Joel's  book recommendations, reviews, favorite quotes, book clubs, book trivia, book lists

Belajar Lagi

Salah satu manfaat homeschool bagi si pendidik (atau home educator) adalah dia bisa belajar lagi.

Setelah lama tamat dari sekolah, banyak sekali pelajaran yang sudah saya lupakan, dan otak jadi mulai tumpul. Nah, benar juga kata Andrias Harefa , STTB itu benar-benar sebuah kutukan. Kutukan untuk tamat belajar :D

Saat lulus dari sekolahnya, pelajar-pelajar kita punya tradisi meluapkan sukacitanya dengan corat-coret seragam. Beberapa mungkin lega luar biasa karena tidak perlu belajar lagi. Seperti saya, yang luar biasa senangnya tidak perlu menghapal rumus-rumus kimia. I hate chemistry, till now.

Juga ketika dinyatakan lulus sebagai sarjana komputer dari sebuah universitas di Jakarta… Bahagianya tidak bertemu pelajaran-pelajaran nan rumit yang bikin otak saya melilit.

Lucu ya kalau dipikir-pikir. Kita kan bayar untuk sekolah dan biayanya tidak sedikit. Tapi, walau tidak merasa senang dengan apa yang kita beli, dan tidak semuanya bermanfaat, kita tidak berbuat apa-apa selain menjalani dengan terpaksa. Mungkin karena selembar kertas bernama sertifikat, ya si STTB itu.

Back to topic :D , toh tidak akan mengubah apa-apa dengan mengeluh seperti ini.

Untuk mengajar Joel hal-hal dasar, saya mengunjungi banyak situs. Luar biasa, ternyata sangat banyak resource di dunia maya ini. Yang gratis pun tak terkira banyaknya. Tugas saya hanya mengumpulkan dan memilah-milahnya.

Yang pertama, membaca. Saya bukan jenis orangtua yang ingin anaknya bisa ini bisa itu di usia muda. Tapi, hendaknya kita juga bijak mengenali kebutuhan anak kita. Untuk kasus saya, Joel sudah sangat mature untuk diajari membaca. Dari usia dua tahun dia sudah hapal alfabet, dan sangat ingin membaca semua tulisan yang dia lihat, khususnya yang berhubungan dengan mobil.

Saya pun googling bagaimana mengajar anak membaca dengan metode phonic. Sempat takut dan gentar. Mengajar membaca apalagi bahasa Inggris, jelas bukan pekerjaan mudah. Apalagi untuk orang yang tidak punya latar belakang mengajar seperti saya. O ya, alasan saya mengajarnya membaca dalam bahasa Inggris karena nanti saya akan menggunakan kurikulum berbahasa Inggris, jadi Joel setidaknya harus bisa bahasa Inggris pasif. Butuh usaha dari saya.

Kedua, matematika. Jangan bayangkan matematika yang susah-susah ya. Yang dimaksud matematika untuk anak playgroup/preschool itu adalah konsep matematika sederhana. Membandingkan, berhitung dalam urutan, berhitung mundur, menghitung jumlah, sampai penjumlahan sederhana.

Ketiga, mencari aktivitas yang menyenangkan dan dapat menstimulasi si preschooler . Untuk membuatnya sibuk, berarti saya harus mempelajari tahap-tahap perkembangan si anak, sejauh mana motorik kasar, motorik halus, mental dan intelektualnya telah berkembang.

Lihat, saya belajar banyak hal yang tidak saya ketahui sebelum ini. Menjadi ibu yang ada di rumah (baca: Ibu Rumah Tangga) tidak berarti kita jadi orang yang terhenti pengetahuannya kan? Justru sekarang saya punya kesempatan belajar yang buanyak. Jika dulu hanya bisa baca headline dan beberapa artikel pilihan, sekarang saya bisa baca koran sampai habis, termasuk cerita bersambungnya, hehehe. Pendek kata, saya terus memperkaya diri tiap hari.

Anak usia preschool sedang mengembangkan kecintaannya akan belajar, mereka menyerap hal baru setiap saat, dan sangat bergairah olehnya. Tugas saya adalah tidak mematikan hasrat belajarnya ini, salah satunya dengan mengakomodasi semua pertanyaan yang aneh-aneh.

