![report card[1]](http://homeschool.chosenlight.com/wp-content/uploads/2010/01/report_card1.gif)
Tiga hal yang saya sebut di atas bagi sebagian institusi (juga orang-orang tertentu) adalah segala-galanya.
Seringkali ortu mundur dari keinginan untuk melakukan homeschool karena bayang-bayang kekuatiran akan ketiadaan ijasah anaknya. Apakah anak saya bisa diterima di univ? Bagaimana jika sewaktu-waktu kami ingin kembali ke sekolah? Tanpa adanya rapor dan ijazah sepertinya agak mustahil ya?
Untuk masalah ijazah, kita bisa memanfaatkan pilihan ujian paket A/B/C yang diselenggarakan oleh pemerintah kita. Selain itu ada juga ujian berskala internasional seperti yang diadakan oleh lembaga terhormat dari Inggris University of Cambridge International Examinations (CIE), atau ujian ala USA yaitu SAT reasoning, dan lain-lain. CIE, SAT punya perwakilan di Indonesia, jadi ujiannya bisa dilakukan di sini. Ya, kira-kira seperti TOEFL atau IELTS.
Ujian paket mewajikan adanya ijazah dari jenjang sebelumnya untuk mengambil ujian jenjang berikut, misal untuk ikut ujian paket B, harus ada ijazah SD, demikian seterusnya. Selain itu juga ada batasan umur minimum. Berbeda dengan ujian standarisasi internasional yang bisa diambil kapan saja, usia berapa saja. Biaya ujian bisa dilihat di website masing-masing. Yang pasti, jauh lebih terjangkau daripada menyekolahkan anak di sekolah internasional atau sekolah nasional plus atau swasta sekali pun.
Bagaimana dengan rapor?
Rapor sebenarnya hanya dibutuhkan jika HS bubar di tengah jalan
. Tidak tertutup kemungkinan juga ada sekolah yang mau menerima anak HS tanpa rapor asal lulus tes yang mereka adakan.
Namun, untuk ketenangan batin, sebagian orangtua merasa lebih afdol jika anaknya punya rapor, ada pihak lain yang menilai hasil pekerjaan anaknya — walaupun harusnya orangtua HS inilah yang paling tahu seberapa jauh pemahaman anaknya akan sebuah subyek.
Beberapa ortu memilih opsi distance learning (sekolah jarak jauh) yang akan memberikan layanan konsultasi, kurikulum, assigned teacher, grading service, dll. Semua aman terkendali karena ada korespondensi, ortu wajib melaporkan perkembangan anaknya ke pihak sekolah di tempat yang nun jauh di sana. Nanti pihak sekolah akan mengeluarkan transkrip nilai dan diploma (ijazah). Biayanya cukup tinggi, jutaan sampai puluh juta, karena sudah termasuk materi ajar.
Nah, saya menemukan setidaknya dua lembaga di USA yang bisa memberikan grading service, record maintaining, bahkan counseling dengan harga sangat terjangkau ($50-75/thn).
Homelife Academy dan Crossroads Christian School dua-duanya berspirit kristiani, memberikan layanan juga untuk keluarga yang tinggal di luar US. Saya duga ini karena awalnya cukup banyak pelaku HS yang adalah misionaris atau bekerja di sektor militer, mereka ingin anak mereka mendapat pendidikan model US namun tidak mungkin didapatkan di negara tempat mereka ditugaskan. Namun, baik HLA maupun CCS melayani juga keluarga-keluarga yang bukan warga negara Amerika Serikat.
Orangtua bebas memilih kurikulum apa pun yang dia suka, mau dicampur juga boleh, unschooling pun monggo. Ada sedikit paperwork, orangtua diharapkan bisa memberikan laporan pekerjaan anaknya minimal dua kali setahun.
Saya berencana mendaftar di Homelife Academy untuk tahun ajaran mendatang, walau sebenarnya kami tidak ikut tahun ajaran mana-mana. Semoga saya bisa lebih tenang dalam berHS.
GBU.
Posted: January 7th, 2010 under sidenote.
Comments: 8