Joel's  book recommendations, reviews, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists

Belajar Memberikan Bukti

Beberapa waktu lalu Joel menginformasikan kepada kami bahwa ia melihat di kompleks kami ada mobil yang plat (nomor polisi)-nya ada tiga digit huruf di bagian belakang, NFA katanya. Dugaan kami waktu itu dia mengada-ada (yang punya huruf tiga digit di belakang kan sepeda motor?) Atau mungkin dia salah lihat. Tapi dia yakin sekali dia benar.

Beberapa hari yang lalu waktu jalan-jalan sore, Joel menunjukkan kepada saya.. “Ma, itu lho. Yang Joel bilang, di belakangnya ada tiga huruf. NFA.”

Saya hampir tidak percaya. Wah, ternyata nomor registrasi mobil di wilayah Jakarta sudah sampai tiga digit huruf-nya. Wah..wah. Ternyata Joel yang benar ya… maklum kami (Mamanya terutama) sudah jarang menginjak jalan-jalan Jakarta.

Lalu, saya minta Joel fotokan dengan kamera handphone saya, agar bisa diperlihatkan kepada Papa sebagai bukti atas perkataannya. Dan inilah hasilnya:

tigadigit-plat

Demi privasi si pemilik mobil, tentu harus diedit sedikit. Hayo, ada yang bisa tebak mobil apakah ini? ;)

Biaya Pabean yang Membingungkan

Minggu lalu ada surat dari kantor pos. Aku harus mengambil paket dan di situ tertera, biaya total Rp 69ribu-an dengan bea masuk 63ribu-an sisanya biaya bungkus dan admin.

Coba mengingat-ingat.. aku order apa sih, ampe kena biaya semahal ini? Kalo ga salah untuk barang di bawah 50US$ bebas fee. Soalnya dulu pernah pesen kurikulum dari US yang lebih dari 130US$ dan untuk ini aku cuma bayar 7rb.

Akhirnya, Sabtu lalu kita pergi deh ke Kantor Pos Tangerang. Ternyata itu kiriman kurikulum matematika Math-U-See dari Singapore yang harganya jauh di bawah kurikulum dari US.

Kenapa bisa begitu ya? Apa karena yang dari Singapore ini dituliskan secara detil tentang valuenya dan keterangannya adalah commercial sample + DVD (educational) sementara yang dari US hanya diberikan keterangan educational material?

Bingung…

On Unschooling Mode

I (the Mom) am struggling and adjusting with my new life. Homeschooling with a new baby is sooo challenging. After twice or third trial, I gave up our scheduled HS routine – 10am in the morning with MFW-K and switched to child-led method. I am just trying to be realistic what we can achieve at this time.

I have to devote so much time to baby Chloe (7 weeks) during the day. Changing diapers every now and then, nursing every two or three hours (not to mention when the growth spurts happened), soothing the baby, and so on. My life is so unbalanced right now, I’m trying so hard to maintain every child’s routine. And I feel that Joel (or me) miss our HS routine. He kept asking, “Mom, let’s do school.” I don’t want Joel to be ‘left behind’, because I am focusing so much of my attention on baby Chloe.

But, thank God, the greatest advantages of homeschooling is the gift of freedom.

All we have to do is adjusting everything to our own family style. School environment at home just not for us. When I was feeding the baby, we all cuddled up on the bed and Joel would read a story for us. When I took the baby for a walk, we’d talk about the cars we met. Joel was learning to tell the area where a car registered from its license plate number. Joel also found his new interest on computer. Google Images, interactive learning CDs are his new friend, and he could take up to almost 2 hours playing with them. Pipo is one of his all-time favorite.

In short, we are (striving) continued living and learning, just like before. I just wish I could be more disciplined (and rise earlier!). :D

Mama Cuti Melahirkan

Punya adik bayi tidak berarti Joel berhenti belajar. Walau Mama mengambil ‘cuti’ satu bulan, tapi ternyata Joel tak bisa berhenti belajar.

Ada satu pelajaran penting dengan punya adik ini. Joel belajar bagaimana berbagi Mama. Jelas sekali dia ‘struggling’ di hari-hari pertama. Pasti rasanya tidak rela melihat Mama yang tadinya hampir selalu available 24 jam buat dia, sekarang harus dibagi dengan adik, yang menyusu hampir tiap tiga jam sekali, belum lagi kalau adiknya nangis, pipis, pup atau bosan… Joel belajar dan menurut kami dia cukup sukses menangani kecemburuannya.

