suharto itu ‘kok lama banget sih jadi presidennya.’ Juga tahu waktu Indonesia merdeka, saat itu presiden US adalah Harry S. Truman… hahahahaha.. teuteup. Kenapa anak Indonesia satu ini suka banget sama presiden US ya.. *heraaaan*

Back to HOD. Kurikulumnya seharga: $149.34 untuk 1 TM + 13 buku -9 buku cerita, 3 buku sejarah, 1 buku science- +1 audio CD. Ongkos kirimnya cukup mencengangkan, total: $14.5 $45.58. Lalu Mike juga mau membantu saya agar biaya pembelian kurikulum lebih ringan, karena import tax yang harus saya bayar ke bea cukai nanti pasti cukup besar. MFW tahun lalu berkomentar pun tidak atas pertanyaan saya tentang ini.

Btw, buat kami biaya yang kami keluarkan untuk kurikulum ini cukup terjangkau. Kemarin saya dapat info biaya sekolah nasional plus yang dulu sempat jadi calon sekolah Joel, mereka mematok uang pangkal 18jt, uang sekolah 1,45jt, uang kegiatan 1,3jt, uang buku $325 (HOD ga nyampe setengahnya) dan uang formulir 225rb –> sekitar 24jt untuk memasukkan anak kita ke sekolah itu.

Fiuhh.. semoga kurikulum HOD sebagus pelayanannya. Let’s see.

Considering Changing to Textbooks Approach

confusedMengikuti kurikulum MFW 1stgrade, kami behind schedule. Dari 180 hari yang dijadwalkan, kami baru menyelesaikan 40%-nya. Bukan prestasi yang membanggakan :) namun apa mau dikata, bayi Chloe hadir dan mengobrak-abrik seluruh hidup kami pada masa awal kedatangannya di dunia. :p

Setelah hampir dua tahun bersama MFW, saya mulai agak jenuh. Agak capek juga karena banyak kegiatan hands-on yang membuat saya lumayan putar otak menyiapkan bahan-bahan yang dibutuhkan. Gampang jika ada kendaraan yang bisa dipakai sewaktu-waktu, gampang jika ada asisten yang bisa disuruh-suruh atau bisa menjaga si bayi saat kita belajar bersama anak yang lebih besar. Akhirnya sering aktivitas yang disarankan itu tidak kami lakukan. :(

Nah, jauh dari idealisme, saya sedang mempertimbangkan kurikulum model textbook, workbook. Harapan saya, Joel bisa mengerjakan sendiri tugas-tugasnya tanpa banyak tergantung kehadiran saya.

Setelah mencari-cari; biasanya kurikulum-kurikulum besar dan mapan, yang sangat berbau sekolah; seperti ACE, A Beka, BJU, saya kesampingkan dulu, saya ketemu dan suka dengan McRuffy Press. *hahaha, saya langsung membayangkan teman-teman sesama ortu HS yang akan mengomentari kecenderungan saya memilih kurikulum-kurikulum aneh di luar mainstream, seperti pilihan MFW sebelumnya.

Bukan karena matematika dan science-nya yang sangat hands-on, tapi karena kurikulum ini minim persiapan, bisa dikata semuanya sudah disiapkan oleh mereka. Memang yang kayak gini yang saya cari. Saya cukup capek selama beberapa bulan ini harus keluar rumah (tunggu hubby pulang dari kantor sekitar jam 7-8 malam) untuk mencari benda-benda pernik seperti: balon, kacang lentil, kawat, dll.

Harganya juga cukup reasonable. Untuk tiga mata pelajaran (Bahasa Inggris — reading, handwriting, spelling– Matematika, IPA) berikut buku manual, 34 buku bacaan produk sendiri, math kit, science kit, dan resource pack harganya masih belum sampai $300.

Tapi saya masih belum yakin, karena selain ini program sekuler; beda jauh dengan MFW kami yang Bible-integrated; ini juga berarti akan ada tiga buku manual sementara dengan MFW saya cukup pegang satu buku manual.

Program sekuler juga berarti saya harus mempertimbangkan perlu tidaknya saya membeli/membuat sendiri program bible study-nya. Atau cukup mengandalkan Sekolah Minggu? Sejauh ini, beberapa kali saya mendapati dia asik membaca sendiri Alkitabnya, tiap kami mengcover satu topik di MFW 1stgrade.

