Jumat lalu, seusai kegiatan belajar bersama beberapa homeschooler lain, dan sesudahnya melewatkan almost 4 hours of quality time with Ibu Stasia and kids, ada suatu impresi yang kudapat.
Melihat antusiasme anak-anak (khususnya kelas yang kupegang, usia 9 tahun ke atas — karena hampir dua jam aku menemani mereka belajar), melihat mama-mama yang dengan segenap hati mendampingi putra-putrinya, aku jadi berpikir, anak-anak ini suatu hari nanti tidak mustahil akan jadi orang-orang yang memberi dampak buat lingkungannya.
Aku teringat Thomas Alva Edison & mamanya.
Seringkali ibu sebagai orangtua yang paling banyak berada di dekat anak homeschool-nya, dalam beberapa hal merasa terbentur dengan keterbatasannya. Merasa tidak mampu, belum lagi jika ketambahan beban finansial. “Apakah dengan budget segini, anakku akan mampu bersaing dengan anak-anak yang uang sekolahnya sampai jutaan sebulan?”
Kalo ngomongin soal ‘learning’, sebaiknya kita mengambil sikap bahwa: sky is my limit. Dalam keterbatasan kita ini, kita bisa tetap membentuk kecintaan akan belajar untuk si pembelajar cilik kita.. seperti yang Nancy Edison lakukan untuk Al.
Bisa dibilang karena Nancy Edison-lah, Thomas Alva Edison (Al) menjadi seseorang yang kita kenal saat ini, seorang penemu yang memegang 1.093 hak paten atas penemuan-penemuannya.
Saat berumur 7 tahun, Al dipulangkan dari sekolah setelah sekolah sekitar 3 bulan, karena dianggap bingungan, ga bisa fokus (familiar dengan istilah ini? mungkin sekarang yang disebut ADD/ADHD, dll – devi), bodoh, lambat, lemot (mo yung :p – devi), terlalu banyak bertanya; selain itu Al juga benci matematika.
Nancy segera menemui kepala sekolah anaknya Pendeta G.B Engle. Pertemuan itu tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan Nancy. Pihak sekolah bersikeras bahwa Al tidak bakal bisa diajari.
Nancy Edison yang marah, segera menarik anaknya dari sekolah (dan mungkin sempat mencoba beberapa sekolah lagi) dan mengambil keputusan untuk mendidiknya sendiri di rumah.
Thomas Alva Edison, bisa jadi memperoleh mutu pendidikan yang jauh lebih baik ketimbang anak-anak pada jamannya, bahkan mungkin lebih baik dari kita sekali pun. Bukan karena ibunya punya kualifikasi khusus. Nancy Edison memang pernah jadi guru, tapi tak lama.
Kunci keberhasilan Al adalah dedikasi seorang Nancy Edison yang melebihi semua guru yang paling berdedikasi sekalipun, karena dia punya keleluasan untuk mencoba berbagai macam cara untuk memenuhi kebutuhan love of learning anak bungsunya yang tidak bisa duduk diam.

Nancy tidak pernah memaksa anaknya untuk harus begini dan begitu, ia selalu berusaha untuk menemukan minat anaknya dengan membacakannya buku-buku literatur dan sejarah yang bermutu yang memang dia (Nancy) sukai. Nancy adalah seorang yang suka membaca. Demikian yang ditulis oleh Matthew Josephson, penulis biografi Thomas A. Edison.
Thomas Edison selalu dikelilingi buku-buku berkualitas. Umur 12 tahun Al sudah membaca Shakespeare, Dickens, Edward Gibbon’s Decline and Fall of the Roman Empire, David Hume’s History of England, dan banyak lagi. Nancy yang penuh dedikasi menemukan cara sederhana untuk memenuhi rasa ingin tahu anaknya yang selalu ingin tahu tentang apa saja. Dia mengamati bahwa Al menyukai science, dan membelikannya buku School of Natural Philoshopy, RG Parker, yang di dalamnya berisi cara-cara melakukan percobaan kimia di rumah. Inilah buku science pertama yang Al baca. Dan, banyak lagi buku science yang Al baca, yang semakin menarik perhatiannya kepada kimia.
Al membelanjakan seluruh uang sakunya untuk membeli peralatan2 untuk melakukan percobaan. Tak lama, dia pun membuat sendiri laboratorium bawah tanahnya. Ayahnya yang kurang setuju dengan kegiatan Al, sering memberikan uang supaya Al tidak melakukan percobaan2 di lab-nya. Al menggunakan uang ini untuk membeli peralatan lain.
Josephson menulis, “Nancy telah menyelesaikan tugas yang hanya dapat dilakukan oleh guru-guru hebat. Nancy membawa anaknya kepada tahap lebih lanjut: belajar untuk dirinya sendiri, bukan untuk orang lain, mengejar minatnya dan Nancy selalu memberikan dorongan bagi Al untuk terus maju. Itulah hal terbaik yang diberikan Nancy kepada Al.”
Nancy Edison boleh berbangga karena anaknya yang tadinya sudah dihakimi sebagai orang yang tidak punya potensi itu telah memberikan kontribusi yang besar untuk peradaban modern. Lebih bangga lagi jika jerih payahnya di awal diakui oleh anaknya, “My mother was the making of me. She was so true, so sure of me, and I felt I had some one to live for, some one I must not disappoint.”
_____________________________
Aku yakin sekali Thomas A. Edison dengan kepercayaan dari ibunya yang begitu besar, segera menemukan potensinya, mengejar minatnya dalam bidang mekanik & kimia. Aku juga yakin banget, begitu Edison diberi kesempatan seluas2nya oleh ibunya, segera dia belajar sedemikian banyak sehingga pasti langsung melampaui pengetahuan ibunya.
Dari kisah ini kita bisa liat, seorang ibu rumah tangga yang tidak berlatar belakang kimia, apalagi mekanika, bisa mengantar anaknya menjadi seorang penemu besar. Ada karunia yang Tuhan beri untuk ibu yang memang dengan segenap hati mengasihi anaknya dan ingin menemukan potensi yang Tuhan telah berikan dalam hidup anak kita.
Suatu hari nanti, pasti habis apa yang bisa aku berikan kepada Joel. Aku ga suka kimia
, ga demen Kalkulus, ga suka-suka amat dengan Fisika. Tapi jika aku berhasil mewariskan kecintaan akan belajar, bagaimana memperoleh informasi untuk pertanyaan-pertanyaan kita, aku yakin dia bisa ke tahap berikut dalam perjalanan seorang pembelajar: pembelajar mandiri. Dan akhirnya, dia akan jadi orang yang berdampak buat orang lain, buat masyarakat, buat bangsa dan mempermuliakan nama Tuhan.
So, jangan pernah meragukan kemampuanmu ya, mommies…. Pasti ada kasih karunia buat kita.
Posted: March 10th, 2010 under sidenote.
Comments: none