Untuk pelajaran secara akademis…. awalnya dia sering menagih melanjutkan pelajarannya dengan MFW. Tapi karena rasanya mustahil bisa melakukannya, saya menyerah.. maklum saya masih belum terampil membagi diri untuk dua orang anak + satu asisten (baca: PRT) yang alih-alih membantu malah bikin tambah banyak pikiran.. hehehe. Untung Papa sangat membantu, dengan memandikan Chloe setiap pagi sebelum ngantor.

Lalu bagaimana?

Ternyata Joel bisa belajar sendiri. Menyalakan desktop PC, memasukkan password, connect ke internet lewat modem 3G, menyalakan browser firefox, masuk ke Google Images dan mencari gambar yang dia ingin lihat. Kegiatan ini dia sebut: ‘Lihat-lihat”

Awalnya google digunakannya untuk melihat landmark negara2 yang dia ketahui dari buku atlas Erlangganya. Lalu, dia mulai mencari segala sesuatu dengan Google! Termasuk tokoh-tokoh Alkitab yang dia kenal lewat buku ceritanya, misal: Anak perempuan Yairus, Rut, Yunus, dll. Hehehehe. Lalu jika Google menampilkan hasil yang beda dengan maunya dia, dia akan mengklaim bahwa Google salah :D Haduhhh…

Mengisi Hari-hari si Preschooler

Beberapa kali saya ditanya tentang bagaimana memulai homeschool. Dan, bagaimana untuk preschooler?

Kalau saya, pertama saya google semua informasi yang bisa saya dapatkan dari net. Lalu saya juga menghubungi para provider kurikulum meminta dikirimi katalog2 gratis. Setelah itu saya pelajari satu per satu sambil mencocokkan dengan budget.

Untuk preschool sebenarnya banyak bahan gratis di internet, bahkan untuk tingkat yang lebih tinggi sekali pun. Sebelumnya ortu harus tahu parameter/scope & sequence/skill list untuk anak2 usia ini. Tapi, tentu saja tiap anak berbeda, parameter itu hanya jadi semacam panduan. Daftar kemampuan apa saja yang sudah harus dicapai anak ini bisa didapat antara lain di buku yang memuat daftar : Slow and Steady Get Me Ready, terbitan Primamedia Pustaka (grup Gramedia), atau di internet, banyak kok.

Sebelum mulai menggunakan kurikulum jadi (tidak perlu bikin lesson plan, ada teacher manualnya), saya bisa menghabiskan waktu sampai 3-4 jam tiap malam, mencari bahan-bahan gratisan. Masukkan keyword ini di Google untuk mencari: (free) printable worksheet. Situs2 yang sering saya kunjungi:
- http://www.enchantedlearning.com/
- http://www.kidzone.ws/
- http://www.abcteach.com/
- http://www.tlsbooks.com/
dan banyak lagi…. silakan klik sendiri, aaand… have fun :)

Atau kalau ada budget, boleh juga beli buku2 lembar kerja yang banyak tersedia di toko buku. Saya punya beberapa dari Grasindo. Erlangga for Kids kayaknya juga lumayan, tapi harganya tidak murah :)

Dua situs di bawah ini menyediakan kurikulum gratis yang cukup lengkap. Tentunya usaha yang diperlukan lebih besar ketimbang yang berbayar. Paling tidak kita harus keluar kertas dan tinta printer sendiri.
1. http://www.letteroftheweek.com/
dibagi 5 kategori, dari Nursery – Primary :)
2. http://www.hubbardscupboard.org/
early childhood education – dari infant – kindergarten

Mau beli kurikulum tapi budget terbatas?
Di http://www.shirleys-preschool-activities.com/, seorang ibu bernama Shirley Erwee asal Afrika Selatan merancang sendiri kurikulum preschool ini, bisa dibeli dalam bentuk digital (ebook) US$22.00, atau cetakan (harga sama + ongkos kirim). Di webnya ada juga bbrp bahan yg bisa didownload gratis.

Ide ini mungkin bisa ditiru, patungan membeli kurikulum preschool lalu memperbanyaknya dengan fotokopi/scanner.