Karena alasan ini juga akhirnya saya mempertimbangkan Heart of Dakota (HOD) yang sama dengan MFW, berangkat dari akar metode Charlotte Mason, programnya sangat gentle, tidak terlalu berasa seperti sedang belajar. Dibanding MFW HOD lebih gentle, lebih CM, tidak terlalu butuh banyak persiapan, dan Bible study-nya lebih ke arah karakter sementara MFW arahnya ke pekerjaan misi. Sayang HOD sangat American-focus.

Tapiii.. jika dipikir-pikir lagi, kira-kira kenapa Joel begitu tertarik dengan geografi, sejarah, bahkan sampai hafal ke-44 presiden Amerika jika saya tidak pernah terbuka wawasannya bahwa yang namanya belajar itu bukan melulu Matematika, IPA, dan Bahasa? Bahwa ada kurikulum yang backbonenya adalah sejarah, lebih ideal lagi sejarahnya didasarkan pada sebuah kitab yang kami percaya adalah kebenaran mutlak. Bahwa sejarah, geografi dan itu sangat menarik dan menyenangkan, apalagi dengan bantuan teknologi semacam Google Earth yang membuat Joel asik keliling dunia secara virtual, masuk ke dalam Colosseum di Roma yang dibangun tahun 80 M, pergi ke kota tua Sana’a di Yaman.

Phewwww… Intinya saya lagi kebingungan sendiri sebaiknya bagaimana. Entahlah. Mungkin harus berdoa lagi minta bimbingan Tuhan dalam menentukan kurikulum untuk level berikut.

Photographic Memory?

Joel sedang terobsesi dengan para presiden Amerika Serikat. Bisa dibilang, tiap hari dia mengunjungi situs Whitehouse dan memandangi wajah-wajah orang yang pernah berada di pucuk pimpinan negara ini. Baca postingan sebelumnya tentang ketertarikannya pada orang-orang ini.

Jika sedang menyukai sesuatu, biasanya seseorang akan terus berbicara tentang hal itu. Demikian juga Joel. Hampir tiap hari saya diceritakan olehnya tentang presiden A yang hanya menjabat 1 bulan, kemudian meninggal, tentang Abraham Lincoln yang terpilih jadi senator di Illinois, atau dsbg, dsbg.

Seperti hari ini, saat makan siang, dia mulai lagi dengan ceritanya tentang beliau-beliau tadi. Maka, saya pun iseng bertanya padanya, mulai dari presiden AS pertama sampai ke-44 (kecuali no.31 sempat terlupa) dia bisa sebut semua! WHAT?!

Maka saya pun minta dia mendiktekan pada saya nama-nama tadi. Sekali-sekali dia sebut tahun jabatannya. Kadang dia ikut memeriksa jika saya salah tulis; misal: “Roosevelt, o-nya dua, ya.” atau “Jefferson f-nya dua.” Fiuhhh… satu per satu dia sebut, dan saya yang dengerin tiba-tiba merasa sangat lelah.

Saat dia menyebut nama-nama itu tanpa melupakan inisial nama tengahnya, misal: S pada Ulysses S. Grant, M pada Richard M. Nixon, saya cukup yakin bahwa Joel memiliki photographic memory yang sangat baik pada usia ini. Dia pasti mengingatnya karena melihat nama itu di monitor komputer.

Saya jadi teringat waktu dia berusia dua tahunan, Joel bisa menyebut lebih dari 50 nama mobil dan usia 3 tahun dia sudah hafal luar kepala lebih dari 100 jenis mobil.

Dan, sekarang presiden Amerika.

USPresidents-Joel

catatan:

  • tanda * berarti presiden tersebut terbunuh.
  • tanda + orang tersebut meninggal karena faktor alami (tua, penyakit, dll)
  • ini adalah kertas kedua–jadi nyaris tidak ada kesalahan tulis; kertas pertama dicorat-coret hingga tak terbaca oleh adiknya.

Rapor, Transkrip Nilai & Ijazah

report card[1]

Tiga hal yang saya sebut di atas bagi sebagian institusi (juga orang-orang tertentu) adalah segala-galanya.