Harapan saya, Joel akan terus ‘suka’ belajar, tidak seperti saya dulu yang belajar hanya kalau ada ulangan. Dan, rumah adalah tempat terbaik untuk memulai kecintaan akan belajar ini.

The Home(pre)school Begins

Sekarang Joel umur tiga tahun. Hampir semua orang bertanya dia sekolah di mana. Terus terang saya agak risih dengan pertanyaan itu dan capek juga menjawabnya, walaupun kebanyakan pertanyaan itu adalah basa-basi.

Saya dan Pampi dari dulu sudah mempertimbangkan yang namanya homeschool. Maka saya pun mencari berbagai informasi tentang ini, termasuk bergabung dalam milis homeschool. Di rumah pun ada beberapa katalog curriculum provider, semuanya Christian-based dan dari US. Ada yang model sekolah jarak jauh, jadi ortu melakukan korespondensi dengan si sekolah/akademi itu, ada juga yang sepenuhnya dikelola oleh si ortu sendiri, dari record keeping sampai evaluasi. Tentang kurikulum ini akan saya tuliskan di posting berikut.

Awalnya saya masih on-off tekad homeschoolnya. Yang agak saya kuatirkan adalah bisakah saya mengajarinya membaca, menulis. Lalu bagaimana akreditasinya selain juga sedikit masalah kekuatiran sosialisasi. Saya sempat survei ke beberapa playgroup, namun langsung mengurungkan niat begitu melihat suasana sekolah atau mendengar biaya yang mereka pasang. Dengan anak satu, sebenarnya kami bisa saja mengusahakan uang sekolah yang berkisar 500-800 ribu itu (belum termasuk uang pangkal 3jt-12jt sampai lulus TK). Tapi kalau dipikir-pikir, sebanding tidak pengeluaran kita dengan apa yang kita dapat. Lagipula saya tidak mau Joel dijejali pelajaran-pelajaran yang tidak perlu di usia bermainnya ini.

Pertengahan Juli lalu, saya memantapkan tekad, memulai home(pre)school ini dengan lebih teratur. Tadinya kami tidak punya waktu belajar tetap. Tujuan waktu belajar terjadwal ini tidak lain hanya agar Joel mengerti tentang rutinitas. Di luar jam belajar tetapnya ini, tentu saja dia boleh belajar kapan saja. Harap diingat, anak preschool itu hidupnya adalah untuk belajar, dia belajar apa saja, kapan saja, di mana saja.

Saya menggunakan buku Slow & Steady Get Me Ready (Grasindo), buku-buku aktivitas terbitan Grasindo lain yang saya beli pas sale; bahan pengenalan matematika dari US Education Dept – untuk preschool tentu; lembar kerja gratisan (tinggal print) dari beberapa situs. Beberapa di antaranya: firstschool, AtoZ Kids Stuff dan banyak lagi. Saya juga download beberapa lesson plan, Core Knowledge dan Fun Lesson Plans; ini beberapa yang saya jadikan acuan. Tidak lupa saya cari Bible activities juga, kebanyakan gambar-gambar untuk diwarnai. Juga beberapa minibook untuk dijadikan bahan bacaan.

Itu hanya beberapa yang saya pakai. Memang agak repot, mencari, mengumpulkan, mensortir, mencetak, mengemasnya supaya lebih cantik, tapi sejauh ini saya nikmati kerepotan ini. Menjadi seorang ibu dan pendidik tentunya harus mau repot, kan bukan single lagi. :)

Setelah berjalan beberapa waktu ini, rasanya saya tidak akan mundur lagi. Joel yang aktif ini, terlihat sangat menikmati learning-with-mommy ini. Dia berdoa sebelum waktu rutin dimulai. Lalu dengan semangat mengerjakan ‘tugas-tugas’nya. Saya melihat perkembangan yang sangat berarti buat saya. Dia mulai membaca, juga sekarang sudah bisa menulis namanya sendiri. Siapa yang mengajar? Mama. Ternyata selain mewarnai dan menyanyi (yg saya lebih PeDe ngajarnya) saya bisa mengajar Joel baca, bisa mengajar Joel menulis. Bukan apa yang dia capai yang terpenting, tapi perkembangannya itu yang menambah ke-PeDe-an saya. Whoa, now I know what a mom can do :d. Dengan confident saya bisa bilang, home is the place to nurture this young mind.