Untuk anak yang suka pelajaran interaktif, ada sebuah kurikulum online – menggunakan internet- dengan biaya terjangkau, http://www.time4learning.com/, mulai dari preschool, biaya $19.95 /bulan dengan tambahan biaya internet tentunya.

FYI, web satu ini juga memuat informasi yang cukup komprehensif untuk yang ingin memulai homeschool bersama anak-anak usia dini: http://www.early-years-homeschool.com, milik Indira Genowati, orang Indonesia yang tinggal di Amrik dan menghomeschool anaknya yang masih kecil2.

Semoga bermanfaat.

Homeschool, Mengapa?

Homeschool memang lagi booming. (Maaf, saya belum menemukan padanan yang paling tepat untuk kata homeschool, jadi untuk sementara kita anggap saja itu kata serapan ya).

Di mana-mana orang ramai membicarakannya. Di media massa mulai banyak diangkat topik ini. Apalagi dengan banyaknya para pesohor (baca: selebriti/selebritas) usia sekolah yang mengambil langkah ini agar sementara berkarir, sekolah jalan terus.

Seminar ini dan itu juga digelar. Kadang bahkan mematok harga yang cukup tinggi untuk sebuah topik semisal: “Peran Orangtua dalam Pendidikan”, yang menurut saya harusnya semua orangtua bisa dapatkan informasi ini tanpa harus bayar mahal.

Lembaga-lembaga penyelenggara homeschool juga mulai bermunculan. Tak heran jika ini dilirik sebagai peluang bisnis. Ada lembaga yang mematok biaya tertentu, uang pangkal, lengkap dengan absen, ujian, tak ada bedanya dengan sekolah biasa. Sehingga saya sendiri mulai bingung, apalagi orang-orang yang baru mau menjajaki homeschool.

Bagi saya, homeschool adalah sebuah pilihan pribadi, yang harusnya adalah keputusan pribadi tanpa terpengaruh pihak luar. Homeschool yang saya jalani saat ini adalah menyediakan diri mengakomodasi kebutuhan anak saya untuk belajar dan terus belajar hal yang baru.

Sebenarnya, proses homeschool sudah dimulai dari bayi. Bernyanyi buat dia, membacakan teks kitab suci, mengajari makan, berjalan, pipis di toilet sampai sukses tidak mengompol adalah ‘pelajaran’ awal dalam hidup si anak. Lalu proses itu berlanjut.

Jika sebagian besar orangtua mengirim anaknya ke sekolah untuk proses lanjutan, ada sebagian kecil yang memilih tetap menjadikan rumah sebagai basis belajar, walau tidak berarti lingkungannya hanya terbatas di rumah. Itulah sebabnya istilah sekolah rumah kurang tepat menggambarkan tentang homeschool.

Sekarang mari bicara dari sisi pandang konsumen. Di jaman ini konsumen mulai mengadakan riset sebelum membeli barang, misal dengan membaca review, tidak percaya begitu saja dengan produser.

Begitu juga saya, ketika belum mantap dengan homeschool, saya mencari sekolah terbaik, yang paling cocok dengan saya. Belum, sampai hari ini belum ada yang benar-benar sreg di hati. Sekolah alam pun yang paling dekat dengan pilihan saya, masih terasa mengganjal karena ada perbedaan prinsip. Sekolah yang agak mendekati prinsip saya, mematok harga yang bikin mata melotot. Lalu, sebagai konsumen, saya putuskan “mengusahakan sendiri”. Ibaratnya, orang yang memilih memasak rendang dengan bumbu bikinan sendiri ketimbang beli jadi atau pakai bumbu instan. Repot, ya, bisa salah, ya, puas, ya.

Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah salah satu cita pendiri republik ini. Jika saya belum dapat sekolah yang ideal, boleh kan saya buat sendiri dengan usaha sendiri? Menghabiskan berjam-jam di depan komputer, berusaha memperkaya diri dengan pengetahuan baru. Nongkrong di toko buku sambil membawa anak tiga tahun yang tidak bisa diam tanya ini tanya itu di setiap buku yang dia baca…. Saya belajar, dia belajar. Kami berdua (bertiga dengan bapaknya, berempat dengan adiknya) terus belajar.