Seringkali ortu mundur dari keinginan untuk melakukan homeschool karena bayang-bayang kekuatiran akan ketiadaan ijasah anaknya. Apakah anak saya bisa diterima di univ? Bagaimana jika sewaktu-waktu kami ingin kembali ke sekolah? Tanpa adanya rapor dan ijazah sepertinya agak mustahil ya?

Untuk masalah ijazah, kita bisa memanfaatkan pilihan ujian paket A/B/C yang diselenggarakan oleh pemerintah kita. Selain itu ada juga ujian berskala internasional seperti yang diadakan oleh lembaga terhormat dari Inggris University of Cambridge International Examinations (CIE), atau ujian ala USA yaitu SAT reasoning, dan lain-lain. CIE, SAT punya perwakilan di Indonesia, jadi ujiannya bisa dilakukan di sini. Ya, kira-kira seperti TOEFL atau IELTS.

Ujian paket mewajikan adanya ijazah dari jenjang sebelumnya untuk mengambil ujian jenjang berikut, misal untuk ikut ujian paket B, harus ada ijazah SD, demikian seterusnya. Selain itu juga ada batasan umur minimum. Berbeda dengan ujian standarisasi internasional yang bisa diambil kapan saja, usia berapa saja. Biaya ujian bisa dilihat di website masing-masing. Yang pasti, jauh lebih terjangkau daripada menyekolahkan anak di sekolah internasional atau sekolah nasional plus atau swasta sekali pun.

Bagaimana dengan rapor?

Rapor sebenarnya hanya dibutuhkan jika HS bubar di tengah jalan :) . Tidak tertutup kemungkinan juga ada sekolah yang mau menerima anak HS tanpa rapor asal lulus tes yang mereka adakan.

Namun, untuk ketenangan batin, sebagian orangtua merasa lebih afdol jika anaknya punya rapor, ada pihak lain yang menilai hasil pekerjaan anaknya — walaupun harusnya orangtua HS inilah yang paling tahu seberapa jauh pemahaman anaknya akan sebuah subyek.

Beberapa ortu memilih opsi distance learning (sekolah jarak jauh) yang akan memberikan layanan konsultasi, kurikulum, assigned teacher, grading service, dll. Semua aman terkendali karena ada korespondensi, ortu wajib melaporkan perkembangan anaknya ke pihak sekolah di tempat yang nun jauh di sana. Nanti pihak sekolah akan mengeluarkan transkrip nilai dan diploma (ijazah). Biayanya cukup tinggi, jutaan sampai puluh juta, karena sudah termasuk materi ajar.

Nah, saya menemukan setidaknya dua lembaga di USA yang bisa memberikan grading service, record maintaining, bahkan counseling dengan harga sangat terjangkau ($50-75/thn).

Homelife Academy dan Crossroads Christian School dua-duanya berspirit kristiani, memberikan layanan juga untuk keluarga yang tinggal di luar US. Saya duga ini karena awalnya cukup banyak pelaku HS yang adalah misionaris atau bekerja di sektor militer, mereka ingin anak mereka mendapat pendidikan model US namun tidak mungkin didapatkan di negara tempat mereka ditugaskan. Namun, baik HLA maupun CCS melayani juga keluarga-keluarga yang bukan warga negara Amerika Serikat.

Orangtua bebas memilih kurikulum apa pun yang dia suka, mau dicampur juga boleh, unschooling pun monggo. Ada sedikit paperwork, orangtua diharapkan bisa memberikan laporan pekerjaan anaknya minimal dua kali setahun.

Saya berencana mendaftar di Homelife Academy untuk tahun ajaran mendatang, walau sebenarnya kami tidak ikut tahun ajaran mana-mana. Semoga saya bisa lebih tenang dalam berHS.

GBU.

Teacher vs Tutor

Tutor[1]Ketika masih kuliah, saat libur semester saya pernah mencoba kerja menjadi guru pengganti di sebuah sekolah. Tidak lama, hanya beberapa kali saja.