Mmmm… sudah tahu kalau tidak semua ular bertelur? ;)

DIY – Book (Bikin Buku Sendiri)

Kurikulum yang saya pakai menggunakan metode Charlotte Masson, yang menggunakan buku beneran, bukan buku teks. Untuk itu mereka memberikan daftar bacaan yang bisa dengan mudah diakses oleh warga negara maju di perpustakaan tanpa mengeluarkan biaya tambahan (sudah dicover oleh pajak kan?).

Namun, bagi warga negara republik ini mendapatkan buku2 ini (berbahasa Inggris) jelas bukan pekerjaan yang mudah dan murah. Seperti kita tahu perpustakaan umum tidak mudah dijangkau, kelengkapan koleksi bacaan untuk anak usia dini juga agak saya ragukan. Selain itu saya juga agak ragu tempatnya bersahabat untuk anak-anak kecil.

Lalu saya mencoba mencari versi bekasnya lewat eBay. Tapi kemudian saya menyerah, karena buku2 tersebut harganya memang sangat murah tapi ongkos kirimnya luar biasa, dan tidak berada di satu tangan. Seandainya saja ada satu sumber yang menjual semuanya:)

Kemudian saya teringat sebuah project bernama gutenberg. Di sini kita bisa download buku-buku yang masa copyrightnya sudah habis di US, biasanya buku-buku klasik. Buku-buku karya Beatrix Potter misalnya. Saya mendownload semua dari Mrs Potter. Sayangnya mereka tidak menyediakan format PDF, hanya ada versi txt dan html. Saya memilih yang HTML, dan membuat sendiri versi PDFnya.

Misalnya untuk buku The Tale of Peter Rabbit:
1. Buka yang formatnya html dengan size 40KB. Halaman browser akan membuka file ini lengkap dengan gambar2nya. Bisa langsung disimpan atau diprint. Kalau saya memilih menyimpannya dalam bentuk PDF. Untuk ini harus punya PDF converter. Saya menggunakan Primo PDF, gratis.
2. Simpan dalam bentuk PDF. Dari browser pilih File-Print, ubah pilihan printer menjadi Primo PDF.
3. Kalau mau mengubah layoutnya agar sesuai dengan keinginan, gunakan Microsoft Word atau software untuk melayout buku. Saya sendiri menggunakan Adobe InDesign. Setelah selesai proses pewajahannya (layout), tinggal cetak. InDesign memungkinkan saya mencetaknya dalam bentuk bundel.
4. Buku selesai, tinggal dijilid sesuai keinginan.

Semoga bermanfaat

Preschool/Playgroup: Perlukah? (Pro Version)

Catatan: Preschool yang dimaksudkan di sini adalah lembaga bernama sekolah, bukan pendidikan usia dini itu sendiri.

Seorang ahli berpendapat bahwa manfaat terbesar preschool yang tidak didapat anak dari rumah adalah kesempatan berinteraksi dengan anak lain (baca: sosialisasi). Selain itu anak belajar mengatasi anxiety of separation dengan ibu/pengasuhnya dan belajar survive without parents.

Juga dikatakan, dengan melihat bagaimana anak lain melakukan hal-hal yang menantang, akan lebih memotivasi si kecil bahwa dia juga bisa.

Di beberapa negara bagian Amerika Serikat saat ini sudah mulai banyak universal preschool, yaitu preschool gratis untuk semua kalangan. Dikatakan bahwa yang memetik manfaat terbesar dari program ini adalah anak-anak yang dikategorikan beresiko, seperti anak dengan orangtua remaja, atau anak dari lingkungan berbahaya. Dengan catatan, preschoolnya adalah yang memiliki kualifikasi baik, kalau tidak akan memperparah kondisi si anak.

Sementara untuk urusan akademis, sebuah studi dari University of California menyebutkan, di kelas tiga SD, tidak ada perbedaan untuk anak yang bersekolah dari preschool maupun tidak, walaupun anak yang mengenyam pendidikan lebih awal ini lebih dulu bisa membaca ketimbang temannya.

Jika sudah diputuskan untuk menyekolahkan anak pada usia ini, pastikan mutu sekolah – mutu guru – jangan semata-mata karena kurikulumnya. Manfaatkan free-trialnya, seperti yang pernah saya lakukan. Ada anak yang lebih favorit. Sementara seorang anak laki-laki yang sedikit-sedikit menangis mendapat limpahan emosi ketidaksabaran gurunya: “No crying! I’ve told you so many times.” Very discouraging.

Jangan pernah kirim anak ke sebuah preschool karena tetangga juga begitu.

Pandangan saya pribadi, banyak hal yg preschool tawarkan, bisa diusahakan sendiri oleh orangtua. Stimulasi, kecintaan akan belajar, perilaku baik, budi pekerti, dan juga basic lifeskill. Kita tahu sendiri betapa tinggi preschool2 di Indonesia mematok biaya. Dan, kadang kita tidak puas dengan apa yang mereka berikan.

And remember, there are a lot of good choices, not just one.

Preschool/Playgroup: Perlukah? (Versi Kontra)

Di Asia, Indonesia khususnya (karena saya tinggal di sini) memasukkan anak sedini mungkin ke sekolah dianggap sebagai solusi terbaik agar anak bisa ‘belajar’ dari dunia luar. Saya bahkan kenal beberapa orang yang menyekolahkan bayinya yang bahkan belum lancar merangkak. Motivasi para orangtua ini macam-macam,

1. Daripada ditinggal sama pembantu, lebih baik mendapat ‘pendidikan’ atau main dengan terarah di lembaga-lembaga yang biasanya menetapkan tarif tidak murah.

2. Anak perlu bersosialisasi, bergaul dengan teman seusianya/

3. Merasa anaknya berbakat, lebih cerdas dari rata-rata usianya. Sepertinya semua orangtua merasa anaknya berbakat, bukan? :D

3. Ingin anaknya pintar, cepat berbahasa Inggris, Mandarin, dll.

Ketiga alasan yang disebut di atas ini, kemungkinan disebabkan karena dua faktor, orangtua tidak punya cukup waktu – bekerja misalnya, atau orangtua tidak cukup percaya diri mengajar anaknya.

Saya akan mengutip sebuah situs web di AS –  yang dengan cukup radikal mengemukakan beberapa alasan mengapa seharusnya kita tidak perlu mengirim anak kita ke Preschool/Playgroup (PG)/Kelompok Bermain (KB). Saya tambahkan komentar  dalam cetak miring.
1. Ketidakkonsistenan dalam penerapan disiplin. Anak akan terbelah antara sekolah dan rumah. Disiplin dilakukan sekolah biasanya agar tidak terjadi kericuhan, semua senang, semua tenang – paling tidak untuk sementara waktu. Sementara disiplin di rumah dilakukan ortu untuk membentuk kepribadian si anak. Kecuali semua peraturan di sekolah sama persis dengan di rumah.

2. Merenggangkan ikatan emosional ortu-anak. Anak-anak butuh mengekpresikan dirinya secara verbal dalam hubungan satu-satu, dengan orang yang tulus mengasihi dirinya, yang memang berminat betul padanya – siapa lagi kalau bukan ortunya. Lebih baik ia mendapat pujian, peluk, cium dari ortunya bukan? Di sekolah biasanya ada anak emas. Yang sikapnya manis, rajin, dan good-looking (ini beneran lho!) pasti mendapat perhatian khusus dari guru, juga mereka yang ekstra aktif. Lalu bagaimana dengan model anak yang biasa-biasa saja? Apakah mereka lantas tidak dapat perhatian dari gurunya?

3. Merenggangkan hubungan antar saudara.
Nanti, waktu si anak sudah besar, kecil kemungkinan ia masih mengingat teman2 preschoolnya. Namun, hubungan saudara ini kekal. Kakak dan adiklah orang2 terdekat yang bisa memberikan pertolongan saat ada masalah. Familiar kan? Setiap kali ada masalah, kita lebih cari teman ketimbang ortu n saudara, karena hubungan ini tidak terbangun. Tapi, bagaimana dengan anak tunggal ya?

4. Tekad ibu untuk mendidik, mengajar anaknya sendiri bisa terdistorsi, bahkan untuk yang mau homeschool sekalipun. Dengan kepergian anak selama beberapa jam, ibu yang ada di rumah akan menganggur, dan mungkin akhirnya kembali bekerja. Lalu, ia mendapati anaknya sudah terlatih pipis sendiri, sudah kenal warna, angka, huruf, bahkan membaca. Betapa ringannya tugasnya sekarang… Padahal di sini lain, ibu jadi kehilangan keyakinan bahwa ia bisa mengajarkan hal2 dasar ini pada anaknya. Setelah mengajar sendiri anak saya, dan dia sekarang sudah mulai membaca kata2 pendek (2 suku kata) saya jadi pede sekali. Ternyata, tidak perlu sekolah guru untuk itu ya.