Saya juga pernah menjadi guru les (tutor) untuk beberapa anak dari usia SD-SMP. Yang ini saya jalani lebih rutin dan lebih lama. Pemasukan yang saya dapat dari pekerjaan ini membuat saya punya uang saku ekstra dan bisa bernafas lebih lega karena uang kiriman ortu dulu tidaklah berlebihan.

Sekarang setelah saya punya anak, dan meng-HS-kan anak sendiri, terasa sekali peran saya lebih seperti seorang tutor, bukan guru. Lebih sering saya mengikuti irama Joel, saya tidak diburu oleh jam pelajaran, tidak harus disetir oleh kurikulum. Kadang saya lompati bagian2 yang menurut saya dan Joel tidak penting, atau tidak menarik. Dan tidak ada yang akan memecat saya karena ‘pelanggaran’ itu. :p

Tulisan di sini* makin meneguhkan pendapat saya tadi.

*Tulisannya dibuat oleh staf Home Life Academy, sebuah lembaga yang memberikan jasa grading+transcript, counselling & record keeping untuk homeschooler.

Ini saya kutipkan di bawah ini….

I’ve done two years of teaching; and I’ve done a lot of tutoring. They are very different.

The teacher must make the student conform to the schedule.
The tutor may conform the schedule to the student.

The teacher must follow the set curriculum.
The tutor may adapt the curriculum as needed.

The teacher must apply one curriculum to an entire group.
The tutor can custom tailor the curriculum for the individual.

The teacher has limited time to get to know the student.
The tutor gets to know his or her students intimately.

The teacher receives an evaluation from superiors.
The tutor receives an evaluation from the student.

The teacher is viewed by the student as an enforcer of rules.
The tutor is viewed by the student as a resource for further understanding.

The teacher’s job and success is completely measured by the final grades (and now, the standardized tests).
The tutor’s job and success is measured by interaction with the student (through conversation, relaxed projects, field trips, writing and re-writing, etc.).

The teacher’s student is primarily concerned about making the teacher happy.
The tutor’s student is primarily concerned about satisfying their curiosity and desire to learn.

The teacher must keep moving in order to “cover” all the material.
The tutor may take as long as needed for the material to cover itself.

If I could have my way I would change all our correspondance with parents, and all our information on the website, from calling parents “teachers” to calling them “tutors.” It seems to make a great deal of difference.

Belajar Hari Ini

Hari ini kegiatan belajar bersama kami sangat menyenangkan.

Saya dan Joel duduk berdua di hadapan meja kopi (terjemahan bebas untuk coffee table) baru kami; tadinya kami belajar di meja makan. Saya mencoba memberikan segenap perhatian buat dia, biasanya saya sambi masak. Dengan full attention dari saya, terlihat sekali dia bisa bekerja lebih efektif. Ya jelaslah, siapa sih yang suka disambi.

Untuk matematika, Joel baru saja menyelesaikan semua pelajaran tentang penjumlahan, yang berarti semua factsheet penjumlahan sudah dia lalui tanpa dia harus susah payah menghafalnya, thanks to Math U See.

Saya masih terkagum-kagum dengan cara MUS mengajarkan matematika pada anak. Factsheet (bahasa Indonesianya apa ya? tabel penjumlahan kali ya), tidak dihafalkan dengan cara 1+1=2 dst. Anak-anak diberikan pola. Misal: pola penjumlahan 0, penjumlahan 1, penjumlahan 2, penjumlahan dobel, penjumlahan 8, penjumlahan 9. Jika dia sudah kuasai dia akan menandai tabel yang sudah dibuat. Nanti, rupanya akan tersisa sedikit penjumlahan yang tidak punya pola, yaitu 5+7 & 7+5, 4+7 & 7+4. Akan saya upload-kan foto tabel penjumlahan kami segera.

Lalu, kami masuk ke cerita Alkitab mengikuti kurikulum utama kami. Kami punya timeline project sejarah menurut Alkitab dan saat ini kami sampai ke kisah keturunan Adam. Pernah baca? Tadi kami baca versi CEV-nya, klik di sini mau lihat yang versi Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS). Bagaimana? Agak membosankan ya? Isinya hanya nama, dan usia Adam dan keturunannya.