6. Anak yang masih kecil akan terekspos dengan sikap destruktif anak lain. Bahkan di sekolah berbasis agama, Kristen sekali pun, ada anak yang di rumahnya bebas menonton TV, terekspos dengan pornografi, biasa mendengarkan makian, dan hal2 lain yang kita tidak ingin anak kita tahu pada usia sedini ini. Saya pernah mendengar anak berusia 2-3 tahun berkata pada temannya, “Ada hantu. Hiyyy..”
Apa pendapat anda jika anak anda kemudian beberapa malam bermimpi buruk, ketakutani? Atau suatu hari anak KB anda berkata, “Sialan Mami! Bego Mami! atau lebih parah lagi: Mami, f*ck you.”
Sayang bukan, padahal kita sudah berusaha menciptakan lingkungan yang positif untuk anak kita. Tidakkah terlalu dini baginya, dia baru berumur errr… dua atau tiga tahun?

7. Sekolah memberikan diagnosis tidak akurat. Tiba-tiba sekarang banyak anak yang dicap ADHD dan berbagai label masa kini. KB bersama para pakar pendidikan memposisikan diri sebagai pihak yang berhak menghakimi anak anda. Lebih baik berikan dia dukungan emosional, kasih tak bersyarat. Jika anda punya bayi, batita, balita, andalah homeschooler. Proses ini sudah dimulai ketika bayi lahir dan akan terus berlanjut. Anda yang mengajarkan si bayi bernyanyi, membaca buku untuknya, bermain dengannya bukan? Atau… orang lain?

Tidak adil jika tidak memberikan versi pro-nya. Akan saya teruskan di posting berikut.

Arti Homeschool Buat Saya

Seperti yang saya ceritakan di posting2 awal, saya memang sempat on-off-on-off dalam kepastian menghomeschool Joel. Namun setelah dijalani, benar kata teman saya, ada kasih karunia.

Tipe tidak sabaran? Tidak punya latar belakang pengajar? Takut anak kekurangan sosialisasi? dan alasan-alasan lain biasanya jadi dasar keraguannya.

Sebuah pertanyaan menjadi bahan perenungan saya. Mengapa orang yang sama, yang mengajar anak kita berdiri, tepuk tangan, toilet training, memegang sendok, harus meragukan kemampuannya untuk mengajar anaknya sendiri?

Guru, sehebat apa pun dia, tetap orang luar. Dia tidak berada di dalam rumah, sehingga dia tidak punya perspektif yang sama dengan kita. Saya tidak bilang sekolah itu buruk, tapi, maksud saya di sini homeschool pun tidak kalah kualitasnya. Apalagi si pendidik (biasanya ibu) pasti punya hati untuk memberi yang terbaik buat anaknya, dan nilai tambah lain, ibu bisa menyesuaikan gaya belajar anaknya tanpa mengganggu kepentingan umum.

Jika masalah akademis yang kita takutkan.. ada begitu banyak kurikulum di luar sana yang membuat kita bisa jadi ‘guru’. Pegangan ortu ini sangat akan sangat membantu, karena biasanya sudah ada lembar jawabannya. Nah, masalah bagaimana caranya anak menemukan sendiri jawabannya, itu yang jadi tantangan.

Pernah tidak mengalami saat kita sudah sedewasa ini, ketika kita punya sebuah pertanyaan yang tak terjawab dan kita mencoba mencari tahu. Seperti saya jika ada kata yang tidak saya mengerti, saya akan panggil Mr. Google, atau tanya2 orang. Itulah yang disebut proses menemukan jawaban. Itu, yang ingin saya ajarkan kepada anak saya.. punyalah rasa ingin tahu, dan mama akan bantu kamu mencari jawabannya dengan menyediakan fasilitas2 spt buku, internet, dll. Si mama sendiri tentu harus tak henti2nya memperkaya diri agar tidak ketinggalan dengan anaknya. :)

Homeschool selain membuat saya tambah ‘pintar’, membuat Joel bisa tetap mengajukan 101 pertanyaan, bisa main dengan mobil2annya, bisa istirahat jika capek, bisa lari sana lari sini sambil bawa pensil warnanya, dst.