Namun, Joel sukaaaa sekali membacanya. Aneh ya? :p. Dia terkagum-kagum dengan fakta bahwa Adam meninggal usia 930. Juga mendapat info baru bahwa Metusalah adalah manusia yang paling lama hidup di bumi — 969 tahun. Juga bahwa Metusalah adalah kakek Nuh. Juga bahwa ada seorang yang bernama Henokh yang tidak pernah meninggal karena diangkat oleh Tuhan.

Saya ingat dulu ketika masih sangat semangat membaca Alkitab, saya membaca setiap kata pada pasal ini. Namun, saya tidak berpikir terlalu jauh, juga tidak ada satu fakta pun yang saya ingat. Joel mengingat dengan baik umur hidup Adam dan Metusalah. :) Dia juga jadi berpikir mengapa manusia sekarang umurnya lebih singkat. Tentu dia juga bertanya terus mengapa Henokh diangkat. Supaya Papanya ikut berkontribusi, saya suruh dia tanya pada Papanya. Jawabannya cukup memuaskan dia kok. Hehehe…

Jujur, saya juga mendapat sesuatu dari pelajaran hari ini. Wih, betapa berbedanya kualitas kehidupan di bumi dulu dengan sekarang.

Hm… cukup dulu merenungnya.

Sensitivity

Kami sedang berada di area parkir bawah tanah Mal Serpong, ketika Joel bertanya,
“Basement itu bawah tanah, ya.”
“Ya,” jawab saya.
“Terus binatang-binatangnya ke mana kalau bawah tanahnya buat parkir?”

Good question, Joel! Terus terang, saya tidak pernah kepikiran hal semacam ini.

“Binatang-binatangnya pindah, Joel,” jawab saya. Ketika dia bertanya lagi pindah ke mana, Papanya menjawab, “Pindah ke tempat lain, ke bawah tanah juga.”

Pertanyaan ini menyentuh saya.

Sebelum ini dia pernah bertanya, apakah daging yang dia makan binatangnya itu dibunuh. Akhir-akhir ini dia juga hampir selalu memastikan apakah daging yang ada di piringnya itu, binatangnya sudah mati.

Tentu, saya harus pintar menjelaskannya padanya. “Memang ada binatang yang dipelihara untuk diambil dagingnya. Ada juga yang diambil susunya, ada juga yang diambil telurnya, bulunya, dst. Ada juga binatang peliharaan (pet) yang dipelihara untuk dijadikan teman bermain atau untuk jaga rumah, dst.”

Saya bukan vegan, walaupun tidak terlalu menyukai daging merah (read meat, daging dari binatang berkaki 4), namun saya ajarkan padanya untuk menghargai semua ciptaan Tuhan. Bahwa semua yang Tuhan ciptakan itu ada tujuannya, ada gunanya. Bahwa Tuhan sudah tetapkan binatang A akan menjadi makanan binatang B, tumbuhan akan jadi makanan binatang C, dan semuanya harus seimbang. Jika keseimbangan terganggu, hal yang buruk akan terjadi.

Contoh:
“Nyamuk buat apa sih, Ma?” tanyanya sambil menggaruk-garuk kakinya yang penuh dengan gigitan nyamuk.
“Nyamuk itu kan makanan cicak, kodok. Kalau tidak ada nyamuk, cicak dan kodok makanannya jadi berkurang, deh.”

Juga keheranannya tentang tumbuhan,
“Memangnya tumbuhan itu makhluk hidup?”
“Iya dong. Makhluk hidup itu artinya dia bisa bernafas, bisa besar, tumbuh seperti kamu tambah hari tambah besar.”
“Ow. Joel baru tau. Kirain semua yang ga ada mata, hidung, itu bukan makhluk hidup.”
“Lho, kerang kan juga ga punya mata, tapi dia makhluk hidup.”
“Oh, iya ya!”

Kepekaan bisa diajarkan sejak dini pada anak. Kepekaan bahwa dirinya adalah salah satu makhluk hidup yang diciptakan Tuhan untuk hidup berdampingan dengan makhluk lain, belajar menghargai binatang, juga tumbuhan. Peka bahwa dia sebagai makhluk Allah punya peran menjaga keseimbangan, sekecil apa pun peranannya.

Beberapa hal kecil yang bisa dilakukan tangan-tangan kecil ini:
- Tidak mengasari binatang dan tanaman. –> mereka juga mahkluk hidup, teman dan saudara juga tidak boleh dikasari ya… :)
- Membuang sampah pada tempatnya. —> sungai yang dipenuhi sampah membuat air tidak mengalir lancar, banjir bisa terjadi.
- Menggunakan listrik seperlunya. –> pemanasan global bisa mengakibatkan es di kutub mencair, beruang kutub dan penguin bisa kehilangan tempat tinggal.

Hal kecil tapi pasti punya dampak besar buat mereka kelak.

Seperti pertanyaan Joel kemarin, setelah puas menggilas rumput taman seberang rumah dengan roda sepedanya, “Rumput kalo diinjak-injak bisa mati ya, Ma?”

Our HS’ First Anniversary

Dah setahun kami berhomeschool.

Saya ingin mengenang sedikit. Setelah maju mundur berkali-kali, akhirnya saya kasih kesempatan juga untuk pilihan pendidikan yang bergenre alternatif ini. Kalau tidak pernah mencoba ya tidak tahu kan?

Setelah melalui proses screening, baca review sana-sini, akhirnya saya menjatuhkan pilihan sebuah kurikulum taman kanak-kanak My Father’s World Kindergarten, yang sepertinya pas dengan kepribadian keluarga kami. Untuk pendidikan usia dini, sebenarnya kurikulum ready-made seperti ini tidak 100% dibutuhkan, tapi sebagai pemula rasanya lebih percaya diri jika ada tuntunan. (sebelumnya saya menggunakan bahan dari sana-sini untuk bahan prasekolahnya)

Ok, kurikulum sudah di tangan, maka Januari 2008 kami memulai sebuah awal dari rangkaian panjang petualangan belajar kami.

Seru. Menyenangkan, terutama buat saya. Rasanya mendapat energi untuk menjalani hidup saya sebagai seorang stay at home mom. Rasanya tidak sia-sia memutuskan resign dari kantor setahun lalu. Sepertinya saya belajar lebih banyak ketimbang Joel.

Tapi… perjalanan ini juga penuh dengan ujian kesabaran :) Hidup bersama seorang balita (dan ditambah seorang bayi sekarang)… 24 jam sehari, 7 hari seminggu… tentu membutuhkan kesabaran dan ketelatenan yang ruarr biasa. Saya sendiri menyadari perubahan yang terjadi pada saya dalam setahun belakangan ini. Banyak hal yang ‘bukan gua banget’ sekarang menjadi ‘gua banget’. Anak-anak telah mengajari saya menjadi ibu yang lebih sabar, lebih trampil, lebih fleksibel, lebih banyak pengetahuan, dll.

Dalam satu tahun ini, saya mendapat reward yang sangat besar. Bukan sekedar membuat Joel melek aksara atau bisa menulis dengan baik, atau bisa menggunakan komputer… tapi lebih dari itu, kebanggaan saya, dia suka membaca, dia tau menggunakan komputer untuk hal yang tepat. Satu lagi pada usia menjelang 5 tahun ini, dia terlihat semakin mudah mengaplikasikan kebebasan dengan batasan-batasan yang saya berikan. Dia tahu kapan dia harus berhenti nonton acara televisi kesukaannya, dia tahu kapan harus mematikan komputer tanpa harus diingatkan lagi — cukup lihat jam dinding, yang kemampuan baca jam-nya juga dia pelajari dari kami.

But, he’s no 100% angel. Surely he is a real boy. Dia juga sering bertingkah, sama dengan anak-anak pada umumnya. Tapi saya bahagia karena saya mengikuti secara dekat setiap proses yang dia alami, saya bisa jadi coach buatnya dalam menghadapi tantangan yang dia hadapi. setiap kekesalannya, kemarahannya, kerewelannya juga mendewasakan saya sebagai orangtua yang juga terus belajar menjadi orangtua yang baik.

Homeschooling memang begitu sederhana dan terintegrasi dengan keseharian kami. tidak ada hal yang terlalu besar, tapi juga tidak ada hal yang terlalu kecil, semuanya terjadi tanpa perlu dibuat-buat.

Akhirnya, saya ingin memberi semangat untuk setiap keluarga pelaku homeschooling… keep up the good work!